Menggali Potensi Jeruk di Maluku Utara

Artikel
Menggali Potensi Jeruk di Maluku Utara
Flora
962
3 Desember 2014
Penulis
Dewi Ayu Anindita
91
posting

Provinsi Maluku Utara memiliki beberapa jenis tanaman jeruk yang menarik untuk dieksplorasi. Di beberapa daerah terdapat berbagai jenis varietas jeruk yang masih belum banyak diketahui.

Tanaman jeruk di Maluku Utara ada sejak jaman penjajahan Portugis dan Belanda, artinya bahwa tanaman jeruk bukan merupakan tanaman asli. Pohon jeruk ditanam pada ketinggian 10 – 375 m di atas permukaan laut yang menghadap ke pantai, sebagai tanaman pekarangan yang tidak pernah dirawat, dan ditumpang sari dengan cengkeh, pala dan pisang.

Jeruk topo merupakan salah satu plasma nutfah yang ada di Maluku Utara. Jeruk topo berasal dari desa Topo. Tetapi seiring dengan mewabahnya penyakit CVPD yang menyerang jeruk menyebabkan populasi jeruk topo di Desa Topo sudah hampir mengalami kepunahan. Jeruk Topo banyak di budidayakan di wilayah Halmahera. Adanya pasar dan kekhasan yang dimiliki jeruk keprok Topo (rasanya sangat manis, bentuk tidak terlalu besar, buah yang telah masak sangat mudah dikupas karena daging buahnya terpisah dengan kulitnya) merupakan peluang untuk mengembangkan jeruk Topo.

Di kelurahan Topo, Kepulauan Tidore diperoleh dua asesi jeruk keprok/mandarin yang disebut Joji Sabalaka Kotu dan Joji Sabalaka Bulo sebagai jeruk Topo Hitam dan Topo Putih. Di kelurahan Kepulauan Hiri diperoleh jeruk keprok/mandarin yang dikenal dengan Lemo Cina dan Lemo Cina Lamo serta jeruk bumbu/obat Lemo Swanggi.

Disebut jeruk Topo Hitam, buahnya pada saat berukuran besar tetapi masih hijau tampak berwarna hijau mengkilat dan rasanya sudah manis, kulit buah agak tebal dan terkadang terserang cendawan jelaga yang warnanya hitam. Sebaliknya, jeruk Topo Putih pada saat berukuran besar tetapi masih hijau tampak berwarna hijau mengkilat dan rasanya masam, kulit buah tipis.
Pertanaman jeruk di provinsi Maluku Utara kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pengetahuan petani untuk mengelola tanaman jeruk masih minim, sehingga populasi tanaman menjadi jeruk semakin berkurang. Populasi jeruk Topo di kepulauan Tidore hanya tinggal ± 36 pohon dan Lemo Cina di kepulauan Hiri tinggal ± 200 pohon.

Hasil dari eskplorasi beberapa jenis tanaman jeruk tersebut kemudian diamati di Balitjestro dengan diokulasi dengan batang bawah yang ada untuk dilihat pertumbuhan dan perkembangannya. Pada nantinya apabila hasil dari pengamatan menunjukkan adanya potensi yang bagus dari jeruk ini akan dilakukan pengembangan jeruk ini untuk selanjutnya.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

 

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *