Perbedaan flora identitas provinsi dan Puteri Indonesia

Artikel
Perbedaan flora identitas provinsi dan Puteri Indonesia
Lain-lain
1834
31 Maret 2015
Biodiversity Warriors
Penulis
Admin BW
932
posting

Siapa tidak kenal dengan kontes tahunan Puteri Indonesia? Kontes kecantikan yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1992 ini selalu menjadi sorotan tiap tahunnya. Di kontes ini tiap provinsi diwakili oleh seorang puteri yang akan dinilai brain, beauty, dan beahavior-nya. Berbeda dengan gaung para puteri cantik ini, flora (tumbuhan) identitas provinsi justru semakin redup dan kalah terkenal.

Flora identitas provinsi (FIP) sudah ditetapkan sejak tahun 1989. Tiap provinsi di Indonesia memiliki satu jenis tumbuhan yang menjadi ikon daerah. Flora yang dipilih umumnya adalah tumbuhan endemik dari daerah tersebut. Namun FIP kini semakin terlupakan, tidak banyak masyarakat yang mengetahui flora identitas daerahnya. Selain itu beberapa FIP justru populasinya semakin terancam di daerahnya sendiri. Contohnya mangga kasturi, FIP Kalimantan Selatan ini justru terancam punah di kampung asalnya.

Berikut adalah daftar Flora Identitas Provinsi di Indonesia menurut Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 1989 tanggal 1 September 1989 tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah:

Aceh – Bunga Jeumpa (Michelia champaca)
Sumatera Utara – Kenanga (Cananga odorata)
Sumatera Barat – Andalas (Morus macroura)
Riau – Nibung (Oncosperma tigillarium)
Kepulauan Riau – Sirih (Piper betle)
Jambi – Pinang Merah (Cyrtostachys renda)
Sumatera Selatan – Duku (Lansium domesticum)
Bengkulu – Suweg raksasa (Amorphophallus titanum)
Kepulauan Bangka Belitung – Nagasari (Palaquium rostratum)
Lampung – Bunga asar (Mirabilis jalapa)
Banten – Kokoleceran (Vatica bantamensis)
DKI Jakarta – Salak condet (Salacca edulis)
Jawa Barat – Gandaria (Bouea macrophylla)
Jawa Tengah – Kantil (Michelia alba)
DI Yogyakarta – Kepel (Stelechocarpus burahol)
Jawa Timur – Sedap malam (Polyanthes tuberosa)
Kalimantan Barat – Tengkawang tungkul (Shorea stenoptera)
Kalimantan Selatan – Kasturi (Mangifera casturi)
Kalimantan Tengah – Tenggaring (Nephelium lappaceum)
Kalimantan Timur – Anggrek hitam (Coelogyne pandurata)
Sulawesi Utara – Longusei (Ficus minahasae)
Gorontalo – Gofasa, gupasa (Vitex cofassus)
Sulawesi Tengah – Eboni (Diospyros celebica)
Sulawesi Tenggara – Anggrek serat (Dendrobium utile)
Sulawesi Barat – Cempaka hutan kasar (Elmerrillia ovalis)
Sulawesi Selatan – Lontar (Borassus flabellifer)
Bali – Majegau (Dysoxylum densiflorum)
Nusa Tenggara Barat – Ajan kelicung (Diospyros macrophylla)
Nusa Tenggara Timur – Cendana (Santalum album)
Maluku – Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis)
Maluku Utara – Cengkeh (Syzygium aromaticum)
Papua Barat – Matoa (Pometia pinnata)
Papua – Buah merah (Pandanus conoideus)
Bekas provinsi Timor Timur (Timor Leste) – Ampupu (Eucalyptus urophylla)

Referensi:

[prohati, iwf, wiki]

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *