Perkutut Jawa / Perkutut

Artikel
Perkutut Jawa / Perkutut
Satwa
2329
21 Juni 2016
Al-Azhar Cairo Islamic School Yogyakarta
Penulis
Rahmadiyono Widodo
43
posting

Perkutut jawa (Geopelia striata) mempunyai ciri-ciri berukuran sedang (21-22 cm), tubuh bagian atas berselimut bulu-bulu coklat-tanah kusam yang berujung hitam. Sisi terluar bulu ekor berwarna kehitaman dengan ujung putih. Kepala abu-abu, pada bagian leher dan sisi-sisi nya bergaris hitam halus. Kulit tak berbulu di sekeliling mata, Iris, dan paruh abu-abu kebiruan, Kaki merah-jambu tua [1]. Pola bulunya yang bergaris-garis membuatnya disebut juga Zebra Dove.

(Foto sepasang burung Perkutut jawa. Foto oleh Rahmadiyono Widodo @Yogyakarta)

Perkutut jawa (Geopelia striata) merupakan burung penetap atau native di negara Indonesia, Brunei, Kamboja, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand [2 iuc]. Selain penetap, Perkutut jawa (Geopelia striata) termasuk burung introduksi dibeberapa negara yang lain. Di Indonesia, Perkutut jawa (Geopelia striata) termasuk salah satu burung yang istimewa karena menjadi icon dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak masa kerajaan di Indonesia, burung Perkutut jawa (Geopelia striata) termasuk burung yang sangat akrab dengan kehidupan kraton. Banyak abdi dalem kraton dan warga disekitar kraton yang menjadikan Perkutut jawa (Geopelia striata) sebagai burung peliharaan karena suaranya yang merdu.

Perkutut jawa (Geopelia striata) merupakan anggota Columbidae yang umum dijumpai didataran rendah. Sering mengunjungi ladang terbuka, persawahan, dan pedesaan. Berdasarkan pengamatan penulis, Perkutut jawa (Geopelia striata) juga termasuk burung yang sering dijumpai di wilayah perkotaan.

(Foto seekor burung Perkukut Jawa diatas gedung perkotaan. Foto oleh Rahmadiyono Widodo @Yogyakarta)

Dalam beraktivitas seringkali berpasangan hingga dalam kelompok kecil. Mudah berbaur dengan burung lain seperti burung-gereja erasia, kerak kerbau, dan tekukur biasa. Makanannya umumnya adalah biji-bijian dan buah-buahan. Diwilayah kampus UNY, Perkutut jawa (Geopelia striata) seringkali terlihat mengunjungi pohon talok/kersen.

Mengenai perkembangbiakan di wilayah Borneo,  Perkutut jawa (Geopelia striata)  berbiak di bulan Oktober [3].  Berdasarkan pengamatan penulis di Jawa Tengah, burung Perkutut jawa (Geopelia striata) terlihat mengasuh anaknya pada bulan Juni. Sehingga dapat disimpulkan Perkutut jawa (Geopelia striata)  juga memulai berkembangbiak pada bulan Mei.

Perkutut jawa (Geopelia striata) termasuk burung dengan status konservasi beresiko rendah, dalam daftar merah IUCN disebutkan populasinya stabil [2]. Di wilayah Yogyakarta, Perkutut jawa (Geopelia striata) masih sangat sering dijumpai dialam bebas meskipun di pasar-pasar burung statusnya juga termasuk burung yang sering diperdagangkan.    

 

 

Referensi :

[1] MacKinnon, Jhon, Keren Philips, & Bas van Balen. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. diterjemahkan oleh Wahyu Rahardianingtrah dkk. Bogor : LIPI-Burung Indonesia.

[2] BirdLife International. 2012. Geopelia striata. The IUCN Red List of Threatened Species 2012: e.T22690708A38959225. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2012-1.RLTS.T22690708A38959225.en. Downloaded on 21 June 2016

[3] Baptista, L.F., Trail, P.W., Horblit, H.M. & Kirwan, G.M. (2016). Zebra Dove (Geopelia striata). In: del Hoyo, J., Elliott, A., Sargatal, J., Christie, D.A. & de Juana, E. (eds.).Handbook of the Birds of the World Alive. Lynx Edicions, Barcelona

 

Sumber foto :

Foto : Dokumen pribadi

Foto Tumb : Dokumen Pribadi  

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *