Pentingnya Pemulihan Ekosistem Satwa

Artikel
Pentingnya Pemulihan Ekosistem Satwa
Aktivitas, Ekowisata, Flora, Kehutanan, Lain-lain, Pertanian
43
12 Oktober 2020
Teknologi Industri Benih
Penulis
Nur Khalim
1
posting

Wadden Sea © CreativeNature_nl

Wadden Sea © CreativeNature_nl

Musim dingin. Merupakan musim dimana beberapa satwa seperti burung melakukan tradisi tahunannya yaitu migrasi atau yang lebih sering kita kenal dengan migratory birds. Ketersediaan makanan dan lingkungan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mereka harus melakukan migrasi.

 

Dimana ketika musim dingin tiba ketersediaan pakan berkurang dan menyebabkan perkembangbiakkan mereka terhambat. Artinya habitat yang sesuai akan mendukung perkembangan yang baik buat satwa tersebut.

 

Migrasi ini merupakan salah satu bentuk adaptasi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Alikodra (2010) yang menyatakan bahwa setiap organisme memerlukan kecukupan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang mencakup kebutuhan pakan, tempat yang aman untuk tidur dan bersembunyi, serta tempat untuk kawin dan berkembang biak.

 

Migrasi burung merupakan pergerakan populasi dari lokasi perbiakan menuju lokasi tertentu untuk mencari makan. Dalam menuju lokasi ini burung migran akan melewati jalur yang sesuai untuk menuju lokasi akhir. Terdapat 9 jalur yang dilalui, antara lain : (1) jalur Atlantik Timur, (2) jalur Laut Hitam-Mediterania, (3) Asia Barat-Afrika Timur, (4) jalur Asia Tengah, (5) jalur Asia Timur-Australia, (6) jalur Pasifik Barat, (7) jalur Pasifik-Amerika, (8) jalur Missisipi-Amerika, dan (9) jalur Atlantik-Amerika (Mongabay 2014)

 

Musim dingin yang terjadi di belahan bumi utara membuat para burung bermigrasi menuju belahan bumi selatan untuk mendapatkan pasokan pakan yang cukup. Terdapat beberapa fakta menarik pada migrasi burung ini, salah satunya adalah Unihemispheric Sleep, pendugaan yang menyatakan bahwa setengah dari sebelah otak burung ada yang tertidur dan ada yang berfungsi. Hal tersebut terlihat pada mata yang terbuka dan juga ada mata yang tertutup.

 

Namun seiring dengan perkembangan terdapat penelitian lebih lanjut tentang migrasi burung, salah satunya mengenai hipotesis ‘Electroencephalogram’ yaitu terdapat jenis burung yang melakukan micro nap, tidur hanya satu menit.

 

Burung migran ini diperkirakan kurang lebih sebanyak 2000 spesies (Azhar 2016) yang terdiri dari berbagai famili. Namun semakin lama, jumlah populasi dari burung migran ini terus mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh ekosistem yang sudah mulai rusak, dalam hal ini habitat mereka yang semakin berkurang atau terjadi alih fungsi lahan.

 

Rusaknya habitat alami burung migrasi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya kebakaran hutan yang terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja, alih fungsi lahan, pembangunan perkotaan dan juga penggunaan pestisida secara liberal. Habitat yang rusak membuat populasi burung migrasi menurun.

 

Dalam satu tahun terakhir pada bulan Juni 2019, kebakaran hutan yang terjadi di Australia telah menurunkan jumlah populasi flora fauna yang ada dihutan tersebut, salah satunya satwa burung.

https://www.financialexpress.com/world-news/new-bushfires-break-out-in-australia-as-millions-brace-for-the-worst/1761852/

 

Photograph: Conservation Biology

Peta tersebut menunjukkan pengaruh hilangnya habitat terhadap jumlah spesies disuatu wilayah. Zona abu-abu menunjukkan bagian Australia di mana hilangnya habitat belum terjadi. Zona biru memiliki hingga 90 spesies yang terpengaruh oleh hilangnya habitat, kuning hingga 120 spesies terpengaruh, sedangkan kategori tertinggi, merah, hingga 187 spesies terpengaruh.

 

Hilangnya vegetasi maupun serangga-serangga kecil dihutan secara otomatis mengurangi jumlah pakan yang dibutuhkan oleh burung migrasi. jika ekosistem lenyap, vegetasi tidak ada. Sumber makanan dari beberapa satwa juga tidak ada, akhirnya banyak burung-burung yang mati akibat kekurangan pasokan pakan.

 

Kasus lain yang menyebabkan menurunnya jumlah populasi burung migrasi yang terjadi di Amerika. Padang rumput adalah bioma yang paling terancam didunia. Hilangnya habitat tersebut dikarenakan pembangunan perkotaan dan pertanian, bersama dengan penggunaan pestisida secara liberal, telah menimbulkan efek merugikan pada burung yang bergantung pada habitat tersebut.

 

Tercatat studi menemukan bahwa padang rumput telah kehilangan hampir 720 juta burung sejak tahun 1970 – penurunan yang lebih besar dari 40 persen. Runge menyatakan bahwa banyak situs yang digunakan untuk reklamasi telah hilang, hal itu disebabkan adanya ekspansi perkotaan, industri dan pertanian tanah, dan  beberapa spesies mengalami penurunan yang cepat.

 

Western Meadowlark. Photo: James Halsch/Audubon Photography Awards

 

Kematian burung migrasi juga sempat terjadi di Mexico pada 15 September 2020, para ahli biologi mengatakan bahwa kemungkinan penyebab kematian burung migrasi tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan yang terjadi di California. Kebakaran hutan yang terjadi menyebabkan para burung akan melakukan migrasi lebih awal dari sebelum mereka siap. Pasokan makanan ynag digunakan selama bermigrasi juga tidak akan terpenuhi. Sehingga mereka akan mati ditempat.

 

 

 

 

 

The number of dead birds is in the six figures, a university biologist says.

Sumber : https://edition.cnn.com/2020/09/14/us/new-mexico-birds-died-migration-trnd/index.html

Oregon mengatakan beberapa burung mungkin harus mengubah jalur migrasi, sementara yang lain mungkin menghirup asap dan mengalami kerusakan paru-paru. Sehingga terdapat beberapa burung yang mati di tempat.

 

Penurunan jumlah populasi burung migrasi juga terdapat di negara India, pasalnya jumlah penurunan populasi burung mencapai 80%. Perburuan liar dan hilangnya habitat alami merupakan pemicu dari turunnya populasi burung di wilayah tersebut.

 

Beberapa spesies yang mengalami penurunan tertinggi antara lain :  Burung Bangkai Putih, Richard’s Pipit, Hering India, Leaf Warbler Paruh Besar, Pacific Golden Plover Curlew Sandpiper . Source: State of India’s Birds report.

 

Populasi burung yang kian menurun akibat rusak atau hilangnya habitat alami mereka membuat kita sebagai generasi penerus harus mulai melakukan tindakan intensif salah satunya dengan pelestarian lingkungan, supaya habitat burung migrasi tetap terjaga.

 

Melestarikan dan memulihkan ekosistem mendukung siklus alami yang penting untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan burung yang bermigrasi. Pelestarian kawasan habitat burung migrasi yang dapat dilakukan tentunya dengan melakukan konservasi habitat burung migrasi tersebut secara bertahap.

 

Sumber : https://www.cooleffect.org/content/project/alto-mayo-protected-forest

 

Seperti yang dilakukan oleh Ontario Nature, Organisasi yang bergerak bidang lingkungan di Kanada tersebut mendesak pemerintah untuk segera mempertimbangkan IBA (Important Bird and Biodiversity Areas) dalam perancanangan yang mereka buat.

 

Nature Canada and Bird Studies Canada menyebutkan bahwa tanpa perlindungan habitat yang kuat populasi burung migran bisa hilang. Ontario Nature ini juga menciptakan program untuk mendukung konservasi alami habitat burung migran.

 

Beberapa program yang dicanangkan oleh Ontario Nature diantaranya:

 

Nature Guardians Youth Program, atau bisa kita sebut dengn dewan penjaga alam. Program ini didedikasikan bagi para pemuda untuk lebih peduli dengan alam. Pengembangan alat dan koneksi yang dibutuhkan pemuda melalui aksi konservasi. Dan tentunya wawasan yang luas untuk membantu kaum muda mengembangkan keterampilan, pengalaman dan kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk membuat perbedaan.

 

Program yang lain dan tak kalah penting yaitu Nature Reserves. Atau yang lebih sering kita sebut dengan cagar alam, maksud dari program ini yaitu melindungi habitat di beberapa provinsi yang ada di Kanada. Untuk sasarannya sendiri tentunya menjaga habitat tumbuhan atau vegetasi yang ada dihutan, melindungi keanekaragaman hayati dan juga  menciptakan kesempatan untuk rekreasi dan apresiasi alam.

Seperti yang kita tahu, cagar alam merupakan rumah bagi banyak spesies langka. Dan salah satunya yaitu satwa burung.

 

Hal lain yang bisa dilakukan dalam upaya pelesarian habitat satwa tersebut adalah dengan mengikuti kegiatan alam yang sering dilakukan atau berpartisipasi dengan kegiatan yang dilakukan oleh beberapa organisasi, supaya bisa lebih menyadari betapa pentingnya habitat alam disekitar.

 

Lain halnya di Kanada, Amerika Utara juga telah mengembangkan sebuah organisasi untuk melestarikan burung dan habitatnya di seluruh wilayahnya. Organisasi tersebut bernama Migratory Bird Join Ventures.

 

Amerika Utara merupakan surganya habitat keanekaragaman burung, dimana lebih dari 1.100 spesies menghuni darat, laut dan pesisir di benua itu.

Rencana konservasi nasional dan internasional telah dikembangkan oleh para ahli untuk satwa seperti  unggas air, burung darat, burung air, dan burung pantai. Untuk join Ventures ini sendiri, telah bekerja sama dengan mitra di seluruh Amerika Utara untuk membantu memenuhi tujuan dan sasaran dari rencana konservasi ini dan mengatasi tantangan untuk memastikan masa depan yang berkelanjutan tidak hanya untuk burung, tetapi juga manusia. Salah satu keunikan dari program yang akan dilakukan yaitu dengan melakukan patungan beraksi.

 

 

Salah satu habitat dari burung migrasi adalah lahan basah, lahan basah yang berkurang akan berimbas pula pada populasi burung. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu restorasi lahan basah. Restorasi ini pernah dilakukan di wilayah Teluk San Fransisco.

 

Konservasi sendiri bisa dilakukan melalui pendidikan, Black Snake Productions mengenalkan konservasi melalui program pendidikan dan acara menyenangkan yang ditujukan untuk pesta ulang tahun, acara perusahaan, dan sekolah untuk mendidik dan mempromosikan kesadaran dan tindakan pencegahan keselamatan ular dan laba-laba, perawatan pertolongan pertama untuk gigitan berbisa, prosedur tanggap darurat.

 

Untuk idealnya pelestarian satwa liar harus dimulai sejak usia dini, dengan pendidikan yang tepat, bimbingan dan budidaya kepedulian terhadap semua hewan, terlepas dari jenis spesiesnya. Melestarikan satwa liar bukan hanya upaya untuk menjamin keturunan seseorang mendapat hak istimewa untuk melihat hewan langka – tujuan yang lebih besar dari konservasi hewan adalah menemukan cara agar manusia dapat hidup berdampingan dengan semua hewan lain di bumi.

 

Pelestarian habitat untuk mengembalikan keanekaragaman hayati bisa juga ditempuh melalui restorasi hutan. Tujuan restorasi hutan dapat berkisar dari insentif ekonomi, nilai sosial atau budaya, jasa ekosistem, hingga konservasi keanekaragaman hayati. Namun, tugas restorasi hutan dapat menjadi tugas yang kompleks, yang melibatkan sistem ekologi dan sosial yang beragam, yang tidak selalu sepenuhnya diperhitungkan atau dipahami.

 

Restorasi hutan bukanlah hal baru, perubahan pola pemukiman manusia dan praktik mata pencaharian menyebabkan lahan tersebut terbengkalai. Lambat laun kawasan tersebut seringkali dapat kembali secara alami menjadi hutan, saat proses suksesi alami terjadi. Restorasi hutan telah menjadi area yang semakin diminati dan aktivitasnya dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari upaya skala kecil oleh LSM dan masyarakat hingga komitmen internasional skala besar.

 

Dalam beberapa tahun terakhir telah ada peningkatan fokus pada Prakarsa Skala Lansekap, yang bertujuan untuk memasukkan pohon ke dalam mosaik multi guna berbagai penggunaan lahan, dan mempertimbangkan berbagai pemangku kepentingan, penggunaan lahan dan skala untuk pengambilan keputusan dan pengelolaan adaptif, yang memungkinkan mata pencaharian manusia serta integritas ekologi dan layanan ekosistem di seluruh lanskap.

 

Sourcehttp://www.wri.org/applications/maps/flr-atlas /

Gambar ini mewakili wilayah potensial untuk berbagai jenis restorasi hutan di seluruh dunia, berdasarkan informasi tentang tutupan hutan dari waktu ke waktu, selain tingkat populasi manusia. Dari “Atlas of Forest & Landscape Restoration Opportunities.

 

Praktik restorasi spesifik memiliki cakupan yang luas, dan dapat menjadi sangat kompleks karena beragam konteks ekologi, pengaturan sosial-politik, dan tujuan pemangku kepentingan.

 

Restorasi juga dilakukan oleh negara seperi penanaman pinus loblolly di Amerika Serikat, atau hutan cemara sekunder di Eropa tengah, di bawah ancaman kelangkaan kayu atau kepentingan untuk “memperbaiki” alam dan menyediakan lapangan kerja. Dari upaya reforestasi utilitarian sebelumnya muncul upaya restorasi yang lebih fokus secara ekologis, yang bertujuan untuk memulihkan habitat, keanekaragaman hayati, atau fungsi ekologis dari ekosistem yang terdegradasi.

 

 

Pelestarian habitat merupakan hal yang sangat penting, bahkan setiap negara didunia telah melakukan riset ataupun program untuk menjaga keanekaragaman hayati di wilayah masing-masing tentunya. Sebelum melangkah lebih jauh dalam melakukan pelestarian habitat dan memulihkan ekosistem, informasi terkait langkah dalam pemulihan ekosistem harus diberikan.

 

Pemberian informasi merupakan hal penting yang perlu disampaikan kepada masyarakat, karena informasi tersebut merupakan petunjuk bagaimana seseorang dapat bertindak. Salah satunya cara transfer informasi yaitu melalui pendidikan.

Source : https://www.cikanangawildlifecenter.com/merchandise/pendidikan-lingkungan-hidup/

Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT-PPSC) dalam menyampaikan transfer informasi melalui program pendidikan dilalukan dengan sistem SMART. Sistem tersebut bisa diterapkan sebagai langkah awal untuk mengetahui informasi tentang lingkungan alami habitat satwa.

Sistem SMART sendiri terdiri dari :

  • Spesific (S), berarti ada target spesifik yang akan diambil, dalam hal ini adalah pelajar. Kanapa pelajar? Karena pelajar merupakan tonggak harapan bangsa, pejuang bangsa dimasa yang akan datang ditambah dengan cara berfikir dan tingkat kreatifitas yang masih segar dapat mentransformasikan informasi yang diberikan menjadi sebuah aksi nyata di masyarakat.
  • Measurable (M), artinya metoda pendidikan yang diberikan terukur. Hal ini dilakukan dengan cara membuat kelompok siswa yang dibina oleh PPSC dapat terpantau dan terukur.
  • Action (A), berorientasi aksi artinya tujuan akhir dari program yang diberikan kepada target sasaran adalah adanya aksi nyata dari pihak sasaran terhadap pelestarian satwa.
  • Realistics (R), artinya modul pendidikan lingkungan yang diberikan dapat diterima oleh masyarakat yang menjadi target program pendidikan lingkungan.
  • Time bond (T), artinya program yang dilakukan dibatasi oleh waktu. Dengan metode yang diberikan diharapkan program ini dapat tepat sasaran dan dapat mengubah pola fikir masyarakat tentang pelestarian satwa liar.

Harapan dari Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT-PPSC) sendiri mampu menarik minat anak-anak dan remaja dan sekolah untuk lebih mengenal lebih dekat lagi dan meningkatkan mutu kesadaran (awareness) tentang konservasi satwa liar beserta lingkungannya.

 

Source : https://www.cikanangawildlifecenter.com/merchandise/pendidikan-lingkungan-hidup/

 

Migrasi adalah satu satu siklus alami yang dilakukan oleh beberapa satwa seperti burung. Mereka akan mulai bermigrasi jika lokasi yang mereka tempati mulai menunjukkan berkurangnya pasokan pakan. Mereka bergantung pada jaringan rute migrasi untuk melakukan makan, istirahat dan melewati musim dingin ditempat mereka berasal.

 

Bar-headed Geese flying at high elevation. Photo by Wang LiQiang/Shutterstock.

 

Rute yang seharusnya menjadi jalur migrasi mereka sekarang telah menurun, dalam hal ini habitatnya sudah berkurang. Diantara lain penyebabnya yaitu kebakaran hutan, deforestasi, ekspansi industri, pembukaan lahan baru dan pembangunan pertanian. Yang membuat habitat alami mereka menjadi berkurang ataupun hilang.

 

Pelestarian dan pemulihan ekosistem sangat dibutuhkan, dihutan manapun diberbagai negara harus melakukannya. Karena pelestarian dan pemulihan ekosistem ini sangat berperan penting dalam kelangsungan hidup satwa.

 

Referensi :

https://www.bbc.com/news/world-asia-india-51541741

https://www.theguardian.com/environment/2019/oct/29/australias-beloved-native-birds-are-disappearing-and-the-cause-is-clear

https://www.audubon.org/news/north-america-has-lost-more-1-4-birds-last-50-years-new-study-says

https://edition.cnn.com/2020/09/14/us/new-mexico-birds-died-migration-trnd/index.html

https://www.cooleffect.org/content/project/alto-mayo-protected-forest

https://www.nature.com/articles/s41467-020-18230-0

https://www.cargill.com/history-story/id/ID_CALIFORNIA-WETLANDS.jsp

Home

Home

 

 

 

 

 

 

 

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *