Monyet ekor panjang

Artikel
Monyet ekor panjang
Lain-lain
2555
24 Juni 2014
Penulis
Ryan Avriandy
6
posting

(Macaca fascicularis Raffles, 1821)

Monyet ekor panjang merupakan primata paling sukses tidak hanya di Indonesia tapi juga  di asia tenggara, di Indonesia mereka dapat ditemukan  hampir di tiap tipe habitat mulai dari pantai, bakau, hutan primer dan sekunder bahkan didekat pemukiman manusia dan secara geografis mereka hampir terdapat disetiap pulau di bagian barat Indonesia,  yaitu Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa dan Timor serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Berbeda dengan monyet jenis lain yang seringkali distribusinya terbatas akibat terdapatnya halangan berupa habitat yang tidak sesuai, monyet ekor panjang sangat adaptif terhadap perubahan habitat, selain itu karena monyet ini merupakan hewan omnivor mereka mampu memakan hampir semua jenis makanan, bahkan beberapa peneliti memberikan istilah opportunistic omnivore. Mereka juga hidup dalam kelompok yang besar pada satu kelompok bahkan bisa mencapai 100 individu dengan beberapa sub kelompok.  Monyet ini juga diketahui merupakan primata yang cerdas jadi tidak jarang ditempat dimana terdapat monyet dan manusia kalian akan melihat monyet mencuri makanan manusia dan terampil dalam membuka bungkus makanan atau kaleng minuman.

Monyet yang mencuri makanan di camp pendaki

Di Indonesia hewan ini memiliki hubungan yang sangat kompleks dengan manusia. Di beberapa tempat di Indonesia hewan ini seringkali sengaja dilindungi secara adat, di Bali kebudayaan tradisional masyarakat setempat menegaskan hubungan yang harmonis antara umat manusia dan lingkungan, monyet ekor panjang yang tinggal berdekatan dengan pura biasanya sengaja dilindungi bahkan seringkali diberi seserahan oleh masyarakat setempat. Di tempat lain seperti di Jawa dan Sumatra monyet ekor panjang seringkali diburu dengan cara diracun atau ditembak karena sering dianggap hama oleh petani setempat, sehingga tidak jarang monyet ini mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan oleh para petani.

Dahulu kita mungkin sering melihat topeng monyet di sekitar tempat kita tinggal, bagi masyarakat awam melihat pertunjukan topeng monyet nampak lucu dan hiburan yang murah meriah, namun dibalik proses “pembelajaran” pertunjukan tersebut, monyet-monyet ini dilatih dengan banyak cara yang tidak baik, kalian bisa mengetahui lebih banyak fakta tentang topeng monyet di video berikut

Dibalik layar aksi topeng monyet.

Di bagian paling timur di Indonesia tepatnya di Jayapura monyet ini menjadi alien species artinya terdapat di wilayah yang bukan pada rentang geografis alaminya dan pada banyak kasus berpotensi merusak tatanan ekosistem tempat tersebut. Tidak diketahui sejak kapan dan bagaimana pastinya monyet ini terintroduksi di Jayapura, yang pasti keberadaan monyet ini berpotensi merusak tatanan ekosistem di Jayapura, penelitian membuktikan bahwa keberadaan monyet di Jayapura menurunkan kehadiran keanekaan hayati burung dan reptil di tempat tersebut.

Di Indonesia sekitar tahun 1970 an akhir hewan ini banyak ditangkap dalam jumlah besar dan di ekspor untuk keperluan penelitian terutama dibidang biofarma dan pengujian racun di negara-negara maju hal ini dikarenakan monyet ekor panjang secara anatomi dan fisiologis memiliki banyak kesamaan dengan manusia. Penangkapan dalam jumlah besar ini terus berlanjut hingga akhirnya pada tahun 1994 Pemerintah Indonesia mengeluarkan Kepmen Kehutanan No. 26/Kpts-II/1994. Inti dari kepmen tersebut salah satunya menyatakan pemanfaatan monyet ekor panjang untuk kepentingan ekspor harus melalui kegiatan penangkaran dengan kuota tertentu yang ditetapkan oleh  departemen kehutanan.  Salah satu penangkaran monyet ini ada di Pulau Tinjil yang dikelola IPB dan bekerjasama dengan perum perhutani.

Eudey AA. 2008. The Crab-eating Macaque (Macaca fascicularis): Widespread and Rapidly Declining. Primate conservation (23): 129-132.
Kemp NJ and Burnett JB.  2003. Final Report: A Biodiversity Risk Assessment  and Recommendations for Risk Management of Long-tailed Macaques (Macaca fascicularis) in New Guinea.  December 2003. Washington, DC: Indo-Pacific Conservation Alliance.
Rowe N. 1996. The Pictorial Guide to the Living Primates. Charlestown. Pogonias Press.

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *