Renungan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021

Opini
Renungan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021
Flora, Kehutanan, Kelautan, Satwa
277
3 Juni 2021
Penulis
Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, MSc
Guru Besar, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB University) dan Anggota Pengawas Yayasan KEHATI

Kilas Balik Hari Lingkungan Hidup Sedunia

 

Tidak lama lagi, pada tanggal 5 Juni 2021, kita akan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environmental Day).  Ada baiknya kita semua memahami tentang sejarah dan seluk-beluk Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, agar kita dapat lebih menghayati upaya melestarikan Bumi, serta dapat turut serta melakukan berbagai upaya untuk turut serta mempertahankan keberadaan Bumi beserta segala isinya – termasuk diri kita.

 

Hari Lingkungan Hidup Sedunia terlahir saat seluruh negara anggota PBB melaksanakan ‘Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hidup’ (United Nations Conference on the Environment) pada tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm, ibu kota negara Swedia.  Berhubung panjangnya nama Konferensi, nama Konferensi tersebut sering disingkat menjadi Konferensi Stockholm (Stockholm Conference).   Prof. Emil Salim, dalam kapasitas beliau sebagai menteri yang menangani hal-hal terkait lingkungan hidup, hadir sebagai ketua Delegasi Indonesia pada Konferensi Stockholm itu.

 

Konferensi Stockholm ini amat sangat penting bagi sejarah kebangkitan pelestarian Bumi, karena pada Konferensi tersebut dirumuskan berbagai keputusan bersama secara global tentang kegiatan yang diperlukan agar Bumi beserta isinya dapat dijaga kelestariannya.  Berbagai tindakan kolektif, rencana global, kesepakatan bersama, serta kelembagaan baru, telah diputuskan dalam Konferensi Stockholm.  Salah satu keputusan Konferensi adalah menetapkan adanya Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environmental Day), yang akan diperingati oleh seluruh negara anggota PBB setiap tahun, pada tanggal 5 Juni, hari pertama diadakannya Konferensi Stockholm.

 

Terselenggaranya Konferensi Stockholm tentunya didasarkan atas fakta bahwa manusia – secara kolektif - telah banyak membuat kerusakan terhadap Bumi kita ini, sehingga dikhawatirkan ‘spaceship Earth’ ini sudah tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai hunian manusia.  Kesadaran manusia tentang Bumi yang kecil dan wajib bin harus tetap dipertahankan boleh jadi bermula dari berbagai tampilan foto yang dikirim oleh awak Apollo 11 yang berhasil mendarat di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.  Tampak nyata, betapa Bumi kita ini hanyalah berupa planet super kecil berwarna biru, yang mengambang bak pesawat luar angkasa (spaceship) di dalam Bima Sakti (Milky Way) yang maha besar. Tidaklah mengherankan jika dua tahun kemudian, tahun 1974, diadakan peringatan perdana Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema ‘Hanya Satu Bumi’ (Only One Earth), dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah.

 

Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Bumi

 

Amerika Serikat yang menjadi tuan rumah pertama untuk peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak lepas dari peristiwa penting yang terjadi pada negara itu beberapa tahun sebelumnya.  Senator Gaylord Nelson, seorang senator muda dari negara bagian Wisconsin, pada tahun 1969 membuat gerakan massal untuk melestarikan lingkungan hidup di Amerika Serikat, dipicu oleh peristiwa tumpahan minyak besar-besaran di dekat kota Santa Barbara, California bagian selatan. Tumpahan minyak mentah dari kecelakaan ledakan anjungan tambang Union Oil pada 28 Januari 1969 yang berlangsung selama sepuluh hari telah mencemari laut dan pantai di sekitarnya, menewaskan lebih dari 3.500 burung laut dan banyak satwa bahari lain, termasuk dolphin, paus dan singa laut.

 

Bangau bluwok (Mycteria cinerea) merupakan jenis burung terancam punah akibat alih fungsi lahan dan perburuan. Foto oleh Ahmad Baihaqi/Yayasan KEHATI

 

Peristiwa tumpahan minyak itu selanjutnya memicu gerakan pelestarian lingkungan hidup dan penyadaran akan bahaya yang dihadapi umat manusia akibat kegiatan manusia yang merusak alam, termasuk pencemaran laut, polusi udara, pembuangan limbah dan penyemprotan pestisida, yang dapat berdampak pula terhadap penurunan populasi berbagai jenis satwa liar. Pelaksanaan perdana untuk gerakan massal pelestarian lingkungan hidup itu diberi nama ‘Earth Day’ dan dipilih dilaksanakan pada tanggal 22 April 1970.  Maklumlah, gerakan massal itu banyak dilakukan oleh mahasiswa di seluruh Amerika Serikat, sehingga pelaksanaannya dijatuhkan pada hari Sabtu saat jeda kuliah (‘minggu tenang’; Spring break) sebelum masa ujian akhir mahasiswa.

 

Keberhasilan dari gerakan ‘Earth Day’ itu dibuktikan dengan dibentuknya United States Environmental Protection Agency (EPA) dan disahkannya berbagai undang-undang terkait pelestarian lingkungan dan satwa, termasuk Endangered Species Act dan bermacam-macam peraturan untuk menghindari polusi. Pada tahun 1990, setelah melalui berbagai proses negosiasi selama dua abad, Earth Day yang awalnya hanya diperingati di Amerika Serikat ini menjadi gerakan mendunia.  Hari Bumi (Earth Day) selanjutnya diadopsi pada tataran internasional dan diperingati bersama-sama setiap tanggal 22 April.

 

Hari Bumi ini selanjutnya menjadi pijakan kuat untuk peristiwa penting lain, yakni Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (United Nations Earth Summit), yang diadakan pada tanggal 3–14 Juni 1992 di Rio de Jainero, Brasil (dikenal juga sebagai Konferensi Rio). Seperti telah kita ketahui, produk-produk penting dari KTT Bumi ini adalah lahirnya Konferensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity; CBD), Konferensi Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCCC), Konferensi untuk Memerangi Penggurunan (Convention to Combat Desertification, CCD), serta juga Deklarasi Rio dan Agenda [menyongsong Abad] 21.

 

Restorasi sebagai Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021

 

Tema untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2021 ini adalah ‘ecosystem restoration’, amat selaras dengan tema Hari Bumi 2021: ‘restore our Earth’.  Tuan rumah untuk peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 ini adalah Pakistan, yang sejak tahun 2014 sangat rajin melaksanakan penanaman pohon mangrove, serta pepohonan di hutan dan perkotaan, sebagai bagian dari program ‘Penanaman Miliaran Pohon Tsunami’ (Billion Tree Tsunami).

 

Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bersama masyarakat tanam bibit kopi di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan, Jakarta. Foto oleh KEHATI

 

Restorasi sebagai tema lingkungan hidup seluruh dunia tidak hanya akan menjadi tema tahun 2021 saja, namun juga menjadi tema sepuluh tahun selanjutnya.  PBB akan meluncurkan ‘UN Decade on Ecosystem Restoration 2021-2030’ alias Dekade Restorasi Ekosistem pada tanggal 5 Juni 2021 nanti.  Hal ini berarti bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, PBB akan mendukung dan membantu negara, mitra dan masyarakat yang akan melakukan kegiatan mencegah dan memulihkan ekosistem alami yang terdegradasi, sebagai salah satu upaya untuk memerangi dampak perubahan iklim.

 

Kegiatan restorasi tentu tidak hanya bermakna penanaman pohon.  Restorasi memiliki arti lebih mendalam.  Ibarat merestorasi sebuah candi, restorasi adalah kegiatan untuk memulihkan seperti semula.  Restorasi adalah penciptaan kondisi seperti awalnya, persis sama dengan keadaan sebelumnya.

 

Sejak tahun 2016 melalui Program SOSIS, Yayasan KEHATI, DCA dan mitra lain berhasil menanam 6.000 bibit mangrove. Foto oleh KEHATI

 

Dengan demikian, merestorasi hutan berarti kita harus menghadirkan hutan dengan komposisi jenis pohon dan tetumbuhan seperti dahulu adanya, lengkap dengan segala isi satwa liar, serasah dan jasad renik penghuni lantai hutan.  Komplit pula dengan pemulihan fungsi hutan sebagai pengatur tata air, pencegah erosi dan longsoran tanah, penangkap dan penyimpan karbon, pelindung pantai dari abrasi laut dan intrusi air garam (untuk hutan mangrove), serta segala jasa lingkungan yang tak ternilai lainnya.  Karenanya, keberhasilan restorasi tidak hanya tercermin dari citra landsat berwarna hijau belaka, namun juga dari adanya kicauan burung, auman harimau (di Sumatra, misalnya), kerlipan kunang-kunang, rayapan kaki seribu pada lantai hutan, dan selaksa indikator lain. Sungguh merupakan pekerjaan maha sulit dan memerlukan waktu yang panjang untuk mencapai keberhasilan yang sejati!

 

Penutup

 

Hari Lingkungan Hidup Sedunia hanya ditentukan untuk satu hari, pada 5 Juni setiap tahunnya.  Demikian pula hari yang terkait erat, Hari Bumi, yang diperingati pada 22 April.  Namun demikian, kegiatan mulia untuk melestarikan Bumi dan segala isinya sudah pasti akan berlangsung secara lumintu, secara berkelanjutan, setiap hari sepanjang tahun.

 

Jangan disangka bahwa kerusakan lingkungan hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang menghasilkan beragam produk (yang sebetulnya kita pakai dan kita perlukan).  Perusahaan kelapa sawit, misalnya, sering kita protes karena menambah angka deforestasi nasional, tanpa kita menyadari bahwa sesungguhnya kita diam-diam menggunakan minyak sawit dalam keseharian kehidupan kita.

 

Sebagai individu, kita semua sesungguhnya tak luput dari ‘dosa-dosa kecil’ terhadap lingkungan Bumi. Air sisa mandi dan cucian pakaian kita yang sudah tercemari sabun mungkin tidak lagi dapat kembali menjadi bersih seperti semula, buangan kendaraan bermotor yang kita tumpangi telah terakumulasi dan turut melubangi laposan ozon – walau hanya senoktah kecil, tuala wanita yang kita buang setiap bulan (bagi perempuan seperti saya) telah menumpuk entah di mana dan terbukti sulit terurai bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.  Terlalu banyak kegiatan kita yang berdampak buruk bagi lingkungan dan Bumi kita ini. Sudah waktunya kita mengurangi beban Bumi kita, mulai mencoba membantu Bumi dan lingkungan yang tercipta di dalamnya, agar Bumi tetap dapat menjadi rumah bagi kita semua.

 

Mari kita bersama-sama melakukan kegiatan pribadi dan kolektif untuk mempertahankan keberadaan Bumi dan kualitas lingkungan hidup di dalamnya, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021.

Panduan Pemuatan Opini di Situs BW

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke biodiversitywarriors@kehati.or.id
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *