Membunuh Suara Alam

Aktivitas, Perubahan Iklim, Satwa
Membunuh Suara Alam
5 Mei 2024
206

Jauh sebelum adanya lampu, kunang-kunang menerangi pandangan dengan percaya diri. Sebelum semuanya dirampas oleh terang benderang, bulan purnama kalah terang dan tidak lagi eksis untuk dilihat. Lalu, jalan raya ditemukan. Segala suara yang berasal dari alam, perlahan dirampas berganti dengan suara deru mesin, dan kehidupan berubah menjadi serba cepat. Hingga suara paling sunyi, tidak lagi terdengar. Seluruh pemimpin berebut suara, merampas suara, dan membunuh suara alam itu sendiri. Apakah kita pernah memikirkan, berapa banyak suara-suara hilang dan berganti suara yang baru. Bagaimana suara dukun merapal mantra pada era digital? Bagaimana suara nyamuk kalah nging-nging dengan suara disko?

Jika meyakini pohon adalah bisu, tanah adalah gumpalan yang beku, dan sungai hanya dimengerti suara gemercik. Lalu, bagaimana kita mengetahui suara hati. Suara yang dalam, terbungkus oleh kulit dan gumpalan daging, darah mengalir tanpa kita tahu dan dapat merasakan. Kita tidak pernah benar-benar tahu, lalu menganggap semuanya berjalan sesuai skenario. Seperti Tuhan yang menjadi sutradara atas drama yang terjadi dalam hidup kita. Begitupun dengan suara alam itu sendiri, hilang karena sudah digariskan hilang. Apakah semut sepasrah itu, ketika tercebur dalam gelas kopi susu?

Air terjun mengalir deras ketika debit air meningkat, angin mengusik pohon kelapa yang tenang, dan sungai membisu ketika seluruh kehidupan meninggalkannya. Bagaimana nasib ikan? Kita tidak pernah memikirkan apa yang tidak kita sukai, seperti ikan sepat sambal. Apakah tahun depan akan masih tersaji di atas meja makan? Kita tidak pernah tahu suara kepunahannya, ketika tidak benar-benar tahu dimana ikan sepat hidup. Bagaimana dekat bisa kita rasakan, sementara untuk selalu dekat; kita masih menganggap jarak itu suatu persoalan.

Lalu berapa jauh jarak antara Palembang dan Paris, ketika semua orang berbondong-bondong menggunakan Christian Dior, Louis Vuitton, Saint Laurent. Dan Menara Eifell tumbuh di kebun binatang, tempat wisata, dan dinding café tengah kota. Bagaimana kita menyaksikan perubahan demi perubahan yang terjadi, begitu cepatnya. Seakan tempat yang tak tertuju mata—begitu dekat, sementara suara yang dekat seakan jauh.

Kita memikirkan nasib kota berselimut salju, hingga nasib dusun yang terendam banjir tak menggairahkan. Maka bukalah pintu selebar-lebarnya, biarkan semua masuk dan merias tubuh dusun. Kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan sawah terendam banjir, dan musim yang sulit ditebak—sehingga semuanya berubah sedemikian cepat. Jamu berganti whisky, tuak berganti anggur, rumah panggung berganti beton, mencari ikan dicap ketertinggalan. Katakanlah kita berserah diri, siapapun yang datang kita terima. Bagaimana tiang-tiang listrik berdiri menggantung, menggantikan ranting-ranting pohon—burung gereja menggantungkan nasib disana. Semua menuju dunia baru, dan dusun-dusun sepi berias menuju gerbong keberangkatan.

Kita tidak perlu lagi menyapu daun-daun berguguran, atau menggerutu saat binatang merusak pekarangan. Semuanya telah hilang, dan manusia adalah binatang tunggal. Manusia memburu manusia lainnya. Manusia membunuh manusia lainnya. Rantai makanan tertinggi adalah manusia, semua manusia adalah hama. Semua manusia adalah predator, dan manusia Tuhan atas manusia lainnya. Suara manusia bahkan terdengar lebih keras, lebih berisik, 24 jam tidaklah lambat. Semua bergerak bagai mesin, berputar seperti roda menuruni gunung.

Apakah suara alam akan tersisa? Ketika suara jangkrik, kalah dengan deru excavator mengeruk perut bumi. Lalu pernahkah kita membayangkan 6 juta tikus bersuara dengan seksama; dan populasinya melebihi jumlah manusia. Tidak ada kata yang lebih ramah yang terucap dari Anne Hidalgo, walikota Paris, Perancis. Hidalgo meminta warganya hidup berdampingan dengan damai bersama tikus. Populasi yang mengalahkan jumlah manusia di Paris ini, membuang jutaan dolar untuk membasmi hewan pengerat ini. Tapi, apakah manusia tidak mampu mengalahkan populasi tikus. Sedangkan manusia tumbuh lebih cepat, beranak pinak, kelahiran jutaan manusia setiap hari. Apakah detik pada jam dapat mencukupi setiap kelahiran satu bayi manusia dalam satu putaran penuh 24 jam, tentu jam akan meledak berkeping-keping.

alam, esai, manusia, sastra
Tentang Penulis
Mahesa Putra
Individu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2024-05-07
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *