Team Asian Waterbird Census, Biodiversity Monitoring and Wildlife Photography AN NAHL Ecopark 2021 Kunjungi Hutan Lindung Angke Kapuk

Artikel
Team Asian Waterbird Census, Biodiversity Monitoring and Wildlife Photography AN NAHL Ecopark 2021 Kunjungi Hutan Lindung Angke Kapuk
Kehutanan, Satwa
61
3 Maret 2021
Unas
Penulis
Muh khoir
5
posting

Team Asian Waterbird Census, Biodiversity Monitoring and Wildlife Photography AN NAHL Ecopark 2021 Kunjungi Hutan Lindung Angke Kapuk

Oleh : Agus Fatah (Aktivis Konservasi)

Sabtu, 27 Februari 11 personil team Waterbird Census, Biodiversity Monitoring and Wildlife Photography AN NAHL Ecopark 2021 pukul 09.30 tiba di Hutan Lindung Angke kapuk, Jakarta Utara.

Kehadiran team disambut hangat oleh pak Yusuf dan pak Rahman selaku penjaga kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk. Tiba di lokasi kami dikejutkan oleh seekor binatang yang melompat dari sebelah kanan kami, ternyata itu adalah ikan godok, ikan yang hidup di dua alam seperti katak. Ikan godok seolah senang menyambut kedatangan kami dan minta diabadikan kamera.

Usai penyambutan dan perkenalan, Pak Yusuf dan Pak Rahman memandu team menyusuri hutan mangrove seluas 40 hektare. Menyusuri jalan di hutan mangrove diatas jalur jembatan yang sudah tidak lagi kokoh merupakan tantangan tersendiri bagi team.

Sesekali pak Yusuf dan Pak Rahman yang memandu perjalanan mengingatkan team agar berhati-hati dan berjalan satu persatu saat melewati jembatan yang sudah rusak.
Disisi kiri kanan jembatan terdapat pohon pohon mangrove berbagai ukuran dari yang kecil hingga besar yang jumlahnya sangat banyak.

Fungsi tanaman mangrove itu sendiri adalah untuk memecah ombak yang sampai ke pantai agar tidak terjadi kerusakan (abrasi) pantai, disamping itu, pohon- pohon mangrove juga berfungsi sebagai tempat berkembang biaknya satwa air seperti ikan, burung, biawak, monyet, ular dan lain sebagainya.

Disepanjang perjalanan melintasi hutan mangrove kami (team) berjumpa dengan beberapa photografer profesional yang sedang menunggu kehadiran-burung-burung cantik aneka warna untuk diabadikan kameranya.

Sepanjang perjalanan Pak Rahman dan Pak Yusuf bercerita tentang burung, buaya, ikan biawak, monyet dan ular serta hewan lainnya yang ada di hutan lindung Angke. Alhamdulillah, ketika menyusuri jembatan kami melihat Itik benjut yakni burung asli penghuni hutan mangrove yang berwarna coklat kehitaman dan ada warna hijau pada bulu di bagian sayapnya dan ada juga burung raja udang biru, bangau bluwok, Kirik-Kirik laut, kuntul kecil, kareo padi, pecuk ular asia, blekok sawah, bambangan, kokokan laut, dan burung-burung air jenis lainnya

Tak lama kemudian kami melihat ada pergerakan seekor binatang memecah ketenangan air, apakah itu buaya?, alhamdulillah itu hanya seekor biawak berukuran sedang.

Setelah puas mengobservasi hutan mangrove, kami kembali ke pos penjagaan untuk bertemu seorang yang special di hutan lindung Angke. Siapakah beliau?.
Beliau adalah pak Ita, seorang pria bersahaja yang sudah 30 tahun mengabdikan hidupnya untuk merawat, menjaga dan melindungi hutan lindung Angke Kapuk.

Kami meminta waktu pak Ita untuk menjelaskan tentang keberadaan hutan lindung Angke Kapuk, alhamdulillah beliau berkenan. Berikut ini penjelasan pak Ita:

“Hutan Lindung Angke Kapuk adalah kawasan konservasi milik Pemerintah Provinsi (Pemprop) DKI Jakarta yang luasnya mencapai 40 hektare lebih. Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan hutan satu-satunya milik Pemprop DKI Jakarta. Hutan ini berfungsi sebagai tempat konservasi satwa air dan tempat migrasi burung-burung dan fauna lainnya. Di hutan ini terdapat ikan godok, ikan gabus toman, buaya muara, biawak, monyet dan beberapa jenis ular seperti Sancha dan Pyton.

Keberadaan hutan ini sangat penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan berfungsi sebagai penyumbang oksigen bagi daerah sekitar, demikian penjelasan Pak Ita”

Bagi pak Ita menjaga hutan adalah menjaga kehidupan, menjaga hutan adalah tugas kita bersama. Beliau menyayangkan masih banyak warga yang membuang sampah ke sungai hingga akhirnya sampai ke lautan dan mampir di hutan lindung Angke Kapuk.

Selesai mendengarkan penjelasan pak Ita, kami berfoto bersama, kemudian pak Ita menghadiahkan kami 10 buah bibit pohon mangrove untuk ditanam di kawasan AN NAHL Ecopark Ecopark Ecopark.

Kunjungan ke hutan lindung Angke Kapuk merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Asian Waterbird Census, Biodiversity Monitoring and Wildlife Photography AN NAHL Ecopark 2021 yang berlangsung selama Januari hingga Februari 2021. Program ini akan dilaporkan sebagai bagian dari program Asian Waterbird Census (AWC) yang disupport oleh Wetland.
Hasil dari program ini juga akan didokumentasikan dalam bentuk buku sebagai data terbaru keanekaragaman hayati di ANNAHL Ecopark.

Terimakasih atas dukungan Manajemen AN NAHL Islamic School dan Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI dalam program ini.

Selamat dan sukses kepada team Asian Waterbird Census, Biodiversity Monitoring and Wildlife Photography AN NAHL Ecopark 2021 yang telah menjalankan misi dengan baik.

“Bumi tempat kita berpijak, mari perlakuan bumi dengan bijak”

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *