Mencari Keberadaan Berang-berang di Sungai Ciliwung

Artikel
Mencari Keberadaan Berang-berang di Sungai Ciliwung
Aktivitas, Satwa
101
10 November 2022
Komunitas
Penulis
Wildansyah11
1
posting

 

Sungai Ciliwung merupakan sungai yang mengalir dari kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat melewati Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan bermuara di Teluk Jakarta. Sungai Ciliwung sendiri memiliki panjang sekitar 120km yang mempunyai fungsi sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) maupun keanekaragaman hayati di dalam nya. Oleh sebab itu, Sungai Ciliwung harus dijaga dan di kendalikan dari ancaman pencemaran sungai dan perusakan lingkungan agar dapat dipertahankan kelestarian dan dikembalikan lagi fungsinya (Diana Hendrawan, 2008).

Sungai Ciliwung dibagi menjadi 6 segmen yang berada dibawah 4 kewilayahan, yaitu Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kota Depok dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Segmen 1 dan Segmen 3 berada di wilayah Kabupaten Bogor, Sedangkan Segmen 2 berada di Pemerintahan Kota Bogor, Segmen 4 dikelola oleh Pemerintah Kota Depok, Sedangkan untuk Segmen 5 dan Segmen 6 menjadi tanggung jawab Pemerintah DKI Jakarta (Ciliwung Institute, 2013).

Keanekaragaman hayati yang terdapat di Sungai Ciliwung ini sangat beragam, Pada tahun 2011 sempat dihebohkan dengan penemuan hewan langka dan dilindungi yaitu labi-labi bintang atau Chitra chitra dengan ukuran sangat besar yang muncul akibat terbawa banjir (Konservasi Ciliwung, 2011). Selain itu terdapat 38 jenis burung (Asep Koswara, 2022), 6 jenis ikan yang termasuk ke dalam kategori ikan asli (Indigenous Spesies) (Nestiyanto Hadi, 2019) dan juga mamalia karnivora seperti berang-berang.

Berang-berang mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekosistem Sungai Ciliwung, karena perannya sebagai puncak predator dan juga sifatnya yang oportunis, mereka pun memiliki fungsi untuk mengendalikan populasi ikan, kepiting, katak dan serangga (Aadrean 2015). Berang-berang juga berfungsi sebagai indikator kesehatan lingkungan perairan dan sebagai perantara pertukaran nutrisi antara lahan basah dan lahan kering (Maurizka, 2021).

Terdapat 4 jenis berang-berang di Indonesia yaitu, berang-berang utara (Lutra lutra), berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana), berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata) dan berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) (Aadrean, 2015). Tiga jenis berang-berang di Indonesia berada dalam status lindungan menurut Permen LHK RI No. P106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang di Lindungi, sedangkan hanya berang-berang cakar kecil (Aonyx Cinereus) yang belum menjadi hewan di lindungi.

Semua jenis berang-berang yang ada di Indonesia masuk kedalam IUCN Red List, berang-berang utara (Lutra lutra) dan berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) masuk kedalam kategori Vulnerable atau Rentan, berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata) memiliki kategori Near Threatened atau hampir punah, sedangkan berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana) memiliki kategori Endangered atau terancam.

Menurut data persebaran distribusi IUCN Red List hanya berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata) yang ada di Sungai Ciliwung, sedangkan untuk berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) belum ada data persebarannya disana. Ini mendasari kami tim dari ASTA Indonesia membuat gerakan yang kami namakan Save Otter Species (SOS) untuk melakukan penelitian studi distribusi berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) di Sungai Ciliwung pada segmen 4 di wilayah Depok, Jawa Barat.

Berdasarkan hasil observasi awal yang tim ASTA Indonesia lakukan, masyarakat yang bermukim di sekitar DAS Cilliwung seringkali melihat kemunculan berang-berang dan mendengar suara nya pada malam hari, mereka pun juga mengamati kebiasaan si berang-berang ini mulai dari berjalan dengan bergerombol, membuang kotoran pada tempat yang sama, hingga posisi sarang si berang-berang itu. Namun kebanyakan masyarakat DAS Ciliwung tidak mengetahui jenis berang-berang secara spesifik dan justru tidak tahu jika terdapat kemungkinan ada 2 jenis berang-berang yang hidup di Sungai Ciliwung.

Wawancara masyarakat sekitar DAS Ciliwung

Kurangnya informasi tentang berang-berang cakar kecil adalah salah satu alasan mengapa penelitian ini penting, yakni untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai keberadaan berang-berang cakar kecil khususnya di Sungai Ciliwung Segmen 4, Depok, Jawa Barat. Ditambah dengan tingginya minat pemelihara serta jual beli berang- berang cakar kecil di area Jabodetabek yang banyak beredar di media sosial akan menjadi ancaman terhadap eksistensi satwa ini. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menyediakan  data  berang-berang  cakar  kecil  yang komprehensif untuk digunakan dalam pemantauan dan kegiatan konservasi lebih lanjut dengan menilai distribusi, populasi, dan kualitas habitatnya di Sungai Ciliwung, Indonesia.

Kota Depok sendiri menjadi salah satu wilayah yang dilewati aliran Sungai Ciliwung, yang juga memiliki komunitas-komunitas peduli lingkungan yang fokusnya untuk menjaga ekosistem ciliwung. ASTA pun melakukan kolaborasi dengan komunitas-komunitas tersebut, diantaranya Komunitas Ciliwung Depok Grand Depok City (GDC), Komunitas Ciliwung Panus, dan Saung Bambon Kelapa 2 Depok. Dari kesaksian tiap-tiap komunitas, dapat dipastikan bahwa masih adanya koloni berang-berang ini.

Pemantauan lokasi pertama di Komunitas Ciliwung GDC kami menemui Mas Trisna untuk membantu kami dalam menemukan jejak-jejak ataupun lokasi yang potensial untuk mencari keberadaan individu berang-berang ini. Kami menyusuri pinggiran Sungai Ciliwung dan menemukan banyak sekali jejak-jejak dari biawak yang cukup khas dengan adanya garis ekor. Sampai di satu titik kami menemukan jejak dari si berang-berang ini. Mulai dari jejak kaki, kotoran, sisa makanan, hingga lubang yang diduga sarang dari berang-berang.

Pada lokasi kedua yaitu di Komunitas Ciliwung Panus, kami bertemu Pak Bambang sebagai penanggung jawab di lokasi tersebut dan membantu kami dalam memberikan informasi mengenai keberadaan berang-berang ini, setelah menyisir tepi sungai dibawah kolong jembatan panus kami hanya menemukan bekas sarang dan sisa-sisa dari kotoran berang-berang.

Saung Bambon (Komunitas Ciliwung Bambon) di Lenteng Agung menjadi lokasi ketiga dalam pencarian kami untuk mendapatkan keberadaan berang-berang. Disini kami bertemu dengan Bapak Asdat sebagai koordinator Saung Bambon yang dengan ramah membantu kami untuk menunjukan lokasi yang menjadi tempat munculnya hewan mamalia ini. Berdasarkan laporan Bapak Asdat, beliau menyatakan seringkali mendengar suara berang-berang pada malam hari dan sesekali melihat hewan ini bergerombol di seberang sungai. Setelah berdiskusi sejenak kami berjalan di tepi sungai mencari jejak-jejak dari hewan ini. Bapak Asdat juga meminta kami untuk mencari tanda-tanda keberadaan berang-berang di seberang sungai, Wildan sebagai ketua kegiatan ini tim ASTA dengan sigap berenang menuju seberang sungai dan menemukan lubang besar yang kemungkinan ditempati oleh berang-berang untuk bersarang.

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *