Migrasi Burung dan Budaya

Artikel
Migrasi Burung dan Budaya
Ekowisata, Satwa
73
12 Oktober 2020
Biologi
Penulis
Anggi
2
posting

 Migrasi Burung dan Budaya

     Setiap tahunnya burung migran selalu terbang bermigrasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Bukan perjalanan yang biasa tentunya dan bukan perjalanan yang sederhana juga. Dibutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra. Hal ini juga dikemukakan oleh Bhusnan et. al. (1993) bahwa migrasi adalah cara hidup yang mahal. Ini membutuhkan pemberian makan yang sangat energik, akumulasi cadangan lemak, juga penerbangan yang panjang, seringkali pada ketinggian beberapa kilometer dan berlangsung selama beberapa hari. Lantas mengapa burung melakukan migrasi? Migrasi sendiri merupakan perilaku adaptasi makhluk hidup terhadap kondisi lingkungannya yang tidak sesuai ataupun tidak memberikan kebutuhan hidup bagi burung bersangkutan (Alikodra, 2018). Hal tersebut juga dikemukakan oleh Alikodra (2010) bahwa setiap organisme memerlukan kecukupan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang mencakup kebutuhan pakan, tempat yang aman untuk tidur dan bersembunyi, serta tempat untuk kawin dan berkembang biak.

     Iklim memainkan peran mendasar dalam menentukan sifat lahan basah dan pergerakan burung. Musim dingin yang panjang memaksa jutaan burung migran yang berkembang biak pergi ke daerah yang lebih hangat di bagian selatan benua. Saat musim gugur mendekat, jutaan burung di daerah bagian utara berangkat dalam perjalanan panjang ke arah selatan. Mereka melewati banyak negara Asia antara Agustus dan November untuk menghabiskan musim dingin utara di iklim yang lebih sejuk pada lahan basah beriklim tropis dan hangat di Asia bagian timur dan selatan, Australia, dan Selandia Baru.  Mereka tinggal di wilayah tersebut hingga delapan bulan sebelum kembali ke utara lagi pada bulan Maret, April, dan Mei saat Asia bagian utara kembali menghangat (Bhusnan et. al., 1993).

Pada migrasi ini, beberapa jenis burung terbang hanya dalam jarak pendek di antara perhentian, sementara yang lain terbang dengan jarak yang sangat jauh di atas gurun dan lautan untuk mencapai tujuan mereka. Penerbangan migrasi dengan jarak berapapun tetap membutuhkan penggunaan banyak energi dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu, harus ada lahan basah di kedua ujung penerbangan yang dapat memberikan energi bagi burung yang sedang bepergian. Namun, selain itu untuk mengurangi energi migrasi yang tinggi, kebanyakan jenis burung yang bermigrasi hanya terbang dalam kondisi cuaca tertentu. Atmosfer bumi terus bergerak tetapi pola dalam sistem cuaca menciptakan angin yang menguntungkan untuk penerbangan migrasi tertentu (Bhusnan et. al., 1993).

Burung Migran di Danau Limboto (Foto : Anggi Permatasari)

     Selain itu, pada dasarnya jalur yang dipakai burung-burung ini saat migrasi merupakan jalur yang tetap. Umumnya, wilayah daratan yang digunakan dan menghindari perairan, terlebih yang lebarnya mencapai 25 kilometer. Oleh karena jalurnya yang tetap ini, pengembaraan yang dilakukan saat menuju maupun meninggalkan tempat persinggahannya pada musim dingin tersebut dapat diketahui. Wilayah yang akan dilaluinya ini memiliki tanda seperti daratan yang sempit, punggung bukit yang panjang, maupun daerah semenanjung. Hal itu dikarenakan koridor tersebut terbukti ampuh dalam menghemat energi serta dapat menghindari perairan lebar yang pastinya membutuhkan energi besar untuk melintasinya (Aris, 2015).

Selama perjalanan menuju belahan bumi bagian selatan yang mampu menyediakan kecukupan pakan, para migran melakukan persinggahan baik untuk istirahat sementara, ataupun menjadi tempat yang tetap dalam pengembaraannya. Burung migran melalui jalan panjang menuju tempat singgahnya di daerah tropis. Misalnya untuk Koridor Pantai Pasific (Coastal Pacific Corridor) yaitu jalur yang akan dilalui oleh burung-burung dari timur Rusia yang melewati Kepulauan Jepang dan Taiwan, lalu ke selatan Filipina dan menepi di wilayah Sunda Besar. Dalam sekali migrasi, mereka dapat terbang hingga jarak 15.000 kilometer dengan waktu tempuh 50 – 70 hari (Septian, 2017). Karena letaknya di garis khatulistiwa, dengan iklim tropis dan posisinya tepat di tengah belahan bumi utara dan selatan, maka Negara Kepulauan Indonesia sangat strategis menjadi tempat persinggahan penting bagi para migran. Ini juga berarti bahwa Indonesia berperan penting bagi konservasi burung migran (Alikodra, 2018).

Indonesia termasuk ke dalam dua jalur migrasi burung pantai dunia yaitu jalur Asia Timur-Australia (East Asian-Australian Flyway) dan jalur Pasifik Barat (West Pacific Flyway). Jalur Asia Timur Australia terbentang dari Alaska menuju Siberia Timur, Asia Timur melalui Timur Tiongkok, Asia Tenggara melalui Semenanjung Malaysia, Indonesia (termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok), hingga menuju Australia dan Selandia Baru. Jalur Pasifik Barat terbentang dari Timur Rusia menuju Kepulauan Jepang, Taiwan, Filipina, Papua, hingga menuju Australia dan Selandia Baru  (Alikodra, 2018).

Ritual tahunan ini menunjukkan keseimbangan fungsi ekologis di berbagai belahan dunia. Migrasi menunjukkan bahwa habitat di mana mereka bermigrasi masih terjaga. Dalam arti ketersediaan pakannya masih tercukupi, iklimnya mendukung, dan hal-hal tersebut mencukupi segala kebutuhannya. Dengan adanya migrasi burung, kita sadar bahwa kita ini saling melengkapi. Ketika kita tidak bisa pergi ke negara di mana burung-burung tersebut tersebar, maka kita bisa melihatnya saat migrasi ini terjadi. Walaupun mungkin tidak semua jenisnya karena tidak semuanya bermigrasi, akan tetapi kita tetap bisa melihat keindahannya.

Namun di sisi lain, jika kita mendalaminya ternyata migrasi ini bisa menjadi sebuah kunci yang mempermudah kita untuk mempelajari banyak hal. Tidak hanya sebatas tentang jenis burung migran yang singgah, tetapi kita bisa mempelajari bagaimana habitat aslinya mereka di belahan bumi bagian utara dan di mana saja persebarannya. Bahkan lebih lanjut kita juga bisa mempelajari berbagai budaya dari habitat persebarannya. Menarik bukan? Dari sebuah ritual tahunan dapat membawa kita untuk menggali berbagai hal yang membawa kita mengenal dunia yang luas ini.

Berbicara tentang budaya, selain kita bisa mengenal budaya di luar sana dari sebuah migrasi, ada pula yang menjadikan puncak migrasi burung ini sebagai sebuah event budaya yang lantas menarik minat banyak wisatawan. Tepatnya di Indonesia, beberapa wilayah yang menjadi jalur lintas dan persinggahan migrasi ini menjadikan fenomena tersebut sebagai ajang memperkenalkan kebudayaan setempat. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Alikodra (2018) bahwa fenomena jenis burung migrasi yang sangat unik dan khas dapat menjadi obyek ekowisata yang menarik para pecinta alam. Ekowisata dapat menjadi salah satu upaya konservasi yang paling bijaksana. Di samping tujuannya untuk melestarikan burung migran, juga penting perannya bagi peningkatan sosial ekonomi masyarakat.

Himantopus leuchocepalus (Foto : Anggi Permatasari)

     Salah satu event yang diselenggarakan beriringan dengan migrasi burung ini adalah Festival Pesona Danau Limboto. Festival tersebut selalu diadakan setiap tahunnya. Migrasi burung dijadikan sebagai hiasan alami sebuah pertunjukan yang kemudian menarik wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sehingga secara tak langsung, wisatawan tersebut mengenal kebudayaan setempat. Jadi tidak hanya kita yang bisa tahu tentang kebudayaan di luar sana. Tetapi orang lain juga bisa mengenal kebudayaan kita. Pada Festival Pesona Danau Limboto ini disajikan berbagai pertunjukan, mulai dari tarian tradisional kolosal hingga seminar tentang Danau Limboto. Festival ini bertujuan untuk membangun kesadaran melestarikan danau sebagai situs potensial pariwisata. Danau itu sendiri menampung berbagai jenis ikan, reptil, dan burung. Festival ini juga berfungsi sebagai platform untuk mempromosikan kearifan lokal, masakan lokal, seni, dan budaya serta pariwisata (PII, 2019). Dapat dibayangkan jika semua lokasi persinggahan burung migran ini bisa

Namun agar semuanya tetap dapat berjalan sesuai dengan harapan, maka tidak hanya kita yang perlu menjaga ekosistem agar tetap alami dan terjaga. Tetapi semua masyarakat di belahan bumi manapun turut andil dalam menjaga habitatnya masing-masing. Kita bisa membayangkan jika ada salah satu habitat yang rusak, lantas energi dari burung yang bermigrasi ini tidak tercukupi maka bisa saja burung tersebut justru akan mati di perjalanannya atau bahkan di lokasi habitat yang rusak tersebut. Jika hal tersebut terjadi secara terus-menerus kemungkinan akan menyebabkan penurunan individu atau bahkan jenisnya sehingga kita tidak bisa melihat lagi indahnya ritual tahunan tersebut. Juga mengajarkan bahwa dengan adanya migrasi burung ini, kita semua di seluruh dunia diingatkan untuk tetap dan selalu menjaga alam ini. Sungguh luas makna dari migrasi burung ini.

Referensi :

– Alikodra, H. S. 2010. Teknik Pengelolaan Satwaliar : Dalam rangka mempertahankan keanekaragaman hayati Indonesia. Bogor : IPB Press.

– Alikodra, H. S. 2018. Migrasi Burung Air dan Daerah Persinggahannya bagi Pengembangan Ekowisata. Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah 3 (1) : 5-10.

– Aris (Editor). 2015. Mengapa Burung Bermigrasi? [Internet]. https://nationalgeographic.grid.id/read/13298652/mengapa-burung-bermigrasi. Diakses pada 11 Oktober 2020.

– Bhusnan, B., G. Fry, A. Hibi, T. Mundkur, D. M. Prawiradilaga, K. Sonobe, and S. Usui. 1993. A Field Guide to the Waterbirds of Asia. Tokyo : Wild Bird Society of Japan.

– Portal Informasi Indonesia [PII]. 2019. Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto. [Internet].https://indonesia.go.id/ragam/pariwisata/pariwisata/menikmati-budaya-dan-burung-migrasi-di-danau-limboto . Diakses pada 11 Oktober 2020.

– Septian, R. 2017. Indonesia Adalah Jalur Penting Migrasi Burung, Anda Mengetahui? [Internet].http://www.mongabay.co.id/2017/05/23/indonesia-adalah-jalur-penting-migrasi-burung-anda-mengetahui/. Diakses pada 11 Oktober 2020.

3
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *