Pecel Madiun Kini Hidup di Piring dan di Dinding

Pecel Madiun (sumber : unileverfoodsolutions.co.id)
Pecel Madiun memang legendaris, saus kacangnya yang gurih plus kencur yang wangi sudah bikin banyak orang melahap nasi dan sayur dengan lahap tapi sejak awal tahun 2025 lalu nama pecel madiun tidak hanya melekat pada sepiring makanan. Kini ada seekor reptil kecil yang menyandang nama itu yaitu Cyrtodactylus pecelmadiun atau kalau diucap dalam bahasa Indonesia sehari hari dia adalah Cecak Jari Bengkok Pecel Madiun. Bayangkan betapa kagetnya orang awam saat mendengar berita ini seekor cecak dinamai dari masakan favorit warga Jawa Timur. Apakah peneliti sedang bercanda? Ternyata tidak tim herpetologi dari BRIN memang punya selera humor yang unik sekaligus strategi jenaka untuk mendekatkan sains ke publik.
Jadi cerita ini dimulai dari ekspedisi kecil pada Maret dan Mei 2023 dimana sejumlah peneliti menyusuri wilayah Madiun dan sekitarnya. Para peneliti yang unik ini tidak mencari warung pecel tapi mencari cecak jari bengkok yang selama ini mungkin terlewat oleh mata penduduk setempat. Di sela-sela tanggul jembatan di tumpukan genteng bekas serta di halaman rumah yang lembap mereka menemukan gerombolan cecak yang bentuk jarinya agak melengkung dan setelah ditangkap diamati di laboratorium dan dibandingkan dengan koleksi Museum Zoologicum Bogoriense di Cibinong ternyata cecak ini belum pernah dideskripsikan sebagai spesies. Cicak unik ini punya perbedaan morfologi yang jelas dengan kerabatnya seperti Cyrtodactylus petani dan yang paling mencolok adalah jari-jarinya yang membengkok tidak lurus seperti kebanyakan cecak rumah sehingga dari situlah kemudian dinamai cecak jari bengkok.
Tapi mengapa harus pecelmadiun? Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Pak Awal Riyanto pemberian nama ini adalah bentuk apresiasi pada kekayaan kuliner lokal sekaligus cara agar masyarakat mudah mengingat. Strategi ini sebenarnya sudah dipakai sebelumnya untuk spesies seperti Cyrtodactylus papeda dari Pulau Obi dan Cyrtodactylus tehetehe dari Derawan. Papeda adalah makanan sagu khas Papua sementara tehetehe juga makanan local jadi begitu publik mendengar nama itu mereka tersenyum dan tidak merasa asing. Hasil pemberian nama yang unik ini memang berhasil, begitu kabar penemuan ini viral pada Januari 2025 warganet di Instagram dan X ramai membahasnya. Ada yang berkomentar “Kirain nama makanan pecel yang ditambah cicak goreng” seperti yang dikutip oleh beberapa media ada juga yang bercanda “Jadi pecelnya pakai daging cicak apa sayuran” tapi di balik gurauan itu kesadaran publik tentang keanekaragaman hayati meningkat, mereka jadi tahu bahwa Indonesia masih menyimpan banyak spesies reptil yang belum teridentifikasi dengan baik.

Gambaran dari cicak pecel madiun. Sumber : Riyanto, Awal, et al. “A New Species Belonging to the Cyrtodactylus sadleiri Complex (Squamata: Gekkonidae) Has Been Discovered in East Java, Indonesia.” Zootaxa 5570.1 (2025): 81-99.
Secara fisik si cecak pecelmadiun ini tidak besar, Jantan dewasa punya panjang tubuh dari moncong ke pangkal ekor sekitar 67 milimeter sementara betinanya sedikit lebih kecil sekitar 59 milimeter. Warna dasar cokelat kehitaman dengan bercak-bercak yang membantunya berkamuflase di batu dan tanah serta dia punya 18 hingga 20 baris tonjolan tulang di punggungnya dan disebut sebagai tuberkular dorsal.
Yang paling menarik dari kebiasaannya pecelmadiun adalah dia bukan pemanjat yang ahli seperti cecak tembok tapi lebih suka bergerak di tanah atau di dekat permukaan, ia juga jarang naik ke dinding tinggi. Ketinggian jelajah cicak ini paling tinggi hanya sekitar 40 sentimeter di atas tanah, ia bisa hidup di habitat basah maupun kering.
Yang membedakannya dari kerabat kerabat cicak Cyrtodactylus lainnya adalah mereka hanya mau tinggal di hutan primer yang benar-benar perawan tapi si Pecel Madiun ini tidak begitu karena ia dapat tinggal di area dekat permukiman dan selama masih ada serangga kecil untuk dimakan di malam hari ia akan betah.
Dari sisi genetika Cyrtodactylus pecelmadiun memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Cyrtodactylus petani dan jarak genetik di antara mereka hanya berkisar 0.1 hingga 1.6 persen. Salah satu hal menarik adalah selama ini spesies C. petani dikenal melimpah di wilayah Sunda Kecil sedangkan kehadiran C. pecelmadiun menjadi bukti bahwa garis keturunan kelompok ini juga ada di Pulau Jawa. Setiap penemuan spesies baru sebenarnya adalah pengingat bahwa kita masih buta terhadap kekayaan alam sendiri. Bayangkan ada makhluk hidup yang tinggal di tumpukan genteng belakang rumah puluhan tahun tanpa ada yang menyadari bahwa ia spesies berbeda.

Cicak Pecel Madiun (Sumber : Riyanto, Awal, et al. “A New Species Belonging to the Cyrtodactylus sadleiri Complex (Squamata: Gekkonidae) Has Been Discovered in East Java, Indonesia.” Zootaxa 5570.1 (2025): 81-99.)
Sekarang mari bicara soal konservasi, apakah kita perlu melindungi Cyrtodactylus pecelmadiun dengan cara khusus? Jawabannya tidak sesederhana itu karena cukup adaptif jadi mungkin saat ini tidak terancam punah. Ancaman terbesar cicak pecel madiun bukanlah pemburu atau perusak hutan tapi adalah ketidaktahuan. Ketika orang tidak tahu bahwa cecak ini berbeda mereka akan memperlakukannya sama seperti hama rumah lain mereka akan mengusirnya atau membunuhnya dengan insektisida. Habitatnya yang ada di tanggul jembatan dan tumpukan batu bata sering dianggap kotor dan dibersihkan dengan cara yang ekstrem, drainase yang dilapisi semen atau beton juga mengurangi ruang lembab yang ia butuhkan untuk berteduh di siang hari. Konservasi untuk spesies kecil seperti ini lebih kepada edukasi daripada pendirian wilayah konservasi alam.
Pak Awal Riyanto dalam publikasi Januari 2025 di jurnal Zootaxa menyebutkan bahwa penemuan ini semakin mendorong eksplorasi lebih lanjut untuk mengungkap keragaman tersembunyi dari genus Cyrtodactylus di Jawa. Pulau Jawa yang padat penduduk dan habitatnya banyak berubah nyatanya masih menyimpan kejutan, siapa tahu di kota anda sendiri ada cecak dengan jari bengkok yang belum diberi nama.
Hal menarik lain dari penemuan ini adalah jembatan antara sains dan budaya popular, biasanya nama ilmiah itu rumit memakai bahasa Latin atau Yunani yang sulit diingat tapi ini dengan nama Pecel Madiun yang mudah diingat. Anak kecil pun tahu, pedagang pecel di pinggir jalan juga tahu “Oh ada hewan yang dinamai dari masakan saya.” Dari situlah rasa ingin tahu tumbuh, dari situlah kecintaan pada keanekaragaman hayati dimulai.
Tentu saja ada pihak yang menganggap pemberian nama seperti ini terlalu sembrono. Argumen mereka adalah bahwa nama ilmiah seharusnya serius tapi bukankah keseriusan itu sendiri bisa dikemas dengan cara yang tidak kaku? Seorang ilmuwan yang memberi nama spesies dengan makanan favoritnya justru menunjukkan bahwa ia manusia biasa yang juga suka kuliner. Di luar negeri sudah banyak contoh pemberian nama yang aneh dan lucu, ada lalat yang dinamai Beyoncé, ada kumbang yang dinamai Darth Vader, ada siput yang dinamai dari gitaris Metallica jadi kalau di Indonesia ada cecak pecel itu tidak perlu diherankan karena Itu adalah ekspresi bahwa sains bisa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Setelah artikel ini Anda mungkin tidak akan melihat cecak di belakang rumah dengan cara yang sama lagi coba periksa jari-jarinya apakah melengkung? Apakah ukurannya agak berbeda dari cecak tembok biasa? Bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan saudara dari Pecel Madiun bisa juga Anda menemukan spesies baru yang belum pernah dilaporkan siapa pun dan kalau sampai terjadi jangan lupa beri nama yang enak didengar mungkin Sate Ayam atau Rawon biar nanti anak cucu kita tersenyum sambil membaca buku taksonomi.
Jadi lain kali saat anda makan pecel Madiun di pagi hari ingatlah ada seekor reptil mungil di luar sana yang namanya aneh tapi nyata. Ia adalah hadiah dari dunia ilmu pengetahuan kepada lidah dan tanah Jawa Timur. Selamat untuk para peneliti yang masih setia menjelajahi sudut-sudut negeri ini dan selamat untuk Pecel Madiun kini ada tidak hanya enak dimakan tapi juga ikon konservasi.


