Artikel
Kehutanan, Satwa

Burung-Burung Bawah Tajuk: Penjaga Sunyi di Hutan Jati Cepu

Burung-Burung Bawah Tajuk: Penjaga Sunyi di Hutan Jati Cepu

Hutan jati di Jawa selama ini lebih sering dikenal sebagai sumber kayu bernilai ekonomi tinggi. Tegakan jati dikelola untuk menghasilkan batang berkualitas, lurus, dan bernilai jual. Namun, di balik fungsi produksinya, hutan jati juga menyimpan kehidupan lain yang tidak kalah penting: komunitas burung yang memanfaatkan lapisan bawah hutan atau understory.

Sebuah artikel ilmiah berjudul “Understory Avian Community in a Teak Forest of Cepu, Central Java” meneliti bagaimana burung-burung menggunakan lapisan bawah hutan jati di Cepu, Jawa Tengah. Penelitian ini menunjukkan bahwa hutan tanaman jati tidak hanya berfungsi sebagai kawasan produksi kayu, tetapi juga dapat menjadi tempat berlindung bagi berbagai jenis burung, terutama burung pemakan serangga.

Artikel ini ditulis oleh M. A. Imron, M. Tantaryzard, R. A. Satria, Irwan Maulana (Saya), dan S. Pudyatmoko dari Wildlife Ecology and Management, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Artikel tersebut diterbitkan dalam Journal of Tropical Forest Science, volume 30 nomor 4 tahun 2018, halaman 509–518, dengan DOI 10.26525/jtfs2018.30.4.509518.

Mengapa burung di bawah tajuk penting?

Dalam ekosistem hutan, burung tidak hanya hadir sebagai penghias lanskap. Mereka berperan sebagai pemakan serangga, penyebar biji, penyerbuk, hingga bagian dari rantai makanan. Keberadaan burung juga sering digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem, termasuk dalam penilaian pengelolaan hutan lestari.

Lapisan bawah hutan menjadi ruang penting bagi banyak jenis burung. Di sana terdapat semak, tumbuhan rendah, serasah, cabang rendah, sumber pakan, dan tempat berlindung. Namun, lapisan ini juga paling mudah terganggu oleh aktivitas manusia, seperti pembersihan lantai hutan, penjarangan, pemangkasan, dan kegiatan pemanenan kayu.

Karena itu, memahami komunitas burung di lapisan bawah hutan jati penting untuk melihat sejauh mana hutan produksi masih dapat mendukung keanekaragaman hayati.

Empat tipe hutan jati yang diamati

Penelitian dilakukan di kawasan hutan jati Cepu, Jawa Tengah, yang dikelola oleh Perum Perhutani. Peneliti membandingkan empat kondisi hutan jati, yaitu jati klonal, jati konvensional, jati agroforestri, dan jati tua atau old-growth teak plantation. Keempat tipe ini mewakili kondisi silvikultur yang berbeda.

Pada halaman 2, peta lokasi penelitian menunjukkan sebaran titik pengamatan pada empat tipe tegakan tersebut. Titik-titik pengamatan burung disusun secara sistematis dengan jarak sekitar 200 meter antar titik. Pengamatan dilakukan pada lapisan bawah hutan hingga ketinggian 4 meter dari permukaan tanah.

Bagaimana burung diamati?

Peneliti menggunakan metode point count, yaitu pengamatan burung dari titik tertentu dalam waktu tertentu. Setiap titik diamati selama 10 menit, dengan radius pengamatan 50 meter, dan diulang sebanyak tiga kali.

Burung yang terdeteksi kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis pakannya atau guild, seperti pemakan serangga, pemakan biji, pemakan buah, pemakan nektar, omnivora, dan karnivora. Pengamatan juga memperhatikan pada ketinggian berapa burung-burung tersebut muncul, yaitu di permukaan tanah, ketinggian 0–2 meter, dan 2–4 meter.

Hasil utama: ditemukan 23 jenis burung

Penelitian ini mencatat 23 jenis burung yang menggunakan lapisan bawah hutan jati. Komunitas burung tersebut terdiri atas satu jenis karnivora, satu jenis frugivora atau pemakan buah, dua jenis granivora atau pemakan biji, sembilan jenis insektivora atau pemakan serangga, dua jenis nektarivora, dan delapan jenis omnivora.

Kelompok yang paling menonjol adalah burung pemakan serangga. Kelompok ini ditemukan sebagai pengguna utama lantai dan lapisan bawah hutan jati, terutama pada tipe agroforestri, jati konvensional, dan jati tua. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan bawah hutan jati menyediakan sumber pakan penting berupa serangga dan invertebrata kecil.

Agroforestri memberi variasi habitat lebih baik

Salah satu temuan menarik adalah bahwa tipe jati agroforestri menyediakan variasi habitat yang lebih beragam dibandingkan tipe lainnya. Pada sistem ini, tegakan jati yang relatif muda bercampur dengan tanaman pertanian di sela-selanya. Selain itu, terdapat bagian riparian atau hutan galeri yang lebih tua dan memiliki struktur vegetasi lebih tinggi.

Variasi tersebut menciptakan ruang yang lebih beragam bagi burung. Dengan kata lain, semakin beragam struktur vegetasi, semakin banyak pilihan bagi burung untuk mencari makan, berlindung, dan bergerak.

Pada halaman 3, ilustrasi karakteristik vertikal tegakan menunjukkan perbedaan struktur antar tipe hutan jati. Agroforestri dan jati konvensional tampak memiliki lebih dari satu lapisan vegetasi, sedangkan jati klonal dan jati tua cenderung membentuk satu lapisan yang lebih seragam.

Jati klonal belum tentu ramah bagi semua burung

Jati klonal dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas kayu. Namun, dalam penelitian ini, tipe jati klonal tidak menunjukkan kondisi yang paling baik bagi burung-burung hutan. Kanopi yang rapat membatasi masuknya cahaya ke lantai hutan, sehingga memengaruhi kondisi tumbuhan bawah dan ketersediaan sumber pakan.

Menariknya, pada jati klonal, burung pemakan biji atau granivora justru memiliki tingkat perjumpaan yang lebih tinggi. Hal ini diduga dipengaruhi oleh keberadaan lahan pertanian di sekitar tegakan, seperti sawah, yang menyediakan sumber pakan tambahan bagi burung pemakan biji.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keberadaan burung tidak hanya ditentukan oleh kondisi di dalam petak hutan, tetapi juga oleh lanskap di sekitarnya.

Hutan jati sebagai tempat berlindung

Meskipun hutan jati adalah hutan tanaman, penelitian ini menegaskan bahwa hutan jati tetap memiliki peran penting sebagai refuge area atau tempat berlindung bagi burung. Namun, peran tersebut sangat dipengaruhi oleh struktur vegetasi, variasi habitat, dan kondisi lanskap sekitar.

Pada halaman 6 dan 7, grafik tingkat perjumpaan burung memperlihatkan bahwa burung pemakan serangga memiliki tingkat perjumpaan tinggi pada beberapa tipe tegakan, terutama pada ketinggian 0–2 meter. Ini menunjukkan bahwa lapisan bawah hutan merupakan ruang aktif bagi burung, bukan sekadar bagian kosong di bawah tegakan jati.

Riparian dan hutan galeri perlu dijaga

Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah perlunya memperbaiki dan menjaga habitat di sekitar petak hutan, terutama riparian atau kawasan sempadan sungai serta hutan galeri (hutan yang tumbuh membentuk koridor di sepanjang aliran sungai). Area seperti ini dapat berfungsi sebagai koridor, batu loncatan, dan tempat berlindung bagi burung.

Peneliti menyarankan agar peningkatan kualitas habitat tidak hanya dilakukan di dalam petak jati, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya. Penambahan jenis tumbuhan lokal, peningkatan variasi vegetasi, serta perlindungan area riparian dapat membantu mendukung keanekaragaman burung di hutan tanaman.

Pelajaran bagi pengelolaan hutan produksi

Penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengelolaan hutan jati di Jawa. Produksi kayu dan konservasi keanekaragaman hayati tidak harus selalu dipandang berlawanan. Dengan pengelolaan yang lebih sensitif terhadap struktur habitat, hutan tanaman tetap dapat memberi ruang bagi satwa liar.

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain mempertahankan vegetasi bawah pada bagian tertentu, menjaga variasi struktur tegakan, memperkuat fungsi riparian, dan berhati-hati saat pembersihan lantai hutan menjelang pemanenan. Meskipun tebang habis pada hutan jati dilakukan dalam skala petak yang relatif terbatas, area sekitar petak yang dipanen perlu tetap menyediakan tempat berlindung bagi burung.

Penutup

Hutan jati Cepu bukan hanya deretan pohon produksi. Di bawah tajuknya, ada kehidupan burung yang bergerak, mencari makan, dan menjaga keseimbangan kecil ekosistem. Burung-burung pemakan serangga, pemakan biji, pemakan nektar, hingga omnivora menunjukkan bahwa hutan tanaman masih dapat memiliki nilai ekologis.

Penelitian ini mengingatkan bahwa keberlanjutan hutan tidak hanya diukur dari volume kayu yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan hutan tersebut mempertahankan kehidupan di dalamnya. Dengan menjaga lapisan bawah, memperkaya vegetasi, dan memperhatikan lanskap sekitar, hutan jati dapat menjadi ruang produksi sekaligus ruang hidup bagi keanekaragaman hayati.