Burung enggang “Buceros vigil Forster” dari kalimantan

Satwa
Burung enggang “Buceros vigil Forster” dari kalimantan
12 Mei 2016
8649

Hallo sahabat warrior! tahukah kamu dengan Burung Enggang, burung enggang adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk lembu tetapi tanpa lingkaran, kadang kala dengan kask pada bagian atas mandibel. Biasanya paruhnya itu berwarna garang. Nama sainsnya “Buceros” merujuk kepada bentuk paruh, dan berarti “tanduk lembu” dalam bahasa Yunani. Dalam klasifikasi ilmiah, Enggang (begitu saja kita sebut), merupakan sekelompok burung berparuh tanduk yang masuk dalam keluarga Bucerotidae. Ada sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini yang 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain.

Burung Enggang dicirikan oleh ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk sehingga dinamakan hornbill, yang berarti ‘paruh tanduk’. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras serta beberapa jenis memiliki warna tubuh yang mencolok, merupakan burung yang sangat jarang dijuampai. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) mempunyai paruh besar dan kokoh tetapi ringan serta bersifat arboreal.

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Ordo : Coraciiformes

Famili : Bucerotidae

Genus : Buceros

Spesies : Buceros vigil Forster

Burung enggang gading disebut demikian karena di antara ekornya yang panjang terselip semacam dua tangkai gading dengan panjang sekitar 50 sentimeter. Buceros vigil, demikian nama Latin burung berukuran besar ini. Enggang gading memang termasuk raksasanya burung yang bisa terbang. Dalam identifikasi ukuran, rata-rata panjang tubuhnya antara 60 – 160 cm, ditambah dengan ekor 50 sentimeter Walau besar, enggang punya bobot tubuh yang ringan antara 100 gram – 8 kg. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Enggang yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. burung ini cukup menarik perhatian para kolektor burung unik.

Diantara enggang/burung rangkong, enggang gading adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup bagian dahinya. Orang mancanegara menyebutnya ”helmeted hornbill’ atau ”ivory hornbill” karena memang kekhasannya adalah bagian atas kepalanya yang dilingkupi kulit mirip helm. ”Helm” ini berwarna merah menyala sampai ke bagian leher, menyerupai jengger ayam. Pola warna bulu-bulunya biasanya varian hitam dan coklat tua ( Bulu berwarna coklat, hitam, putih, atau hitam dan putih). Itu pun masih dihias pola lurik atau garis putih, kuning, atau krem pada bulu di area tubuh bawah, sayap, dan ekor. Enggang betina memiliki warna bulu lebih unik lagi, yakni biru sampai biru pucat.

Paruh berwarna merah atau kuning, sangat besar dan melengkung dan sebagian besar burung ini mempunyai cula. Kulit dan bulu di sekitar tenggorokan berwarna terang. Sayap kuat, ekor panjang, kaki pendek, jari-jari kaki besar.

Secara morfologi, burung Enggang Gading khas Kalbar jauh lebih cantik dan indah ketimbang Enggang di region lain bumi Kalimantan. Ekor Enggang Gading panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang Gading juga lebih kecil sehingga tidak “besar pasak dari pada tiang”. Artinya proporsional.

Burung Enggang Gading persebarannya di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Enggang tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Enggang keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah.

Secara morfologi, Ekor Enggang Gading panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang. Secara biologi Enggang Gading punya daya survival yang tinggi. Ia mampu bertahan di hutan belantara yang liar dan buas. Ia bersarang di pohon-pohon yang tinggi. Dalam hal kesetiaan, Enggang Gading paling utama. Sebagai contoh harmoni adalah saat induk betina mengeramkan telurnya. Induk jantan menjaga dengan setia selama tiga bulan lamanya. Ini tentu kesetiaan dan kebersamaan yang patut jadi teladan. Melihat kekayaan makna biologis, morfologis hingga filosofis dan religiusnya Enggang Gading wajar banyak dipilih sebagai symbol atau maskon daerah dan instansi bahkan enggang gading juga dijadikan inspirasi bagi seniman untuk membuat puisi.

Sumber :

Departemen Kehutanan Data dan Informasi Propinsi Kalimantan Barat. 2001.

Tentang Penulis
MOHAMAD JAKARIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2016-07-02
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *