PERILAKU UNIK KATAK SERASAH, MENGGENDONG ANAK ATAU KAWIN ?

Artikel
PERILAKU UNIK KATAK SERASAH, MENGGENDONG ANAK ATAU KAWIN ?
29
1 Juni 2021
Seorang Pemula
Penulis
Imam Musthofa
2
posting

Leptobrachium hasseltii atau dikenal juga dengan nama Katak Serasah merupakan salah satu spesies amfibi dari ordo Megophrydae. Penyebaran di Indoneisa berada di Jawa, Madura, Bali, dan Pulau Kangean. Di Kulon Progo tepatnya di Desa Jatimulyo penyebarannya terbatas di daerah berhutan dan berudu umumnya ditemukan di daerah sungai atau anak sungai di sekitar hutan. Berudu seringkali ditemukan pada bagian-bagian sungai yang membentuk kolam dalam.

Katak Serasah memiliki ciri-ciri khusus berkepala besar, lebih besar dari tubuh dan bulat. Mata berwarna hitam dengan iris berwarna merah yang cenderung besar dan melotot. Ujung jari katak ini bulat, ibu jari berselaput pada permukaan dasar. Kulitnya halus dengan jaring beralur, lipatan supratimpanik sampai ke pangkal lengan. Spesimen muda mempunyai kulit berwarna kebiruan. Punggung katak ini berwarna kehitaman dengan bercak-bercak berbentuk bulat telur atau bulat dan berwarna lebih gelap. Permukaan perut keputih-putihan dengan bercak hitam.

Banyak sekali pertanyaan tentang perilaku tersebut, saat pertama kali dilihat oleh saya ataupun orang awam. Apakah katak tersebut sedang menggendong anak atau sedang kawin sih ? Kalau sedang kawin yang jantan berada di atas atau di bawah ? Setelah mengenal morfologi dari Katak Serasah, mari kita ulas tuntas perilaku yang banyak dilakukan oleh amfibi khususnya katak ataupun kodok.

Perilaku seperti gendong-gendongan tersebut dalam dunia amfibian biasa disebut “amplexus”.  Amplexus merupakan proses penggendongan amfibi jantan oleh betinanya dengan tujuan pemijahan. Nah disini kita bisa tahu bahwa perilaku tersebut merupakan perkawinan yang dilakukan oleh amfibi. Pertanyaan selanjutnya terjawab juga bahwa yang berada di atas dan berukuran lebih kecil adalah sang pejantan dan betina di bawah. Pemijahan yang dilakukan, amfibi jantan akan memeluk si betina dalam proses ini untuk berpegangan sambil membantu proses pengeluaran telur. Pejantan akan mengeluarkan spermanya untuk membuahi telur-telur tersebut. Proses fertilisasi eksternal dilakukan di air yang tenang agar telur-telur yang dibuahi dapat bertahan sampai tahap metamorfosis selanjutnya. Umumnya aktivitas perkawinan berlangsung ketika turun hujan atau banyak air dan saat bulan purnama.

Perilaku kawin yang disebut amplexus dan pemilihan pasangan pada amfibi merupakan salah satu perilaku yang unik dan menarik untuk diamati. Adapun tiga faktor yang mempengaruhi aktivitas kawin pada amfibi yaitu adanya kompetisi berebut pasangan, hal ini yang paling sering terjadi di alam dan dipengaruhi dengan jumlah betinanya. Frekuensi suara panggilan jantan dan betina untuk dapat menemukan satu dengan lainnya. Terakhir adalah dominansi teritori dimana pejantan yang memiliki wilayah teritori yang lebih luas berpeluang mendapatkan pasangannya. Seleksi alam tersebut membuat pejantan yang kalah bersaing tidak dapat melakukan amplexus dan tidak dapat melakukan pembiakan.

Perlu sahabat tahu bahwa di dunia amfibi, dikenal ada dua jenis pembiakan yang biasa terjadi, yaitu: pembiakan berkesinambungan (prolonged breeding) dan pembiakan peledak (explosive breeding). Pembiakan berkesinambungan proses terjadinya hampir terus menerus, si pejantan dan betina bertemu dalam satu habitat dimana sumber airnya tersedia terus dan tidak habis dari waktu yang cukup lama. Umum dijumpai pada amfibi dengan habitat dominannya di dekat air/akuatik.

Pembiakan peledak merupakan proses pembiakan yang terjadi pada waktu-waktu tertentu. Umumnya terjadi pada musim hujan atau saat air sedang melimpah dan terjadi secara besar-besaran. Ditandai dengan adanya telur-telur mereka di perairan yang tergenang. Saat air berkurang atau tinggal sedikit proses pembiakan tidak akan ditemukan lagi, hal ini umumnya terjadi pada amfibi dengan habitat dominannya di darat (amfibi terestrial dan fussorial). Proses pembiakan peledak memiliki persaingan dimana si pejantan berpengaruh lebih besar dibandingkan pemilihan betina, sedangkan pemilihan betina berperan utama dalam menentukan keberhasilan pejantan pada pembiakan berkesinambungan.

Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan Biodiversity Warriors Sponsorship Program 2021 yang didukung oleh Yayasan KEHATI. Semoga tulisan diatas yang membahas tentang perilaku unik amfibi yaitu “amplexus” dapat mengurangi rasa penasaran kita. Jika sudah tahu perilaku tersebut, lebih baik kita jangan mengganggunya ataupun menangkapnya. Agar keberlangsungan hidup mereka dapat terus berlanjut dan tidak mengalami kepunahan. Perlu teman-teman pahami juga bahwa amfibi berperan sebagai salah satu tolok ukur perubahan lingkungan. Karena amfibi merupakan hewan berdarah dingin yang tidak bisa mengatur suhu tubuh. Sehigga sangat sensitif terhadap anomali lingkungan. Peran ekologis lainnya juga dapat membantu mengurangi pertumbuhan lalat, nyamuk, dan serangga lainnya di alam. Katak yang di sawah diketahui memakan berbagai jenis serangga yang menjadi hama pertanian.

 

Penulis: Raafi Nur Ali

Referensi:

Putri,A., Kusrini,M.D., Prasetyo.,LB. 2019. Pemodelan Kesesuaian Habitat Katak Serasah (Leptobrachium Hasseltii Tschudi 1838) dengan Sistem Informasi Geografis di Pulau Jawa. Journal of Natural Resources and Environmental Management. Vol. 10(1): 12-24

Umri, K. 2014. Majalah Digital Herpetologer Mania Edisi-6. Herpetologer Mania: Sumatra Utara.

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penulis
Imam Musthofa
Seorang Pemula
2
posting
Topik Terkait
Tidak ada artikel yang ditemukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *