Primata Jawa

Artikel
Primata Jawa
Satwa
2471
6 Juli 2014
Penulis
nando makur
38
posting

Primata adalah bagian dari kingdom animalia yang memiliki ciri-ciri memiliki tulang yang lentur membuat tubuhnya menjadi luwes untuk bergerak, hal ini terlihat dari cara primata berjalan, berlari, melompat atau memanjat pohon, Struktur tubuh primata berbeda dengan jenis mamalia lain, struktur tubuhnya lebih tegak, sehingga primata dapat duduk, berdiri dan berjalan dengan tegak walaupun untuk beberapa saat, memiliki kuku, dan Ciri utama primata dibanding dengan jenis mamalia lainnya adalah kedua matanya menghadap ke depan atau stereocospis. Hal ini memperlihatkan bahwa sistem penglihatannya sudah maju. Primata yang sudah maju dalam tingkat evolusinya sudah dapat membedakan warna, berbeda dengan primata primitif yang masih menggunakan indera penciuman dalam berkomunikasi. di pulau Jawa terdapat 5 jenis primata yaitu:

1. Owa Jawa (Hylobates moloch)

Foto by nan_parinters

Owa Jawa merupakan salah satu primata endemic pulau Jawa. Tubuh Owa Jawa ditutupi rambut yang berwarna abu-abu sampai bagian atas kepala berwarna hitam, dan seluruh wajahnya berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu seperti warna rambut di tubuhnya. Owa Jawa hidup di hutan tropic mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.400-1.600 meter dpl. Owa Jawa hidupnya berpasangan (monogami). Umumnya Owa Jawa beraktivitas di atas pohon (arboreal), diurnal dan bergerak dengan cara brankiasi.

2. Lutung Budeng (Trachyoithecus auratus)

Foto by nan_parinters

Lutung Budeng memiliki rambut berwarna hitam, diselingi warna keperak-perakan, bagian kepala mempunyai jambul. Untuk anak lutung yang baru lahir berwarna kuning jingga dan tak berjambul. Lutung ini dapat hidup di hutan bakau, hutan dataran rendah dan tinggi. Untuk kehidupan hariannya Lutung Budeng hidup berkelompok, dimana terdapat jantan sebagai pemimpin kelompok tersebut. Umumnya Owa Jawa beraktivitas di atas pohon (arboreal), diurnal. Untuk pergerakan lutung ini lebih sering melompat dan berjalan dengan menggunakan keempat alat gerak tubuhnya.

3. Kukang Jawa (Nyctcebus javanicus)

Foto by Willy Ekariyono

Kukang Jawa memiliki rambut berwarna kelabu keputih-putihan, dimana di bagian punggungnya terdapat garis coklat yang melintang dari bagian belakang tubuh smapai bagian dahi, ekornya pendek dan melingkar. Di sekitar mata rambutnya juga berwarna coklat yang membentuk bulatan Kukang Jawa hidup di hutan primer dan sekunder, di hutan bamboo serta hutan bakau. Pergerakan kukang dengan cara merangkak (quadropedal) pergerakan kukang sendiri sangat lamban. Untuk aktivitasnyaa kukang jawa aktif pada malam hari (nocturnal).

4. Surili (Presbytis comata)

Foto by nan_parinters

Tubuh Surili Jawa ditumbuhi bulu berwarna hitam, kecoklatan atau keabuan untuk bagian kepala hingga punggung. Sedangkan rambut di bagian dagu, dada, perut, lengan bagian dalam, kaki, dan ekor berwarna putih. Kulit pada muka dan telinga berwarna hitam pekat agak kemerahan. Panjang ekornya berkisar antara 56-72 cm. Surili Jawa atau Javan Surili hidup dalam kelompok kecil beranggotakan antara 7-12 ekor. Hewan endemik jawa ini melakukan poligami dimana satu ekor jantan akan mengawini beberapa betina sekaligus dalam kelompoknya. Surili Jawa (Presbytis comata) juga merupakan binatang diurnal (aktif pada siang hari). Sebagian besar aktifitasnya, termasuk tidur, dilakukan di atas pohon (arboreal). Surili Jawa menempati habitat hutan primer dan sekunder mulai dari hutan pantai, hutan bakau, hutan pegunungan pada ketinggian sekitar 2000 m dpl.

5. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)

Foto by Willy Ekariyono

Merupakan jenis monyet yang panjang tubuhnya hampir sama dengan panjang ekornya, dengan warna tubuh yang bervariasi dari abu-abu sampai kecoklatan. Tersebar hampir di seluruh kawasan di Indonesia Monyet ini hidup berkelompok, hidup di hutan primer dan sekunder, di hutan bamboo serta hutan bakau. Pergerakan kukang dengan cara merangkak (quadropedal), merupakan binatang diurnal (aktif pada siang hari). Sebagian besar aktifitasnya, termasuk tidur, dilakukan di atas pohon (arboreal).

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *