Elang flores “Sang Garuda Dari Timur”

Artikel
Elang flores “Sang Garuda Dari Timur”
Satwa
96
4 September 2022
Universitas Andalas
Penulis
Elsa Dwi Handayani
1
posting

Sang Garuda Dari Timur

 

Elang Flores(Nisaetus floris) merupakan salah satu raptor(burung pemangsa) endemik dari indonesia. Elang flores tersebar di dua provinsi yaitu NTB dan NTT. Di provinsi NTB tersebar di pulau Lombok dan Sumbawa. Persebaran elang flores di pulau Lombok yaitu di kawasan hutan Kerandangan, Pusuk, Santong, Sembalun, dan Senaru. Sementara di pulau Sumbawa mendiami hutan Pantai Tongoloka, hutan reklamasi batu hijau, hutan primer di kawasan Tatar Sepang, Gunung Tambora, Pulau Satonda, Pulau Sangiang dan kawasan hutan pegunungan di daerah Kaoa Lambitu, Bima. Sedangkan di provinsi NTT elang flores tersebar di pulau Flores dan Rinca.

Taman Nasional Tambora yang terletak pada kawasan Gunung Tambora ini juga menyimpan banyak berlian-berliannya Indonesia tidak hanya rusa tetapi juga elang flores.  Jumlah elang flores yang sudah terinventarisasi sejauh ini yaitu sebanyak 7 ekor, yang mana 3 pasang indukan dan 1 ekor anakan yang diberi nama febri. 3 Pasang indukan ini tersebar pada tiga lokasi yaitu di Desa Oi Katupa, Desa Kawinda Toi, dan Desa Karyasari.

Lingkungan yang dianggap sesuai menjadi habitat bagi burung yaitu habitat yang dapat menyediakan makanan, tempat berlindung maupun tempat berbiak yang sesuai bagi burung. Burung menempati habitat sesuai dengan keadaan yang diperlukan untuk mendukung keberlangsungan hidup. Habitat yang sesuai bagi suatu spesies belum tentu cocok bagi spesies yang lain, karena setiap spesies menghendaki habitat yang berbeda. Habitat yang dipilih harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya untuk melindungi/mempertahankan diri siang dan malam, bahkan jika memungkinkan untuk spanjang musim. Selain sebagai tempat untuk bersembunyi dan berlindung dari predator, burung juga memiliki tempat untuk bertengger. Tempat yang biasanya dijadikan sebagai tempat bertengger adalah ranting-ranting pohon.

Elang flores dapat ditemukan di dataran rendah serta hutan dataran tinggi hingga sekitar 1.600 mdpl. Satwa ini cenderung membuat sarang di daerah lembahan dengan kriteria pohon yang paling tinggi dibandingkan pohon sekitar dan memiliki puncak cabang utama dengan kemiringan mendekati 90°. Salah satu pohon yang memenuhi kriteria tersebut adalah pohon Rajumas (Duabanga molluccana) atau yang lebih dikenal dengan benuang laki yang tumbuh di ketinggian 60-1200 mdpl. Pohon ini memiliki ketinggian 35-50 meter dengan diameter mencapai 150 cm yang dapat ditemukan di Jawa, Bali, Lombok, Ambon, Kalimantan, Sulawesi, Talaut, Halmahera, Ternate Seram, Irian Jaya, dan Sumbawa.

Berdasarkan birdlife internasional (2013) elang flores termasuk ordo accipitriformes dan family accipitridae dengan klasifikasi sebagai berikut:

Kerajaan  : Animalia

Filum       : chordata

Kelas        : Aves

Ordo        : accipitriformes

Family      : accipitridae

Genus      : Nisaetus

Spesies     : N. Floris

Elang flores mempunyai ciri-ciri umum sebagai bagai berikut(J. O. GJERSHAUG,2004):

  1. Warna kepala putih, terkadang dengan garis-garis kecoklatan halus dimahkota.
  2. Bulu bagian punggung terlihat coklat kehitaman.
  3. Bagian dalam sayap burung berwarna putih.
  4. Bagian perut dan dada berwarna putih.
  5. Kaki dan paha berwarna putih bersih, terkadang dengan warna coklat pucat kemerahan.
  6. Ekor berwarna coklat dengan enam bar gelap, yang mana jarak antarannya sangat dekat

Selain ciri- ciri umum diatas terdapat perbedaan umum pada jantan dan betina. Ukura tubuh dari betina lebih besar dari pada jantan. Selain itu pada dada jantan terlihat seperti ada tonjolan sedangkan pada betina tidak ada. Elang flores ini mempunyai panjang 71-82 cm.

 

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *