Yayasan KEHATI Bentuk Jaringan Biodiversity Warriors di LSPR

Siaran Pers
Yayasan KEHATI Bentuk Jaringan Biodiversity Warriors di LSPR
41
27 Agustus 2020

Jakarta-Yayasan KEHATI dan Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR menandatangani nota kesepakatan pembentukan jaringan gerakan anak muda peduli keanekaragaman hayati Biodiversity Warriors (BW) LSPR pada 23 Juni 2020. Kerja sama ini disambut antusias oleh kedua belah pihak, dan diharapkan dapat mendorong percepatan pengarusutamaan kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia melalui kegiatan mahasiswa.

 

Penandatangan ini merupakan kick-off dari rencana pembentukan jaringan BW di beberapa universitas di Indonesia. Sampai 5 tahun ke depan, Yayasan KEHATI berharap setidaknya minimum terdapat 25 jaringan BW yang akan terbentuk. Di LSPR, basis permanen BW berafiliasi dengan unit kegiatan mahasiswa/club yang berfokus pada isu perubahan iklim atau yang dikenal dengan LSPR Climate Change Champions Club (LSPR 4C).

 

“Kerja sama pembentukan jaringan BW di LSPR sangat menarik. Sebagai universitas yang tidak memiliki fakultas yang berhubungan dengan keilmuan lingkungan, antusias LSPR untuk menciptakan bumi yang lebih baik melalui unit kegiatan mahasiswa perubahan iklimnya, harus diapresiasi. KEHATI siap mendukung program-program lingkungan hidup yang dijalankan ke depan melalui jaringan Biodiversity Warriors LSPR,” ujar Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos.

 

Melalui pembentukan basis/jaringan BW LSPR, Yayasan KEHATI juga berharap dapat memetakan dan memfasilitasi para champion muda yang telah gigih berjuang dan memiliki capaian yang menonjol di bidang lingkungan hidup. “Bersama dengan pihak kampus, KEHATI berharap dapat mengangkat profil generasi muda peduli lingkungan di ajang lingkungan nasional dan internasional,” tambah Riki.

 

Tampilkan Sosok Muda Pejuang Lingkungan

 

Sebagai awal dibentuknya basis Biodiversity Warriors di LSPR, Yayasan KEHATI dan LSPR mengadakan Webinar Bertajuk Biodiversity for Sustainable Future: Time for The Young  Generation To Care. Indonesian Biodiversity Matters (26/8). Pada sharing session ini, anggota BW berbagi tentang kegiatan konservasi yang pernah dilakukan dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat.

 

 

Salah satu pembicara yaitu Kezia Ruth Marganti Sitompul. Sejak bergabung menjadi anggota BW pada tahun 2017, Kezia aktif dalam pemeliharaan terumbu karang pada lokasi transplantasi di Kawasan Nusa Dua. Kegigihannya mengantarkan Kezia menjadi Coralwatch Ambassador yang berpusat di University of Queensland, dan merupakan  satu-satunya ambassador terpilih dari Indonesia. Atas capaiannya ini, Kezia pun berhak mengikuti pelatihan yang dilakukan di Heron Island, Australia pada 23-27 Mei 2018.  Terpilihnya Kezia merupakan bagian dari program beasiswa Kemen Ristek Dikti melalui bagian kerja sama Universitas Udayana untuk program pertukaran mahasiswa.

 

Kezia juga terlibat dalam projek pembentukan Reef Education Center di Nusa Lembongan dan buku Coral Reef Field Guide yang dilakukan atas skerja sama antara Nusa Dua Foundation dan Bali Marine Walk. Pada Pembuatan buku, Kezia terlibat  pada kegiatan pengambilan foto dan identifikasi semua jenis ikan, coral, dan biota lain di sekitar lokasi diving dan snorkeling di mangrove dan ponton Bali Marine Walk. Proses pembuatan buku berlangsung dari November 2019 – Februari 2020. Buku ini diharapkan dapat meningkatkan rasa peduli dan pengetahuan wistawan asing maupun lokal terhadap biota laut yang mereka lihat saat melakukan kegiatan snorkeling, diving maupun marine walking.

 

 

Pada sesi kedua, anggota BW asal Aceh Zulfikar berbagi tentang pengalamannya meningkatkan pendapatan masyarakat lokal di daerahnya. Berangkat dari kegelisahannya melihat tingkat kemiskinan nelayan tiram di Desa Alue Kota Banda Aceh, Zul bersama kelompok pemuda disana berusaha mendongkrak pendapatan nelayan melalui metode budi daya tiram floating culture dengan menggunakan ban bekas.

 

Selama ini, nelayan yang disana menggunakan metode budi daya konvensional, sehingga penghasilan yang didapat tidak maksimal. Setiap harinya, nelayan yang didominasi oleh ibu-ibu tersebut harus berendam selama 5-6 jam untuk mencari tiram, dan mendapatkan pendapatan yang kecil, yaitu sekitar 10 ribu sampai 15 ribu per hari.

 

Zul tidak habis pikir bagaimana masyarakatnya dengan potensi kekayaan alam yang tinggi, bisa hidup susah dan desanya menyandang status desa termiskin di Kota Banda Aceh. Pada saat itu, Zul berstatus mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala, Aceh ini.

 

Keadaan ini membuat hati Zul tergerak. Sebagai anggota Biodiversity Warriors (BW), Zul mengajukan proposal kepada Yayasan KEHATI melalui skema Small Grant Project, yaitu program pemberian dana hibah yang diberikan oleh KEHATI untuk memfasilitasi anggota BW dalam melakukan program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Dana tersebut dipakai oleh Zul untuk membeli bibit mangrove, dan sisanya dipakai untuk membeli perlengkapan budi daya tiram.

 

Zul berpikiran bahwa kegiatan restorasi mangrove harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Cara konvensional mencari tiram menyulitkan warga untuk mendapatkan penghasilan yang cukup. Di sisi lain, kerusakan ekosistem mangrove yang tidak mampu menahan terjangan tsunami di tahun 2004 menambah derita masyarakat Desa Alue Naga.

 

Sambil merestorasi lahan mangrove yang sudah rusak, Zul mengubah pola nelayan konvensional dalam mencari tiram kepada pola yang lebih modern. Melalui metode floating culture, Zul menggunakan ban mobil dan ban motor bekas yang ditancapkan ke dasar sungai untuk dijadikan keramba. Pola ini memerlukan 4 bulan untuk masa tumbuh sebelum dipanen. Tidak seperti cara lama, nelayan tiram hanya memerlukan waktu 2 sampai 3 jam saja untuk berendam di air setiap harinya.

 

Cara baru ini memberikan hasil yang positif.  Hasil panen yang jauh lebih baik dijual oleh nelayan ke daerah lain atau dijadikan produk olahan seperti kerupuk atau nugget. Penghasilan masyarakat pun meningkat drastis mencapai 100 ribu sampai 150 ribu per hari.

 

Sampai tahun 2019, Zul mencatat sekitar 75 warga yang sudah beralih ke pola floating culture. Untuk restorasi mangrove, 5 sampai 6 hektar hutan mangrove berhasil direstorasi.

 

Kondisi ekonomi nelayan yang berangsur membaik, menarik pihak lain untuk terlibat dalam pengembangan budidaya tiram melalui metode loating culture ini, antara lain, LSM lokal Natural Aceh, dan Unsyiah Aceh. Pada tahun 2019 agar lebih terorganisir dan meningkatkan pendapatan, masyarakat mendirikan sentral rumah pengolahan tiram, dan dikelola dalam bentuk BUMDES.

 

 

Selain anggota BW, webinar ini juga menghadirkan Ramon Y Tungka, seorang aktor, petualang, dan pembawa acara program wisata alam di salah satu TV swasta. Dalam berbagai kegiatannya di alam, Ramon selalu arif dalam membuang sampah. Selain itu, Ramon sudah tidak lagi membeli air minum dalam kemasan, alias membawa botol minuman yang bisa diisi ulang. Pada webinar ini Ramon berpesan agar generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang peduli terhadap kondisi alam Indonesia.

 

“Salah satu keindahan di Indonesia selain alam nusantara yang berlimpah, adalah kekuatan gotong royong, kepedulian terhadap sesama, misi kemanusiaan dan keberagaman sosial. Ini justru yang perlu kita lestarikan agar semua masalah sosial atau alam yang tak terjamah banyak orang dan berada diakar rumput dapat teratasi. Inisiatif dan inovasi pemuda saat ini berperan penting dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang ada. Turun tangan, ambil peran dan mengedepankan rasa toleran,” ujar Wakil Rektor III Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, Dr. Taufan Akbari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *