Melacak Para Migran: Dari Panah Afrika hingga Satelit Antariksa

Artikel
Melacak Para Migran: Dari Panah Afrika hingga Satelit Antariksa
Satwa
61
12 Oktober 2020
None
Penulis
crazybirdguy
1
posting

Hampir dua abad yang lalu, seekor bangau putih yang ditemukan sekarat di Desa Klutz, Mecklenburg, Jerman membuat jagad ornitologi. Sekilas tidak ada yang aneh dari tubuh bangau tersebut, kecuali sebatang anak panah terlihat menancap dalam di lehernya. Namun setelah diteliti, desain anak panah maut ini ternyata bukan berasal dari Jerman ataupun negara lain di Eropa—melainkan dari suku penghuni sahara nun jauh di Afrika Tengah! Kini, spesimen Pfeilstorch (bangau berpanah) tersebut tersimpan rapi di University of Rostock, German, sebagai bukti pertama perilaku migrasi jarak jauh pada burung di dunia.

 

Pfeilstorch alias bangau berpanah, spesimen bangau putih (CIconia ciconia) dengan panah dari Afrika yang menjadi bukti empiris pertama perilaku migrasi jarak jauh pada burung. (Sumber: Wikimedia)

Konsep migrasi sebenarnya bukan hal yang baru di dunia ilmu pengetahuan kala itu. Sejak lama, masyarakat dunia menyadari adanya perubahan jenis-jenis burung yang hadir di sekitar mereka—khususnya di kawasan empat musim, dimana beberapa jenis burung disebut “menghilang” di musim dingin. Beberapa teori pun dikembangkan untuk menjelaskan fenomena tersebut—termasuk oleh filsuf terkenal seperti Aristotle, yang menjelaskan bagaimana burung-burung jenjang (Gruiformes) berkelana dari padang rumput di Scythia, Yunani menuju Sungai Nil di Mesir.

Sayangnya, keterbatasan alat observasi di kala itu membuat pembuktian teori migrasi sangat sulit dilakukan. Hal ini menyebabkan teori lain cenderung lebih berkembang di dunia ilmu pengetahuan lawas—termasuk oleh Aristotle sendiri, yang menjelaskan bagaimana burung layang-layang asia (Hirundo rustica) berhibernasi di dalam lumpur di musim dingin. Anggapan ini tetap populer hingga awal abad ke-18—seperti pada buku The Natural History of Selborne karya Gilbert White (seorang naturalis dari Inggris yang terkenal sebagai “pengamat ulung”) pada tahun 1789 yang meragukan fenomena migrasi pada burung layang-layang, meskipun penulis yang sama juga meragukan teori hibernasi ala Aristotle.

Baru pada akhir abad ke-18, konsep migrasi jarak jauh pada burung mulai bisa diterima luas di dunia ilmu pengetahuan—khususnya akibat ditemukannya spesimen Pfeilstorch dan beberapa spesimen yang mirip selama beberapa dekade selanjutnya. Meskipun begitu, para ilmuwan di masa ini belum dapat memahami bagaimana burung-burung ini bisa berkelana hingga ratusan ribu kilometer dari tempat asalnya tanpa mati kelaparan ataupun tersesat di tengah jalan.  Pertanyaan inilah yang masih berusaha dijawab oleh para ilmuwan di masa sekarang, dengan bantuan alat-alat pelacak yang membuat pemantauan burung migran menjadi lebih mudah.

 

Melacak Burung Migran di Masa Modern

Seiring berkembangnya waktu, berbagai cara pun mulai dikembangkan oleh ilmuwan modern untuk melacak pergerakan burung-burung bermigrasi di seluruh dunia. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan menggunakan cincin kecil yang dipasang di kaki untuk memudahkan identifikasi individu suatu spesies burung. Harapannya, burung yang sama akan tertangkap lagi di masa depan di lokasi yang berbeda, sehingga bisa diketahui pergerakan dari individu burung tersebut.

Metode cincin kaki (sering juga disebut bird ringing atau bird banding) ini sebenarnya sudah lama digunakan sejak tahun 218-201 SM saat Perang Punik, ketika pasukan Roma menggunakan tali yang diikat di sekitar kaki burung gagak untuk berkomunikasi. Pada tahun 1669, Duke Ferdinand dari Austria menggunakan pita perak di kaki burung cangak abu (Ardea cinerea). Burung yang sama kemudian ditemukan oleh cucunya di tahun 1728, sekaligus menjadi observasi pertama usia hidup seekor burung di alam liar.

Penggunaan cincin sebagai metode penelitian ilmiah pertama kali dilakukan pada 1805 oleh John James Audubon, salah satu perintis ornitologi di Amerika Utara. Audubon menggunakan benang perak untuk menandai beberapa ekor burung Eastern Phoebe (Sayornis phoebe) muda di sebuah sarang di perkebunan miliknya. Burung yang sama ditemukan setahun kemudian, menunjukan bahwa burung tersebut kembali ke lokasi bersarang yang sama setelah dewasa.

Penggunaan cincin alumunium pertama kali digunakan pada tahun 1899 oleh Hans Christian Cornelius Mortensen, seorang guru sekolah dari Denmark.  Hal ini dilanjutkan dengan berdirinya beberapa skema pencincinan di pusat pengamatan burung di berbagai wilayah, seperti pada tahun 1903 di Rositten Bird Observatory di Prussia (saat ini Jerman) dan diikuti oleh Yugoslavia di thaun 1908 dan Inggris di tahun 1909. Skema pencincinan inilah yang pada akhirnya menjelma menjadi sistem bird banding yang kita kenal saat ini.

Pada tahun 1990-an, para ilmuwan di Australia mempelopori penggunaan “bendera warna” (cincin berwarna dengan lebihan material di sisi belakang sehingga membentuk ‘bendera’) untuk mengetahui lokasi-lokasi penting bagi burung bermigrasi di Jalur Terbang Asia Timur-Australasia (East-Asian Australasian Flyway, sering disingkat menjadi EAAF). Dalam skema ini, masing-masing lokasi pencincinan memiliki pola warna tersendiri yang dapat dilihat dari jauh (misal, oranye-hitam untuk Pulau Jawa), sehingga pengamat bisa membedakan lokasi pencincinan suatu individu burung. Dengan mengandalkan jaringan pengamat burung untuk melaporkan individu burung dengan bendera warna di sepanjang jalur terbang tersebut, kita bisa mengetahui pergerakan burung selama bermigrasi tanpa harus menangkapnya kembali.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan alat pelacak yang lebih mendetail menjadi semakin besar bagi penelitian perilaku migrasi pada burung. Kebutuhan ini semakin nampak ketika teknologi telemetri akustik mulai digunakan di tahun 1950-an, dilanjutkan dengan teknologi telemteri VHF yang digunakan untuk melacak lokasi suatu satwa menggunakan transmiter radio (biasanya dalam bentuk kalung). Sayangnya, penggunaan teknologi ini belum bisa digunakan secara maksimal karena jangkauannya yang terbatas dan ukurannya yang besar, sehingga sulit digunakan pada burung bermigrasi berukuran kecil.

Pada tahun 1990-an, kehadiran GPS receiver membuat teknologi pelacakan satwa menjadi semakin ringkas, sehingga bisa digunakan pada sebagian jenis burung bermigrasi yang berukuran sedang hingga besar (biasanya dalam bentuk “tas punggung” yang diikat di kedua sayap). Alat ini juga memiliki jangkauan yang cukup jauh, sehingga memungkinkan para ilmuwan melacak perpindahan satu individu burung secara real time. Dengan beberapa sensor tambahan juga memungkinkan para ilmuwan memantau kondisi fisik burung tersebut selama bermigrasi (misal, detak jantung) sebagai data tambahan yang penting mengenai perilaku migrasi jarak jauh.

Hasil dari modernisasi alat pelacak ini pun memunculkan beberapa temuan menakjubkan yang semakin membuat kita terheran-heran dengan kemampuan migrasi burung. Seekor burung biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica) misalnya, telah tercatat terbang sejauh 11.500 kilometer non-stop dari Alaska ke Selandia Biru di tahun 2007. Perjalanan ini ditempuh dalam waktu 20 hari tanpa istirahat untuk makan ataupun minum, menunjukan daya tahan tubuh yang luar biasa untuk seekor burung dengan berat kurang dari 400 gram!

 

Biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica) dengan alat pelacak satelit. Alat inilah yang menguak rekor terbang non-stop terjauh yang pernah tercatat untuk seekor burung: 11.500 km dalam 20 hari! Sumber: https://www.eaaflyway.net/

 

Penggunaan pelacak satelit memungkingkan ilmuwan mengetahui perpindahan lokasi burung bermigrasi secara real-time. Suber: Birding Beijing

 

Selain catatan tersebut, ada juga rekor rute migrasi terjauh yang dipegang oleh dara-laut artik (Sterna paradisae) dengan jarak tempuh mencapai 96.560 km, rekor terbang telama selama 10 bulan oleh kapinis biasa (Apus apus), atau elevasi terbang tertinggi hingga 7.000 mdpl oleh angsa kepala-garis (Anser indicus). Semua rekor ini tentunya tidak akan bisa kita ketahui tanpa kehadiran alat-alat pencatat modern yang memperluas persepsi kita terhadap kemampuan yang luar biasa dari burung-burung bermigrasi, sehingga mampu membuktikan berbagai hal yang berada di ambang kemustahilan—sama seperti kehadiran panah Afrika di leher bangau putih dua abad yang lalu, ketika perilaku migrasi jarak jauh masih dianggap sebagai sesuatu yang hampir mustahil.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak penemuan yang menakjubkan di masa depan. Hal ini pun membantu kita dalam sedikit lebih memahami kemampuan burung-burung penjelajah ini, meskipun masih ada seabrek misteri yang belum terpecahkan tentang perilaku tahunan tersebut. Semoga burung-burung bermigrasi ini akan tetap lestari, sehingga tetap bisa mempesona kita dengan ketangguhan mereka dalam menjelajahi seluruh sudut bumi.

Sumber:

BirdLife International. 2018. Migration Marathons: 7 unbelievable bird journeys. Diakses di https://www.birdlife.org/worldwide/news/migration-marathons-7-unbelievable-bird-journeys pada 12 Oktober 2020

Elphick, J. 2007. Atlas of bird migration: tracing the great journeys of the world’s bird. Firefly Books: Buffalo, New York.

Frazier, K. 2020. The History of Bird Banding, Part I. Diakses di https://nc.audubon.org/news/history-bird-banding-part-i#:~:text=Evidence%20shows%20bird%20banding%20was,as%20messages%20to%20fellow%20soldiers.&text=This%20same%20bird%E2%80%94identified%20by,the%20Duke’s%20grandson%20in%201728. pada 12 Oktober 2020

Hansford, D. 2007. Alaska Bird Makes Longest Nonstop Flight Ever Measured. National Geographic Magazine: https://www.nationalgeographic.com/animals/2007/09/alaska-bird-longest-mirgation/

 

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *