Selamatkan Orangutan Sumatera

Artikel
Selamatkan Orangutan Sumatera
Lain-lain
1286
19 Juni 2014
Penulis
Subhan Hadi
74
posting

Dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir Indonesia telah kehilangan 80% populasi orangutan Sumatra, saat ini diperkirakan kurang dari 7,000 orangutan Sumatra liar yang masih bertahan. The International Union for Conservation and Nature (IUCN) memasukkan orangutan Sumatra kedalam “Daftar Merah”, yang berarti kondisinya amat sangat kritis atau menuju kepunahan. Leuser ekosistem yang terletak di Pulau Sumatra merupakan pertahanan terakhir populasi orangutan Sumatra. Karena bio-diversitas dan keunikan Leuser, taman nasional ini dideklarasikan sebagai Situs Dunia Warisan Alam UNESCO di tahun 1994. Sayangnya, hutan yang dilindungi inipun tidak luput dari perambahan dan aktivitas manusia lainnya yang merusak. Ekspansi perkebunan sawit secara besar-besaran dan brutal hingga memasuki kawasakan eko-sistem yang rentan ini, dikatakan sebagai penyebab utama kerusakan habitat dan ancaman terbesar bagi keberlangsungan orangutan Sumatra. Perambahan liar dan perdagangan satwa juga berkontribusi terhadap kerusakan habitat mereka. Induk orangutan seringkali menjadi sasaran perburuan untuk kemudian bayinya diambil dan diperjual-belikan.

Walaupun berada di peringkat empat pemilik hutan tropis dunia dan pemilik 10% dari hutan tropis yang tersisa di dunia, Indonesia justru salah satu tertinggi dalam hal deforestasi, hampir 2% tiap tahunnya. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan dunia akan kayu mentah, minyak sawit dan hasil agrikultur lainnya. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, penebangan liar dan pembakaran hutan adalah contoh lain yang berkontribusi besar terhadap hilangnya hutan hujan tropis di Indonesia. Populasi orangutan Sumatra terus saja berkurang, dan hutan masih terus di konversi, di bakar, dan dihancurkan, bahkan terjadi didalam areal Taman Nasional yang dilindungi oleh negara. Taman Nasional Gunung Leuser adalah salah satu dari beberapa Taman Nasional yang ada di Indonesia yang sebenarnya dilindungi tetapi tidak luput dari perambahan liar dengan tingkat perambahan dan kerusakan ekosistem yang cukup tinggi.

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *