Banteng dan Macan Tutul Jawa: “Payung” Baru Satwa Baluran
Banteng dan Macan Tutul Jawa: “Payung” Baru untuk Menjaga Satwa Baluran
Taman Nasional Baluran sering dijuluki “Africa van Java” karena bentang alamnya yang khas: hamparan savana, hutan musim, hutan pantai, hingga hutan dataran rendah. Namun, di balik lanskap yang indah itu, Baluran menghadapi tekanan ekologis yang tidak ringan. Invasi pohon Acacia nilotica, keberadaan ternak yang berkeliaran bebas, pengambilan sumber daya, hingga perburuan satwa menjadi ancaman bagi kualitas habitat dan keberlangsungan satwa liar di dalam kawasan.
Sebuah penelitian terbaru berjudul “A compact workflow for determining umbrella species” mencoba menjawab pertanyaan penting: satwa apa yang paling tepat dijadikan “spesies payung” untuk membantu mengarahkan upaya konservasi di Baluran?
Artikel ilmiah ini ditulis oleh Drajat D. Hartono, Sandy Nurvianto, Johan Setiawan, Ikhsan F. Naufalianto, Arif Pratiwi, Muhammad Iqbal, Carl Traeholt, Hafizh A.K. Rakananda, Hariyawan A. Wahyudi, dan Sulistiono. Para penulis berasal dari sejumlah institusi, yaitu Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman, Balai Taman Nasional Baluran, serta Copenhagen Zoo Indonesian Programme. Artikel ini diterbitkan dalam jurnal Perspectives in Ecology and Conservation volume 24 tahun 2026, halaman 332–338, dan tersedia secara daring sejak 18 Mei 2026. Penulis pertama, Drajat D. Hartono, juga disebut sebagai penulis korespondensi dalam artikel tersebut.
Apa itu spesies payung?
Spesies payung adalah jenis satwa yang perlindungannya diharapkan ikut melindungi banyak spesies lain yang hidup di habitat yang sama. Ibarat payung, ketika satu spesies kunci dilindungi dengan baik, maka ruang hidup, sumber pakan, jalur pergerakan, dan keamanan habitatnya juga akan memberi manfaat bagi satwa lain.
Namun, memilih spesies payung tidak boleh hanya berdasarkan popularitas atau karisma. Satwa yang terkenal belum tentu paling efektif untuk mewakili kebutuhan ekosistem. Karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan yang lebih terukur, transparan, dan dapat diuji ulang.
Kamera jebak sebagai mata di lapangan
Penelitian dilakukan dengan memasang kamera jebak pada grid pengelolaan berukuran 1 × 1 km di kawasan daratan Taman Nasional Baluran. Sebanyak 101 titik kamera direncanakan untuk memantau satwa, meskipun pada akhirnya 56 titik menghasilkan data yang dapat digunakan karena adanya kerusakan, kehilangan, atau gangguan alat.
Dari 1.591 malam kamera aktif, peneliti merekam 13 jenis mamalia darat. Dari jumlah tersebut, sembilan jenis mamalia besar dianalisis lebih lanjut karena memiliki sedikitnya lima deteksi independen. Jenis-jenis tersebut antara lain banteng, kerbau liar/kerbau feral, rusa timor, kijang muncak, babi hutan, ajag, macan tutul jawa, monyet ekor panjang, dan lutung budeng.
Tujuh kriteria untuk memilih spesies payung
Peneliti tidak hanya melihat satwa mana yang paling sering muncul di kamera. Mereka menggunakan tujuh kriteria, yaitu:
- tingkat kemunculan bersama dengan satwa lain;
- ketersediaan pengetahuan ilmiah tentang spesies tersebut;
- luas jelajah;
- status konservasi berdasarkan IUCN;
- relevansi dengan pengelolaan taman nasional;
- sensitivitas terhadap gangguan manusia;
- kemudahan pemantauan di lapangan.
Dengan cara ini, pemilihan spesies payung menjadi lebih objektif. Satwa yang terpilih bukan sekadar “ikon”, melainkan spesies yang secara ekologis dan manajerial memang penting bagi upaya konservasi.
Hasil utama: banteng dan macan tutul jawa menempati posisi teratas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banteng (Bos javanicus javanicus) dan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) memperoleh skor tertinggi sebagai spesies payung skala taman nasional. Keduanya sama-sama memiliki skor komposit 16, lebih tinggi dibandingkan kandidat lainnya.
Banteng dinilai penting karena sangat terkait dengan pengelolaan savana, ketersediaan pakan, pengelolaan sumber air, dan pemulihan habitat terbuka. Jika habitat banteng diperbaiki, maka satwa herbivora lain yang memanfaatkan savana dan sumber air kemungkinan juga ikut memperoleh manfaat.
Sementara itu, macan tutul jawa berperan sebagai predator puncak. Perlindungan terhadap macan tutul tidak hanya berkaitan dengan keberadaan individunya, tetapi juga dengan ketersediaan mangsa, keamanan habitat, konektivitas ruang jelajah, serta pengurangan gangguan manusia. Dengan kata lain, menjaga macan tutul berarti juga menjaga rantai makanan dan keseimbangan ekosistem.
Mengapa tidak cukup satu spesies saja?
Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan multi-spesies payung. Artinya, konservasi tidak hanya bertumpu pada satu satwa. Banteng dan macan tutul jawa dapat menjadi jangkar utama, tetapi peran herbivora lain seperti rusa timor dan kijang juga penting karena memiliki tingkat kemunculan bersama yang tinggi dengan satwa lain.
Pendekatan ini lebih realistis karena Baluran bukan hanya hutan, tetapi mosaik savana dan hutan. Satwa yang hidup di habitat terbuka, satwa pemangsa, dan satwa yang menjadi mangsa memiliki peran yang saling terkait. Dengan menggabungkan beberapa spesies sebagai indikator, pengelolaan kawasan dapat lebih menyeluruh.
Apa arti temuan ini bagi pengelolaan Baluran?
Temuan ini memiliki implikasi praktis. Upaya konservasi di Baluran dapat diarahkan pada beberapa tindakan utama, seperti pengendalian Acacia nilotica, pemulihan pakan alami di savana, pengelolaan sumber air pada musim kering, pengurangan tekanan ternak yang berkeliaran bebas, serta patroli pada lokasi rawan perburuan dan gangguan manusia.
Jika banteng menjadi indikator keberhasilan savana, maka meningkatnya kehadiran banteng dapat menjadi tanda bahwa pemulihan habitat berjalan baik. Jika macan tutul jawa tetap terpantau dan mangsanya tersedia, maka hal itu dapat menunjukkan bahwa struktur ekosistem masih berfungsi.
Yang menarik, penelitian ini juga menyarankan agar grid kamera jebak yang sama digunakan secara berulang dari tahun ke tahun. Dengan demikian, pengelola taman nasional dapat memantau perubahan populasi dan pola kehadiran satwa secara konsisten, bukan hanya berdasarkan pengamatan sesaat.
Konservasi yang lebih terukur
Kekuatan utama penelitian ini adalah pendekatannya yang ringkas, transparan, dan dapat diaudit. Setiap kriteria dinilai secara jelas, sumber datanya disebutkan, dan hasilnya dapat diuji kembali. Ini penting karena keputusan konservasi sering kali harus dibuat dalam kondisi sumber daya yang terbatas.
Bagi kawasan konservasi lain di Indonesia, metode ini dapat menjadi contoh. Taman nasional atau kawasan konservasi lain dapat menggunakan kamera jebak, data ekologi, dokumen pengelolaan, serta masukan ahli untuk menentukan spesies payung yang paling sesuai dengan kondisi lokal masing-masing.
Penutup
Banteng dan macan tutul jawa bukan sekadar satwa karismatik Baluran. Keduanya dapat menjadi penanda penting bagi kesehatan ekosistem. Banteng mewakili denyut kehidupan savana, sementara macan tutul jawa mencerminkan keberlanjutan rantai makanan dan keamanan habitat.
Dengan menjadikan keduanya sebagai bagian dari strategi spesies payung, pengelolaan Baluran dapat bergerak lebih terarah: memulihkan savana, menjaga sumber air, mengurangi tekanan manusia, memperkuat patroli, dan memantau hasilnya secara ilmiah. Pada akhirnya, melindungi banteng dan macan tutul jawa berarti juga membuka peluang lebih besar untuk menjaga keseluruhan komunitas mamalia Baluran.
Sumber: https://doi.org/10.1016/j.pecon.2026.04.003


