Makna Peringatan: Eling, Melakukan Perubahan dan Perbaikan

Aktivitas, Kehutanan, Satwa
Makna Peringatan: Eling, Melakukan Perubahan dan Perbaikan
22 Mei 2023
411

Hari Keanekaragaman Hayati tanggal 22 Mei 2023 diperingati tepat satu bulan setelah Hari Raya idul Fitri. Hari Fitri adalah hari yang fitroh, yang artinya lahir kembali dalam keadaan suci, membuka lembaran baru, dan mengisinya dengan yang lebih baik.  Makna memperingati, adalah muhasabah, introspeksi, evaluasi dan melakukan perubahan untuk perbaikan. Begitu banyak hari istimewa terkait keanekaragaman hayati yang ditetapkan Badan Dunia. Tiap bulan sepanjang tahun, sebut saja 2 Februari Hari Lahan Basah, 21 Maret Hari Hutan Sedunia, 22 April Hari Bumi, 22 Mei Hari Keanekaragaman Hayati, 5 Juni Hari Lingkungan Hidup, 22 Juni Hari Hutan Hujan Tropis dan 5 November Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) versi Indonesia, yang diundangkan melalui Kepres no 4, tgl 5 November 1993. Setiap bulan kita diingatkan untuk muhasabah, pentingnya keanekaragaman hayati dalam kehidupan.

Setelah KTT Bumi di Rio de Janerio (1992) dunia mengakui Indonesia sebagai megabiodiversity country ke dua setelah Brazil, yang jika kekayaan laut serta tingkat endemisme keanekaragaman hayati diperhitungkan tak ayal lagi Indonesia terkaya di dunia. Namun demikian, pada Conference of the Parties (COP/10/2010) di Nagoya, sekretariat CBD melaporkan banyak capaian yang diraih,  namun lebih banyak lagi yang belum dilaksanakan oleh tiap negara anggota. Tumpukan karya ilmiah tersimpan, agenda tertunda dan saran rekomendasi tanpa implementasi. Bahkan, di banyak negara berkembang, laju kepunahan spesies keanekaragaman hayati dan degradasi lahan semakin tinggi. Indoneia salah satu di antaranya, sehingga predikat megabiodiversity country mulai berganti menjadi hotspots country.  Peringatan demi peringatan terkait keanekaragaman hayati kita lalui. Peringatan umumnya dilakukan oleh mereka yang terdampak langsung, karena tugas, dan yang istimewa oleh komunitas akar rumput dan lembaga swadaya masyarakat.

Usaha pengarusutamaan pentingnya keanekaragaman hayati sering mengemuka, tapi kemudian senyap tertimbun hiruk-pikuk isu politik, dan gemuruh pembangunan.  Kini, 22 Mei 2023, nampaknya akan tertelan pula oleh riuhnya pesta demokrasi, pemilu.

Runtuhnya daya dukung ekosistem dan punahnya spesies ikut berkontribusi  pada perubahaan iklim global, yang pada gilirannya memberi dampak serius pada kelangsungan hidup spesies itu sendiri. Berbagai spesies keanekaragaman hayati yang tidak mampu beradaptasi karena cepatnya perubahan iklim akan punah. Jika mass extinction terjadi, maka kegoncangan dan kiamat biodiversitas tak akan terelakan. Senada dengan itu, siklus tahunan, siklus dasawarsa, siklus seabad dan siklus lainnya terus terjadi. Bumi pun tak terlepas dari siklusnya dalam satuan waktu yang lebih lama. Sebagian orang membaca tanda-tanda alam dan ancaman akan terjadinya malapetaka kehancuran bumi.

“Rupanya, kita perlu mengubah pandangan dari Megabiodiversity country menjadi Hotspots country.  Boleh tetap berbangga dengan status Megabiodiversity Country, namun dengan perilaku dan aksi sebagai The Hotspot Country. Sehingga aksi mengatasi tingginya laju kepunahan menjadi keniscayaan. Tak ada lagi deforestasi tapi restorasi ekosistem, tak ada lagi panen langsung dari alam tapi penangkaran dan budi daya.  Terjadinya erosi genetika harus dimaknai untuk bersegera melakukan rekayasa genetika menuju mandiri pangan, mandiri bahan baku obat-obatan. “

Memperingati hari-hari penting dunia terkait keanekaragaman hayati, tak terlepas dari keteladanan nenek moyang, leluhur kita dengan pengetahuan lokal dan kearifan komunitasnya dalam tata kelola biodiversitas. Mereka memahami pemanfaatan secara arif bijaksana, tidak serakah dan berkelanjutan yang ternyata kemudian sejalan atau mungkin “diadopsi” dunia menjadi bagian dari kebijakan pembangunan berkelanjutan melalui Sustainable Development Goals (SDGs).

Walaupun secara umum kondisi lingkungan memprihatinkan, biodivesitas semakin terancam, kita perlu mencatat keberhasilan yang dilakukan komunitas akar rumput, swadaya masyarakat, dan Pemerintah Daerah. Pilihan kebijakan yang dilakukan Pemerintah Daerah dengan mengedepankan perlindungan dalam pembangunan perlu mendapat perhatian. Bupati Gorontalo, Prof.  Nelson Pomalingo bersemangat menaikan status hutan produksi menjadi kawasan konservasi, yang kemudan diberi nama Tahura B.J. Habibie perlu diapresiasi. Konversi hutan produksi menjadi kawasan konservasi tentunya bukan langkah populis disbanding mengubahnya menjadi kebun monokultur, atau membangun mall yang bisa dengan cepat meningkatkan PAD. Namun, pilihan kebijakannya memandang jauh ke depan untuk keberlanjutan masyarakat lokal dan keselamatan lingkungan. Nampaknya, perimbangan kewenangan pusat- daerah, perlu disertai dengan perimbangan tanggung jawab atas perlindungan keanekaragaman hayati di lingkunganya masing-masing. Pemerintah daerah dan komunitas lokal adalah ujung tombak, satuan entitas yang melekat rapat dengan hutan, kawasan dan keanekaragaman hayati.

Pentingnya konservasi sudah sering dikumandangkan, namun tak banyak yang aksi. Hingga, moto Hari Biodiversitas 2023 yang berbunyi From agreement to action: build back biodiversity relevan adanya. Sekali lagi semangat fitrah perlu diterapkan dalam setiap peringatan terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan, untuk eling melakukan perubahan dan perbaikan. Tekanan alam yang kita hadapi semakin berat dan nyata. Perubahan iklim global, kekacauan musim tahunan serta bencana alam semakin mendera. Petaka di bumi dan jagat raya bukan hanya bayang-bayang fatamorgana, tapi nampak di depan mata. Tak bisa lagi, memperingati hari besar keanekaragaman hayati sebagai seremoni belaka, tapi harus dengan aksi dan aksi nyata.

Tentang Penulis
Prof. Dedy Darnaedi
Direktur Pusat Kajian Tumbuhan Tropika

Universitas Nasional

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke [email protected]
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *