Serangga Cricula trifenestrata Dianggap Hama tetapi Penghasil Sutera Emas

Kehutanan, Pertanian, Pertanian Organik, Satwa
Serangga Cricula trifenestrata Dianggap Hama tetapi Penghasil Sutera Emas
18 April 2024
233

 

Hi Warriors ! Siapa yang menyangka bahwa kupu-kupu malam atau ngengat pada fase kokon dapat menghasilkan sutera emas ? Tahu ga sih, kalau serangga dari Ordo Lepidoptera famili Saturniidae yang mampu menghasilkan sutera emas karena kokon yang dihasilkan berwarna kuning keemasan. Serangga ini memiliki siklus hidup yang lengkap atau holometabola, yaitu terdapat fase telur, larva, pupa, dan imago. Cricula  trifenestrata menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu 45─50 hari. Wilayah yang memiliki empat musim, serangga ini menyelesaikan seluruh siklus hidup lebih lama, yaitu 120–125 hari. Persebaran C. trifenestrata cukup luas yaitu negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Ngengat ini sering muncul dari bulan April–November.

Serangga ini dianggap sebagai hama pertanian karena pada fase larvanya menyerang daun dari tanaman alpukat, jambu mete, kenari, kayu manis, sirsak, kedondong, dan mangga. Fase larva dari serangga ini biasanya dikenal dengan sebutan ulat kipat. Tenang saja walau dianggap menjadi hama pertanian, kementerian pertanian sudah melakukan riset pengendalian secara alami dengan entomopatogen organisme Beauveria bassiana, parasitoid telur (Trichogramma sp. dan Telenomus sp.), parasitoid larva (Xanthopimpla sp. dan Amblyteles sp.), parasitoid pupa (Brachymeria criculate). Aplikasi insektisida nabati dalam pengendalian ulat kipat dapat menggunakan mimba, tembakau, akar tuba, piretrum, gadung, dan suren. Nah, jadi tenang saja Warriors jika memiliki perkebunan yang tanamannya menjadi makanan dari ulat kipat ini, karena sudah ada pengendalian secara biologisnya.

Memang, kurangnya informasi pemanfaatan berkelanjutan pada kehati sekitar kita menyebabkan terjadinya paradigma negatif di masyarakat awam. Ditambah lagi serangga ini menjadi tidak populer di masyarakat karena warnanya tidak menarik, kusam, kotor, fase ulat bulu menyebabkan iritasi kulit & menjadi organisme pengganggu tumbuhan, dan fase dewasa penelitiannya harus dilakukan pada malam hari. Padahal serangga C. trifenestrata dapat menjadi peluang agribisnis loh sobat muda Warriors. Jika kalian tahu, di wilayah tertentu sudah ada yang membudidayakan ulat kipat ini untuk diambil kokon nya yaitu masyarakat Bali dan Yogyakarta. Benang sutera yang dihasilkan dari kokon ulat kipat ini kemudian dijadikan aksesoris wanita dan kain yang dijual hingga ke luar negeri seperti Jepang dan Amerika.

Potensi pengembangan dunia pertanian dan serangga penghasil sutera emas ini dapat berdampingan kedepannya. Petani dapat menjual hasil panen dari buah juga dapat mengembangkan potensi hama ulat sutera yang memiliki ekonomi tinggi.  Penelitian yang dilakukan Ekastuti (2012) mengatakan bahwa potensi ekonomi harga 1 kg kokon ulat sutera emas Rp. 150.000,- harga benangnya mencapai Rp. 1.500.000,-/kg , apabila dibandingkan dengan kokon sutera Bombyx mori (ulat sutera putih) harga 1 kg kokon Rp. 20.000,- harga benang Rp. 80.000,-/kg).

Perlu Warriors ketahui pemanfaatan potensi tingginya nilai ekonomi sutera emas dari serangga C. trifenestrata tetap berpedoman bahwa sifatnya bukan eksploitasi akan tetapi dalam jangka waktu terdekat bisa melakukan domestikasi untuk menjaga habitat asli dan kelestarian semua makhluk hidup di muka bumi ini. Jangan lupa mari kita menulis dan membaca informasi agar Indonesia menjadi negara literasi yang baik. Saran dan masukan akan penulis terima dengan senang hati untuk perbaikan selanjutnya.

Exploratum in de Universum!

 

Referensi:

Ekastuti, D.R. 2012. Tinjauan fisiologi domestikasi ulat sutera liar Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae). Jurnal Berita Biologi 11(2).

Hamid, Hasmiah., Jahuddin, Rahmat., dan Hasmah. 2012. Pengendalian ulat kipat (Cricula trifenestrata) pada tanaman jambu mete. Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan XXI.

Hartono., Franss, Terry M., dan Kalangi, Josephus I. 2015. Pengaruh beberapa jenis pakan tanaman kehutanan terhadap kualitas dan kuantitas kokon ulat sutera emas (Cricula trifenestrata helf). Manado: Fakultas pertanian Universitas Sam Ratulangi.

Indah, Najmi dan Sukadi. 2017. Strategy of agribusiness development of silkworms (Cricula  trifenestrata helf.) (Lepidoptera: Saturniidae) on avocado as potential development of villages in Sidomulyo Kec. Silo Kab. Jember. Jurnal Ilmiah Inovasi 17 (3). ISSN 1411-5549.

Sutrisno, Hari. 2020. Peran sistematika ngengat untuk mendukung keefektifannya dalam pengendalian hama. Jakarta: LIPI Press.

#nature, Keanekaragaman hayati, Pangan Lokal, biodiversitas, biodiversity, ekologi, kupu-kupu
Tentang Penulis
Raafi Nur Ali
Citizen Science I BIOLASKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2024-05-16
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *