Penghubung Kamchatka Rusia Hingga Yogyakarta Indonesia

Artikel
Penghubung Kamchatka Rusia Hingga Yogyakarta Indonesia
Aktivitas, Kelautan, Perubahan Iklim, Satwa
129
12 Oktober 2020
Al-Azhar Cairo Islamic School Yogyakarta
Penulis
Rahmadiyono Widodo
43
posting

Pagi yang cerah di tanggal 15 November 2017 menemani perjalanan saya menuju muara sungai Progo Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengamati burung. Sesampainya di lokasi, saya memasang monokuler pada tripod milik Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) sembari menunggu kawan. Bidikan langsung saya arahkan pada sekelompok burung pantai yang aktif mencari makan. Saya pindai secara perlahan untuk mengidentifikasi jenis apa saja yang ada. Dari hasil identifikasi, kelompok tersebut terdiri dari tiga jenis burung yaitu kedidi besar (Calidris tenuirostris [italic]), kedidi merah (Calidris canutus [italic]), dan biru-laut ekor-hitam (Limosa limosa [italic]). Burung kedidi besar mendominasi kelompok dengan jumlah belasan individu. Dari belasan individu yang ada, perhatian saya langsung tertuju pada satu individu yang paling berbeda. Bukan perbedaan dari morfologik tubuhnya, tetapi pada bendera warna yang ada pada kaki kirinya.

 

sekelompok burung pantai, foto oleh R. Widodo

 

burung kedidi besar dengan bendera warna, foto oleh R. Widodo

 

Bendera warna adalah salah satu marking atau penandaan yang umum diberikan pada burung yang bermigrasi. Salah satu tujuan pemberian bendera warna ini adalah untuk mengetahui tujuan atau rute migrasi burung yang ditandai. Bendera warna umumnya terdiri dari satu warna tunggal atau dua warna gabungan yang menunjukkan kode negara atau pulau di mana burung ditandai. Teramati dua bendera warna pada kedidi besar yang saya amati yaitu hitam pada bagian atas dan kuning di bawahnya.

 

contoh susunan bendera warna, foto oleh WAG BurungMigrasi

 

Kelompok burung yang saya amati semakin aktif mencari makan hingga beberapa individu membenamkan kepalanya dalam air sungai. Pada saat burung pantai aktif mencari makan, perhatiannya pada lingkungan sekitarnya menjadi berkurang. Momen seperti ini dapat dimanfaatkan untuk mendekati mereka sehingga mendapatkan ciri-ciri morfologik yang lebih detail atau foto yang lebih jelas. Saya mencoba untuk mendekat, terutama mencari individu yang memiliki bendera warna. Setelah lebih dekat, terlihat pada bendera warna kuning tertulis kombinasi huruf “PU”. Adanya kombinasi huruf yang mungkin adalah sebuah kode ini menjadikan saya semakin serius dalam mengamatinya. Tanpa saya sadari, kawan saya telah sampai di tepian muara. Saya langsung memberi tahu padanya keberadaan kedidi besar berbendera warna. Sembari mengamati burung, kami berdua berdiskusi yang intinya bertanya dari mana kedidi besar ini berasal.

 

Foto kedidi besar dengan bendera warna akhirnya saya bagikan di dua grup whatsApp pengamat burung. Pada satu grup, Iwan “Londo” Febrianto -ahli burung pantai dan seorang bander (pencincin burung)- merespon kiriman saya dan akan menanyakan pada grup facebook para pencincin burung lintas negara. Sembari menunggu informasi, saya diminta untuk melaporkan perjumpaan burung berbendera tersebut kepada Indonesia Bird Banding Scheme (IBBS). IBBS yang berada dalam naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merupakan otoritas keilmuan yang mengatur dalam pencincinan atau panandaan burung di Indonesia. IBBS juga berperan dalam menerima dan mengkomunikasikan temuan burung bercincin/berbendera di Indonesia kepada otoritas serupa di luar negeri. Email dilengkapi formulir pelaporan saya kirimkan ke IBBS. Respon cepat diberikan oleh ibu Dewi M. Prawiladilaga -salah satu ornitolog Indonesia- pada kiriman saya.

 

Tidak sampai 24 jam berselang, Iwan “Londo” menginformasikan kepada saya jika burung kedidi besar berbendera warna hitam-kuning dengan kode “PU” tersebut berasal dari Semenanjung Kamchatka Rusia yang ditandai oleh bander bernama Dmitry Dorofeev sebelum musim migrasi 2017 berlangsung. Kami kemudian saling berkirim email untuk memperjelas informasi perjumpaan burung kedidi besar berbendera. Saya pada waktu itu betul-betul tidak menyangka, hanya karena melihat burung yang ukurannya tidak lebih dari 30 cm itu menjadikan saya terhubung dengan berbagai orang dan bahkan ahli seperti Iwan “Londo” dan ibu Dewi hingga Dmitry dari Rusia. Setelah proses penyampaian informasi selesai, saya menjadi penasaran pada burung kedidi besar dan berapa jarak yang mereka tempuh dari kawasan berbiaknya di Semenanjung Kamchatka Rusia sampai di Yogyakarta Indonesia.

 

jarak yang ditempuh dari Kamchatka – Yogyakarta jika tidak melalui Sungai Kuning Cina mencapai sekitar 8.500 km, dokumentasi menggunakan google maps

 

Burung kedidi besar yang juga disebut Great Knot adalah salah satu burung pantai bermigrasi dari famili Scolopacidae. Jenis ini berbiak di kawasan Paleartic Timur Laut dan melakukan migrasi ke kawasan tropis seperti Indonesia hingga Australia. Migrasi mereka lakukan untuk menghindari tekanan musim dingin yang terjadi di wilayah berbiaknya. Musim dingin membuat sumber makanan mereka menghilang, sehingga agar tetap bertahan hidup harus mencari makan di daerah yang lebih hangat. Migrasi burung kedidi besar dan juga burung pantai lainnya termasuk dalam migrasi jarak jauh. Jarak yang ditempuh dapat mencapai belasan ribu kilometer. Burung dewasa bermigrasi lebih awal, meninggalkan anakan/juvenile di kawasan berbiak (breeding site). Selang beberapa minggu, anakan yang menjadi remaja (immature) terbang bermigrasi. Meskipun tanpa burung dewasa, burung remaja tetap dapat bermigrasi menuju kawasan tropis karena rute terbang sudah tertanam dalam gen mereka atau bisa dikatakan innate. Burung-burung yang bermigrasi tersebut biasanya akan sampai di wilayah tropis seperti Indonesia pada bulan September dan akan tinggal sementara hingga bulan Februari.

 

Berkaitan dengan status konservasi, burung kedidi besar memiliki status Endangered atau genting. Populasinya menurun sampai 77.8% pada 22 tahun terakhir (Lee et al, 2018). Sejatinya tidak hanya jenis ini yang mengalami penurunan populasi hingga terancam punah, banyak jenis burung bermigrasi lainnya yang mengalami nasib yang sama. Bahkan salah satu jenis paling mengkhawatirkan adalah kedidi paruh-sendok (Eurynorhynchus pygmeus [italic]) yang berstatus Critically Endangered, satu level sebelum dinyatakan punah di alam. Populasi globalnya diperkirakan hanya tersisa 360-600 individu (Lee at al, 2018). Kenapa burung bermigrasi dapat menurun populasinya bahkan beberapa jenis kritis menuju punah seperti kedidi paruh-sendok? Banyak faktor atau penyebab yang menjadikan populasi mereka menurun, seperti rusaknya lahan basah, perburuan, pembangunan tidak ramah lingkungan, hingga climate change atau perubahan iklim. Penyebab penurunan populasi tersebut tidak hanya terjadi pada kawasan berbiak saja, tetapi juga pada area tujuan migrasi termasuk Indonesia.

 

rusaknya lahan basah menjadi salah satu ancaman burung bermigrasi, foto oleh R. Widodo

 

perburuan burung pantai, dari atas ke bawah: berkik kembang besar (penetap), kedidi leher-merah (migrasi), trinil semak (migrasi), foto oleh Zulqarnain A.

 

Burung yang bermigrasi dapat menyukseskan migrasinya ketika dapat mencapai area tujuan migrasi dengan selamat dan kembali ke area berbiak dengan selamat pula. Tentu hal tersebut sangat bergantung pada kondisi habitat yang baik dan perlindungan yang menyeluruh mulai dari kawasan berbiak hingga area tujuan migrasi. Keberadaan burung bermigrasi yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara tidak langsung menjadi perantara kita sebagai manusia untuk saling terhubung, baik dalam pemantauan, penelitian, hingga perlindungan. Lalu, bagaimana kita sebagai manusia dapat melindungi mereka? Jawabannya adalah berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

 

seorang pencincin burung sedang menyiapkan cincin burung, foto oleh Jogja Birdbanding Club

 

Saat kita memiliki posisi sebagai pihak yang menentukan perlindungan kawasan, misalnya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dapat mengusulkan suatu area untuk dijadikan situs Ramsar. Situs Ramsar ini bertujuan untuk konservasi lahan basah yang baik dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Saat ini di Indonesia terdapat 7 situs Ramsar mulai dari Taman Nasional Berbak-Sembilang di Sumatera hingga di Taman Nasional Wasur Papua. Dalam penentuan situs ini, perlu untuk terhubung dan berdiskusi dengan para ahli dunia sehingga penetapan kawasan dapat tepat sasaran. Hasil lainnya setelah kawasan dilindungi, burung bermigrasi yang menggunakan kawasan tersebut dapat terlindungi pula.

 

Selain melindungi suatu kawasan, dapat pula melindungi langsung pada jenis burung yang bermigrasi, sehingga di mana pun burung tersebut berada pada wilayah suatu negara, ia akan tetap dilindungi. Pihak yang berwenang seperti KLHK tentu tidak bisa bergerak sendiri dalam menentukan jenis mana yang sebaiknya diprioritaskan dan mana yang dapat “ditunda”. Untuk menetapkan perlindungan jenis, lagi-lagi perlu saling terhubung atau terkoneksi. Pemerintah perlu dan bahkan wajib menggandeng ahli-ahli lapangan, akedimisi, non-govermental organisation (NGO) hingga pengamat burung untuk menghasilkan keputusan yang bijak.

 

Berbicara tentang pengamat burung, baik yang perorangan maupun kelompok juga memiliki andil besar dalam perlindungan burung bermigrasi. Pengamat burung sebagai mata utama yang mengetahui kondisi terkini lapangan dapat memberikan informasi kepada pihak dalam negeri maupun luar negeri secara langsung. Bergerak lebih jauh, pengamat burung juga saling terhubung dalam mengedukasi masyarakat terkait pentingnya perlindungan burung bermigrasi.

 

pengamat burung, garda depan konservasi burung, foto oleh R. Widodo

 

mengunggah hasil pengamatan dalam ebird menjadikan pengamat burung terhubung lintas negara, dokumentasi oleh R. Widodo

 

para pengamat burung yang sedang mengedukasi anak-anak terkait burung migran, foto oleh R. Widodo

 

Masyarakat umum yang notabene bukan pengamat burung, akademisi, atau pihak yang berwenang menetapkan peraturan perlindungan juga dapat terhubung dan terlibat dalam perlindungan burung bermigrasi. Caranya adalah dengan menikmati kedatangan burung bermigrasi dengan ramah, tidak memburunya, dan membiarkan mereka melangsungkan siklus migrasi dengan sempurna setiap tahunnya.

 

seorang anak sedang mencari dan mengamati burung pantai migrasi, foto oleh R. Widodo

 


Daftar Pustaka:

Colston, Peter and Philip Burton. 1988. Waders of Britain and Europe. Jersey: Domino Books Ltd.

Lee, Who-Sin et al. 2018. Field Guide to The Waterbirds of ASEAN. Republic of Korea: HS Ad Inc.

Message, Stephen and Don Taylor. 2007. Waders of Europe, Asia, and North America. London: A&C Black Publishers Ltd.

https://www.ramsar.org/wetland/indonesia diakses pada 12 Oktober 2020.

Cornell Lab Video-https://youtu.be/N74zn7bCpq8

 


Catatan:

Nama latin pada post ini pada beberapa device mungkin tidak akan terlihat tercetak miring/italic.

1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *