Artikel
Ekowisata, Flora, Fungi, Kehutanan, Satwa, Tumbuhan, Urban Biodiversity

Mengungkap Aset Biodiversity di tengah Kota Industri: Bontang, Kalimantan Timur

Bontang adalah sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Kalimantan Timur. Kota ini terletak diantara kota Samarinda dan Sangatta bila dilihat dari akses jalan penghubung. Jika dilihat pada area sekelilingnya, Bontang berdiri di pinggiran hutan belantara tropis Borneo dan bersinggungan langsung dengan biru laut. Meskipun terlihat kecil dari peta, namun kota ini adalah salah satu harta karun industri di Indonesia. Luas area yang tidak seberapa besar ternyata mampu menjadi tanah kelahiran perusahaan energi gas alam kelas dunia (PT Badak NGL) serta salah satu pabrik pupuk terbesar di dunia (PT Pupuk Kaltim). Industri megah lainnya juga ikut berkembang seperti PT Kaltim Methanol Industri (KMI) sebagai satu-satunya produsen metanol di Indonesia, PT Kaltim Parna Industri (KPI) sebagai perusahaan petrokimia berskala internasional yang berfokus memproduksi anhydrous ammonia (amoniak tanpa air), serta pabrik lainnya. Jika kita berbicara hanya terkait superioritas nilai kota ini dalam rupiah, Berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), Bontang menempati posisi sebagai kota terkaya kedua di Indonesia, persis di bawah Kota Kediri, Jawa Timur. Namun, untuk wilayah di luar Pulau Jawa, Bontang memegang status sebagai kota terkaya nomor satu. Namun bagaimana jika kita melihat dari sudut pandang keanekaragaman hayati? Apakah kota yang berdiri di belantara milik ibu pertiwi ini masih memiliki kepedulian terhadap wilayah yang telah mereka konversi? Atau memang semua pohon dan makhluk rimbanya sudah tergerus oleh modernisasi industri? Jawaban yang saya dapat di lapangan ternyata sangat mencengangkan.

Besar di Bontang, saya awalnya tidak terlalu tertarik mengulik keanekaragaman hayati di Kota ini. Karena seperti paragraf di atas, Bontang sudah terkenal dengan keanekaragaman industrinya. Namun DNA kecintaan terhadap alam mulai terbentuk spontan saat menempuh gelar sarjana biologi di Bogor, dan terfinalisasi saat bekerja kembali ke Bontang. Mulai dari memotret dengan ponsel, saya lalu mengembangkan diri dengan kamera berlensa telephoto. Difasilitasi juga dengan pekerjaan yang selaras dengan visi misi pelestarian alam, saya memulai perjalanan panjang untuk mendokumentasikan segala jenis kekayaan lingkungan di Kota Bontang, mulai dari aneka jenis flora, fauna, fungi, hingga mikroorganisme. Dimulai pada tahun 2018 hingga 2026, saya sudah menemukan 700 spesies yang teridentifikasi, yaitu dari flora, fauna, hingga fungi. Sebanyak 495 spesimen (70.71%) sudah teridentifikasi hingga tingkat spesies dan 205 lainnya (29.29%) sebatas tingkat genus. Sebanyak 305 spesies merupakan flora, 263 dari kelompok fauna, serta 132 merupakan golongan fungi. Pada pengelompokkan spesimen liar atau rawatan, sebanyak 455 spesimen (65%) merupakan jenis liar dan 245 (35%) dari rawatan perusahaan atau masyarakat. Dari pendataan sementara ini terlihat bahwa masih banyak spesies liar yang mendominasi Kota Bontang.

Kelompok flora yang ditemukan contohnya adalah: Aquilaria malaccensis, Dryobalanops aromatica, Shorea balangeran, Shorea leprosula, Shorea smithiana, Shorea ovalis, Shorea seminis, Eusideroxylon zwageri, Inocarpus fagifer, Terminalia catappa, Swietenia macrophylla, Handroanthus chrysotrichus, Mimusops elengi, Samanea saman, Cerbera manghas, Pouteria caimito, Persea americana, Arenga pinnata, Tamarindus indica, Averrhoa carambola, Averrhoa bilimbi, Diospyros blancoi, Nepenthes gracilis, Nepenthes mirabilis, Lumnitzera littorea, Ixora congesta, Hippobroma longiflora, Wollastonia biflora, Phanera semibifida, Sonneratia alba dll. Kelompok fungi yang ditemukan contohnya adalah: Amauroderma rugosum, Campanella aff. buettneri, Cantharellus sp., Dacrymyces sp., Dacryopinax spathularia, Deconica horizontalis, Earliella scabrosa, Favolaschia manipularis, Gerronema sp., Lentinus tricholoma, Lentinus velutinus, Marasmius haematocephalus, Phallus indusiatus, Polyporus grammocephalus,Termitomyces sp., Xylaria hypoxylon, dll.

Kelompok fauna yang ditemukan contohnya adalah: Pongo pygmaeus, Macaca fascicularis, Nasalis larvatus, Presbytis canicrus, Trachypithecus cristatus, Echinosorex gymnura, Hylobates funereus, Nisaetus cirrhatus, Haliaeetus leucogaster, Aegithina tiphia, Alcedo meninting, Todirhamphus chloris, Todiramphus sanctus, Pelargopsis capensis, Anhinga melanogaster, Cymbirhynchus macrorhynchos, Microhierax fringillarius, Halcyon smyrnensis, Hemiprocne longipennis, Hirundo tahitica, Lanius Schach, Merops viridis, Merops philippinus, Pitta sordida, Batrachostomus cornutus, Loriculus galgulus, Brachypodius atriceps, Anthracoceros albirostris, Charybdis feriata, Charybdis miles, Charybdis truncata, Portunus sanguinolentus, Portunus hastatoides, Portunus pseudotenuipes, Portunus pulchricristatus, Podophthalmus vigil, Lupocyclus philippinensis, Phalangipus hystrix, Ahaetulla prasina, Dendrelaphis pictus, Enhydris plumbea, Xenopeltis unicolor, Chrysopelea paradisi, Lycodon capucinus, Indotyphlops braminus, Naja sputatrix, Naja sumatrana, dll.

Terdapat 5 jenis primata endemik dan dilindungi oleh PERMENLHK P.106 tahun 2018, yaitu: Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates funereus), lutung abu-abu kutai (Presbytis canicrus – endemik Kalimantan Timur), dan lutung kelabu (Trachypithecus cristatus).

Terdapat 22 jenis burung endemik atau dilindungi oleh PERMENLHK P.106 tahun 2018, yaitu: Elang bondol (Haliastur indus), elang tikus (Elanus caeruleus), elang hitam (Nisaetus cirrhatus var dark morph), elang brontok (Nisaetus cirrhatus), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus), kuntul besar (Ardea alba), kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), takur topi merah (Psilopogon henricii), takur gedang (Psilopogon chrysopogon), takur tutut (Psilopogon rafflesii), takur ampis kalimantan (Calorhamphus fuliginosus), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), tangkar kambing (Platysmurus aterrimus), bubut pacar jambul (Clamator coromandus), gelatik jawa (Padda oryzivora), alap-alap capung (Microhierax fringillarius), madu sepah raja (Aethopyga siparaja), paok hijau (Pitta sordida), serindit melayu (Loriculus galgulus), betet ekor panjang (Psittacula longicauda), dan kipasan belang (Rhipidura javanica).

Ternyata walaupun ruang terbuka hijau diapit oleh para industri raksasa, keanekaragaman hayati di Kota Bontang masih sangat berlimpah. Salah satu faktornya adalah beberapa RTH berupa hutan sekunder tua masuk dalam wilayah OBVITNAS sehingga meminimalisir aktivitas perburuan atau pembakaran hutan. Penelusuran ini akan terus dilanjutkan karena saya percaya bahwa jumlah temuan sebanyak 700 spesimen tersebut masih akan terus bertambah lagi, terutama dari kelompok insekta yang belum sepenuhnya terdata.