Penghuni Baru Museum Zoologi Unand, Si Belang nan Langka dari Hutan Sumatera

Artikel
Penghuni Baru Museum Zoologi Unand, Si Belang nan Langka dari Hutan Sumatera
Aktivitas, Kehutanan, Lain-lain, Satwa
100
29 Juli 2022
Universitas Andalas
Penulis
Ahmad Fakhri
1
posting

Pada tanggal 9 Juni 2022 lalu, masyarakat dan pengamat konservasi Sumatera Barat dikejutkan dengan penemuan seekor Kelinci Belang Sumatera (Nesolagus netscheri) oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Saniangbaka, Kecamatan X Koto, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kelinci tersebut ditemukan di sekitar semak-semak hutan dengan kondisi tubuh yang kurang sehat dan penuh dengan caplak. Kelinci tersebut kemudian diserahkan kepada Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah III Sijunjung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, untuk dievakuasi dan dilakukan perawatan intensif di Yayasan Kalaweit pada 11 Juni 2022.

 

Penemuan Kelinci Belang Sumatera oleh Pokdarwis Saniangbaka. Dok. BKSDA Sumbar

 

Sebelumnya kelinci ini sudah mendapatkan perawatan oleh dokter hewan di Solok untuk penanganan pertama, lalu diteruskan ke Yayasan Kalaweit untuk perawatan lebih lanjut. Namun,  pada tanggal 12 Juni 2022 pukul 07.30 WIB  kelinci tersebut mengalami syok dan kejang-kejang dan akhirnya mati pada pukul 12.30 WIB. Tim medis Yayasan Kalaweit pun melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab pasti kelinci belang sumatera ini. Berdasarkan hasil nekropsi diketahui kematian kelinci tersebut diakibatkan oleh infeksi luka pada bagian punggung, anemia, dan stress.

 

Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) dikenal juga dengan kelinci telinga pendek sumatera merupakan kelinci liar bertubuh kecil dengan panjang sekitar 40 cm. Seperti namanya kelinci ini berwarna abu-abu bercorak garis-garis hitam dan kecoklatan, ekor berwarna merah, perut berwarna putih, dan bertelinga pendek. Sangat berbeda dengan kelinci umumnya yang identik dengan telinga panjang. Kelinci ini diketahui merupakan spesies endemik dari Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera. Meski demikian, kelinci belang sumatera sangat langka karena sulit dijumpai.

 

Proses skinning kelinci belang sumatera yang sudah mati oleh Team Verteb. Dok. Islami Annisa

 

Kelinci belang sumatera yang termasuk dalam spesies dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi ini sangat jarang dijumpai bahkan pada habitat aslinya. Berdasarkan penelitian kelinci belang sumatera pertama kali terekam di Taman Nasional Gunung Leuser Aceh tahun 1972. Berbagai penelitian setelahnya menunjukan kelinci belang sumatera hanya ditemukan di daerah sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Namun, pada Agustus 2021 lalu kelinci langka itu ditemukan di dekat Taman Nasional Kerinci Seblat. Dan penemuan terbaru pada 9 Juni 2022 di Saniangbaka, Kabupaten Solok menunjukan potensi adanya kelinci belang sumatera di hutan Sumatera Barat.

 

Menurut IUCN RedList, spesies ini memiliki status konservasi dengan kategori DD (Data Deficient). Kategori Data Deficient (DD) memiliki arti “Kekurangan Data”, yaitu masih minimnya penelitian ilmiah mengenai studi populasi, ekologi maupun upaya konservasi yang tepat untuk spesies ini. Oleh karena itu, penemuan kelinci ini memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk dapat menggali lebih banyak informasi mengenai spesies langka ini.

 

Kelinci belang sumatera yang telah mati dikeluarkan dari pendingin Laboratorium Genetika dan Molekuler. Dok. M. Ryan Maulana

 

Namun, kematiannya memberikan duka mendalam bagi dunia konservasi, karena belum sempat dilakukan observasi dan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh informasi yang lebih banyak. Dalam hal ini Jurusan Biologi Universitas Andalas turut andil melakukan penelitian ilmiah secara genetik dan morfologis. Kajian genetik melalui analisis DNA sampel darah dan organ dalam, serta pembuatan spesimen fisik dari kelinci untuk kajian morfologi. 

 

Penelitian secara genetik akan dilakukan di Laboratorium Genetika dan Molekuler, pembuatan spesimen tulang di-handle oleh Tim Spesimen Tulang Jurusan Biologi dan pembuatan spesimen kulit dilakukan oleh tenaga ahli dari Tim Verteb Museum Zoologi yaitu Heru Handika M.Sc. Heru Handika, alumni Biologi Unand yang sedang program S3 di Louisiana State University, Amerika Serikat, memimpin pembuatan spesimen kulit. Spesimen tersebut akan dijadikan sebagai bagian dari koleksi dari Museum Zoologi. 

 

Spesimen kulit yang ditempatkan di Museum Zoologi Biologi UNAND. Dok. Ahmad Fakhri

 

Museum Zoologi (Muzo) merupakan sarana untuk kepentingan penelitian, dan pengabdian bagi seluruh mahasiswa jurusan Biologi Unand baik mahasiswa baru, pra-penelitian/penelitian, maupun mahasiswa tugas akhir. Selain itu, laboratorium ini dapat digunakan oleh dosen atau institusi lain yang ingin melakukan penelitian dan identifikasi hewan. Muzo memiliki beberapa misi yaitu melaksanakan pengumpulan dan pendokumentasian keanekaragaman hewan tropis untuk mendukung praktik dan penelitian taksonomi hewan dan memberikan pelayanan identifikasi dan deskripsi satwa bagi pihak lain yang berkepentingan.

 

Pembuatan spesimen merupakan tindakan dalam pembentukan aset ilmiah yang penting untuk penelitian di masa depan. Terutama untuk hewan-hewan yang sulit ditemui, adanya spesimen ini sangat membantu dalam melakukan kajian ilmiah serta keberlangsungan hidup spesies tersebut yang ada di alam. Sebagai miniatur ekosistem dunia Indonesia memiliki berbagai spesies unik yang belum dikaji namun berada dalam ancaman. Oleh karenanya, diharapkan adanya spesimen kelinci belang sumatera dan hasil analisis genetiknya dapat menjadi database untuk kepentingan konservasi berkelanjutan dan kepentingan ilmu pengetahuan di masa mendatang. Serta sebagai media pembelajaran dan penelitian oleh mahasiswa Biologi Universitas Andalas khususnya.

 

Ditulis oleh Ahmad Fakhri, Dela Lidia, Zulia Nur Syahbani (Biologi, 2019) dari Museum Zoologi Biologi UNAND

5
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *