“Sepenggal asa badak sumatera di bumi Borneo”

Artikel
“Sepenggal asa badak sumatera di bumi Borneo”
Satwa
71
31 Agustus 2021
MAPFLOFA Fahutan Unmul
Penulis
muhammad jalaluddin
1
posting

Badak si mamalia besar yang menjadi primadona di dunia konservasi, bentuknya yang khas dengan cula yang menjulang dan bentuk tubuh yang besar dengan lipatan kulit layaknya baju zirah perang, serta hidup secara soliter. Begitulah gambaran mudahnya badak. Badak yang merupakan keluarga Rhinocerotidae tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, namun hingga saat ini hanya menyisakan 5 spesies dan 2 diantaranya terdapat di Indonesia yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang tersebar di pulau Sumatera dan Kalimantan.

 

Keberadaan badak sumatera di Kalimantan bukan hal yang tabu bagi masyarakat lokal, khususnya masyarakat yang tinggal dan berdekatan dengan hutan, sehingga menjadi cerita yang terus berlanjut secara turun temurun. Di beberapa tempat masyarakat lokal menyebut badak dengan berbagai macam nama  cukdanup bervariasi tergantung suku atau sub-sukunya, seperti Badek atau Badok dalam bahasa Dayak Benuaq, Dayak Siang dan Uut Murung menyebut badak dengan Tomoroh atau Bandak. Dayak Kayan dan Bahau menyebutnya dengan Tamdoh atau Temedoh, kemudian Dayak Kenyah di Long Alango menyebutnya dengan Temetoh dan  Dayak Lundayeh di Kalimantan Utara menyebut badak dengan Temesur. Beberapa penamaan badak dalam bahasa lokal tersebut mengindikasikan bahwa badak sumatera tersebar di hampir seluruh hutan pulau Kalimantan.

 

Selain daripada pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal terkait keberadaan badak sumatera di Kalimantan. Pengetahuan tersebut dikuatkan dengan temuan badak sumatera di wilayah Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur yang tertangkap kamera jebak pada tahun 2013 oleh WWF – Mahakam Landscape. Temuan tersebut membuat asa badak sumatera di Kalimantan mulai menguat kembali. Populasinya diperkirakan berkisar 3 sampai 12 individu di tiap kantong habitat yang telah diketahui, kendatipun saat ini baru 4 individu diketahui yaitu Najaq, Tenaik, Pahu dan Pari.

Kondisi hutan yang rusak dan terfragmentasi akibat pembukaan lahan secara masif

Saat ini di kantong-kantong habitat yang kondisi hutannya telah terfragmentasi atau terpisah-pisah sangat mengancam kelestarian badak sumatera di Kalimantan dan bisa berakhir dengan kepunahanan. Maka kemudian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Surat Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK. 93/KSDAE/SET/KSA.2/2/2018 Jo SK.321/KSDAE/SET/KSA.2/2/2018 yaitu penunjukan tim penyelamatan badak sumatera yang terdiri dari para ahli meliputi unsur pemerintah, akademisi dalam hal ini universitas, mitra, dan organisasi konservasi badak. Maka kemudian dilakukan upaya translokasi badak di kantong-kantong habitat yang telah teridentifikasi.

 

Tahun 2014 dengan menggunakan metode Pit Trap mengawali tertangkapnya badak betina yaitu Najaq. Namun sangat disayangkan belum sampai beberapa hari tertangkap badak tersebut mati akibat luka yang disebabkan oleh jerat pemburu. Kematian Najaq semakin menguatkan bahwa keberadaan badak di habitat alaminya sangatlah terancam dan semakin memperihatinkan, ditambah lagi terdapat individu badak yaitu Tenaik yang sudah tidak ditemukan kembali jejaknya. Hilangnya 2 individu badak  di kantong-kantong habitat membuat semua elemen bergerak cepat untuk melakukan penyelamatan badak. Tahun 2018 memberikan angin segar untuk konservasi badak di Kalimantan, upaya translokasi berbuah manis dengan masuknya badak betina yaitu Pahu kedalam lubang Pit Trap. Pahu selanjutnya di translokasi ke Suaka Badak Kelian di Hutan Lindung Kelian Lestari (HLKL) yang diharapkan dapat merepresentasikan habitat badak sumatera.

 

Bagaimana nasib badak sumatera di Kalimantan selanjutnya?

Beberapa uraian tersebut tentunya memberikan tantangan dan tanggung jawab yang lebih berat, baik bagi pemerintah selaku pemangku kebijakan, kemudian lembaga-lembaga konservasi dan akademisi dalam hal ini ahli dan peneliti, dan tentunya masyarakat yang mendiami di sekitar habitat badak. Keadaan tersebut memerlukan kerja sama yang cukup serius dan bergerak lebih cepat dalam upaya penyelamatan badak sumatera di habitat alaminya. Perlu diketahui bahwa Pari masih berada di habitat alaminya dan sesegera mungkin harus diselamatkan. Pari harus menjadi salah satu prioritas utama untuk diselamatkan, selain lokasi habitatnya yang terisolasi dan terfragmentasi tentunya banyak sekali ancaman seperti jerat-jerat pemburu, illegal logging, pencari gaharu, bahkan sampai kepada ijin-ijin baru perusahaan yang dikemudian hari mungkin saja akan beroperasi. Keberadaan Pari harus tetap dipantau melalui survei monitoring yang intensif, agar pergerakan badak tersebut dapat diketahui sebelum akan dilakukan translokasi untuk menemani Pahu yang sudah lebih dulu mendiami Suaka Badak Kelian.

 

Selain Pari yang harus diprioritaskan untuk diselamatkan, tentunya Pahu yang telah 2 tahun mendiami Suaka Badak Kelian harus menjadi prioritas dan mendapatkan perhatian khusus. Dimana saat ini badak betina tersebut telah berumur (±) 20 tahun dan harus dipikirkan bagaimana Pahu tetap sehat dan subur untuk berkembang biak, guna menghasilkan individu-individu badak selanjutnya. Perlu diformulasikan bagaimana perkembangbiakannya. Poin utama dalam konteks ini adalah perkembangbiakan pahu yang harus menjadi prioritas. Selain daripada mencari atau mendatangkan individu badak jantan lainnya untuk mengawinkan badak betina yang ada di Suaka Badak Kelian, perlu juga disiapkan opsi lain seperti inseminasi buatan yang bisa saja menjadi solusi lain, bilamana tidak dapat ditemukan atau didatangkan badak jantan sumatera lainnya.

 

Tidak hanya terbatas pada penyelamatan badak  yang telah diketahui lokasinya, tentunya juga prioritas lainnya adalah membuka peluang-peluang baru untuk mencari dan menyelamatkan badak sumatera di luar daripada kantong-kantong habitat yang telah diketahui. Beberapa catatan dan laporan menyebutkan dugaan keberadaan badak sumatera di Kalimantan seperti di Kabupaten Berau dan Kutai Timur (Boer,2015), kemudian Muara Teweh (Van Strien, 1985), serta di Pegunungan Meratus, Taman Nasional Kayan Mentarang dan Taman Nasional Betung Kerihun (Foose et al., 1997). Informasi-informasi tersebut sangat bertautan dengan pengetahuan masyarakat lokal terkait keberadaan badak, seperti di wilayah Taman Nasional Kayan Mentarang yang notabene merupakan masyarakat rumpun Apo Kayan seperti Kenyah, Kayan dan Bahau yang secara umum mengetahui badak dengan sebutan Tamdoh, Temedoh dan Temetoh. Kemudian di wilayah Sungai Barito seperti gugusan pegunungan Muller-Schwaner dan gugusan Pegunungan Meratus yang cukup banyak didiami oleh rumpun Ot Danum dan Ngaju secara jelas mengetahui adanya badak, baik secara cerita turun temurun maupun warisan organ tubuh badak dari pendahulunya. Informasi-informasi tersebut perlu dilakukan verifikasi dengan menggunakan pendekatan secara ilmiah dan komprehensif. Harapannya bilamana luaran informasinya cukup kuat mengindikasikan keberadaan badak sumatera di suatu tempat maka bisa dilakukan survei lanjutan baik dalam bentuk ekspedisi maupun survei langsung secara okupansi.

Temuan gigi badak sumatera yang dimiliki oleh masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun

Hal lain yang cukup penting juga ialah kebijakan-kebijakan yang mendukung dalam upaya pelestarian badak sumatera di Kalimantan baik di tingkat nasional sampai kepada tingkat tapak. Sehingga semangat dan marwah untuk pelestarian badak dapat dirasakan oleh semua pihak dan menjadi kepentingan bersama. Pada dasarnya upaya penyelamatan badak sumatera di Kalimantan tidak hanya menjadi kepentingan di tingkat daerah dan nasional tapi juga kepentingan dunia, karena menyangkut dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan genetik, mengingat secara status baik di tingkat nasional maupun dunia badak Sumatera merupakan satwa yang dilindungi dan terancam punah.

 

Perlu diketahui bahwasanya pada 23 November 2019 Iman menjadi badak sumatera terakhir yang menghuni Suaka Tabin telah dinyatakan mati dan bahkan yang cukup menyedihkan adanya laporan yang menyatakan badak di kawasan tersebut (Sabah) telah punah di alam liar (Havmoller et al., 2015). Tentunya hal tersebut menjadi pengingat bagi kita untuk tetap menjaga asa penyelamatan badak Sumatera di Kalimantan. Mengingat penyelamatan badak sumatera di Kalimantan sangat berpacu dengan waktu, baik badak yang saat ini masih berada di habitat alaminya maupun yang sudah berada di suaka badak.

 

Waktu tak pernah kembali, kesempatan tak pernah datang berkali-kali, tentunya perlu untuk menentukan pilihan apakah kita akan melakukan pembiaran terhadap badak-badak tersebut untuk punah dan menyisakan cerita serta penyesalan. Pembelajaran telah banyak kita saksikan tentang punahnya satwa dan hilangnya hutan. Menyelamatkan badak merupakan bagian daripada menjaga hutan dan satwa lain yang mempunyai peran dan fungsi penting dalam ekosistem untuk kehidupan manusia.

 

Sumber Foto : Muhammad Jalaluddin (MAPFLOFA Fahutan Unmul) dan Ridwan Setiawan (WWF-Indonesia)

Sumber Pustaka:

Boer, C., A.L. Manurung., Y. Kurniawan. and A.D. Kusuma 2015. How do rhinos still exist in tropical rain forest of Kalimantan.Majalah Swara Samboja 4 (2): 12-14. Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam. Samboja.

Foose, T.J., & N. van Strien (Editors). 1997. Asian Rhinos – Status Survey and Conservation Action Plan. IUCN, Gland, Switzerland, and Cambridge, UK.

Havmøller, R.G., J. Payne, W. Ramono., S. Ellis., K. Yoganand B. ., Long., E. Dinerstein A. C. Williams., R.H. Putra., J. Gawi., B. K. Talukdar and N. Burgess. 2015 Will current conservation  responses save the Critically endangered Sumatran rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis? Oryx: 1-5 Short Communication.

Van Strien, N.J., B. Manullang, Sectionov, W. Isnan, M.K.N. Khan, E. Sumardja, S. Ellis, K.H. Han, Boeadi, J. Payne, M.E. Bradley. 2008. Dicerorhinus sumatrensis. The IUCN Red List of Threatened Species 2008.

 

2
Bagikan:

Komentar (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *