Menggali Kekayaan Serelia di NTT

Pertanian, Perubahan Iklim
Menggali Kekayaan Serelia di NTT
27 November 2023
216

Dalam sidang ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun 2023 sebagai International Years of Millet (IYM2023). Milet mendapatkan perhatian yang cukup besar karena disebut sebagai ‘tanaman masa depan’. Tanaman milet dapat beradaptasi dengan lahan kering dan dapat tumbuh dalam kondisi yang sangat sulit. Selain itu, milet merupakan pangan bebas gluten dengan indeks glikemik rendah dan berbagai manfaat nutrisi lainnya. Hal ini disampaikan oleh Jacqualine Hughes, Direktur Jenderal International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT) melalui wawancaranya dengan Mongabay pada Maret 2023 (Jain, 2023). Sebagai langkah global, IYM berupaya meningkatkan produksi, konsumsi, dan perdagangan serealia sebagai sumber pangan yang berkelanjutan.

Pada tanggal 22 hingga 26 November, acara ASEAN-India Millet Festival sukses digelar di Kota Kasablanka Mall, Jakarta, Indonesia. Yayasan KEHATI dan Koalisi Pangan BAIK turut serta dalam event ini dengan membuka stan pameran yang tidak hanya memperkenalkan, tetapi juga menjual beragam produk milet, termasuk beras sorgum, sereal sorgum, kukis sorgum, jewawut, dan berbagai produk lainnya. Melalui stan ini, jenis-jenis serealia seperti sorgum, jewawut, hermada, proso milet, dan kacang-kacangan diperlihatkan dalam bentuk biji dan malai aslinya, memberikan pengunjung pengalaman edukatif yang menyeluruh.

Booth Yayasan Kehati di Indian-Asean Millet Festival

International Year of Milet 2023 (IYM2023) tidak hanya merayakan keberagaman milet, tetapi juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peran kritis milet dalam keberlanjutan pangan.

Di tingkat lokal, Aliansi Voices for Just Climate Action (VCA) yang berkolaborasi bersama masyarakat dan komunitas muda di Nusa Tenggara Timur menggelar Pesta Raya Flobamoratas dengan tema “Semangat Tanpa Batas”. Menurut Arti Indalah, Country Engagement Manager Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (HIVOS) Indonesia, Pesta Raya Flobamoratas merupakan pendekatan melalui media seni, budaya, maupun musik untuk mendekatkan isu perubahan iklim dan keadilan sosial ke masyarakat. Melalui Pesta Raya Flobamoratas, Koalisi Pangan BAIK memperkenalkan berbagai milet lokal yang telah ada secara turun temurun, seperti sorgum dan jewawut. Selain itu, berbagai tanaman serealia lokal diperkenalkan di sini seperti jelai, padi-padian juga jagung. Tak lupa penyampaian narasi kehadiran perempuan yang bukan hanya sebagai petani namun sebagai penjaga tradisi dan pengetahuan tentang serealia. Hal ini disampaikan oleh Koalisi Pangan BAIK melalui penampilan Teater Kuliner.

 

Serelia dan Kearifan Lokal di Nusa Tenggara Timur

Benih Jewawut

Jewawut (weteng) Serelia khas NTT

Dari jewawut hingga jagung, NTT dianugerahi kekayaan serealia yang mencerminkan kondisi iklim dan tanah. Serealia tidak hanya bahan makanan bagi masyarakat NTT, mereka adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Salah satu contohnya adalah kehadiran tanaman jewawut atau biasa disebut dengan weteng bagi masyarakat di kawasan Flores Timur. Jewawut merupakan tanaman yang ditanam di sekeliling kebun, untuk menjaga tanaman yang ada di dalam kebun dari serangan hama seperti burung. Selain itu, jewawut juga dikonsumsi sebagai bubur karena dipercaya mampu mempercepat penyembuhan tulang. Jewawut juga kerap diberikan kepada ibu yang baru melahirkan untuk memulihkan kondisi sang ibu.

Kepercayaan ini lahir dari kisah Jedo Pare Tonu Wujo yang berkisah tentang seorang perempuan yang merelakan tubuhnya dipenggal kemudian darahnya mengalir ke tanah dan menjadi beragam benih pangan seperti jewawut (weteng), jagung (wata), sorgum dan ragam pangan lain. Kisah ini membawa masyarakat Flores Timur ke dalam ritual adat yang masih dilestarikan hingga sekarang sebagai bentuk rasa syukur. Keterlibatan kaum perempuan mulai dari proses pengambilan benih di lumbung, juga perempuanlah yang menikmati hasil benih pertama. Kisah Jedo menyiratkan penghormatan dan pengakuan bagi pengorbanan kaum perempuan. (Rosidah, 2020)

Selain itu, di desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur terdapat ritual yang sangat erat dengan keberadaan serealia, yakni padi hitam, atau yang disebut Nalu Mita. Ritual ini adalah pembuatan Lekun Tu’in atau kue beras hitam yang biasanya digunakan sebagai hantaran pihak wanita kepada pihak laki-laki sebagai balasan belis. Pada pengolahan Lekun Tu’in tidak boleh berbicara kotor, membentak ataupun memaki, karena jika dilanggar maka hasil Lekun Tu’in yang dibuat akan cepat rusak sebelum dikonsumsi dan merupakan pertanda tidak baik bagi pihak laki-laki. Kearifan lokal ini mencerminkan bagaimana pentingnya etika dalam pengolahan makanan, pemberdayaan wanita dalam tradisi, juga makanan sebagai peristiwa khusus dan juga cerminan bagaimana pertanian serealia menjadi aktivitas bersama yang menguatkan ikatan sosial di masyarakat.

 

Maria Loretha: Bukti peran perempuan dalam pertanian serealia

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa peran perempuan dalam dunia pertanian serealia tidak hanya terbatas pada menjadi petani saja, namun juga sebagai penjaga tradisi pertanian serealia. Berangkat dari mitologi ibu pangan, Jedo Pare Tonu Wujo, Maria Loretha, seorang pegiat sorgum dan pendiri Yasores (Yayasan Agro Sorgum Flores) menuturkan jejak sorgum di Flores. Mama Tata -begitu ia akrab disapa- merupakan contoh sosok yang membuktikan pentingnya peran perempuan dalam pertanian serealia. Ia berjuang keras mengumpulkan berbagai jenis benih sorgum sejak tahun 2004 dan serius menanam pada tahun 2007. Sorgum kemudian mulai dibudidayakan dan dikenalkan kepada petani di Flores dan Lembata untuk ditanam tahun 2014. (Rosary, 2023)

Bermula dari kisahnya mengkonsumsi sorgum dan juga memori masa kecilnya kala masyarakat Flores mengkonsumsi berbagai jenis karbohidrat, Mama Tata berupaya mengembalikan berbagai jenis bibit sorgum yang dulunya pernah ditanam. Mama Tata mengungkapkan bahwa peluang ekonomi berkelanjutan dimulai dari bagaimana masyarakat memahami konteks lokal bahwa yang bisa tumbuh di tanah mereka adalah benih-benih lokal. Puluhan kelompok tani pembudidaya sorgum pun akhirnya lahir di berbagai kabupaten.

Karena kesuksesannya dalam membudidayakan sorgum, masyarakat menjulukinya “Mama Sorgum”. Upayanya menghidupkan pangan lokal mengajak masyarakat untuk hidup adaptif terhadap perubahan iklim dengan bercermin pada kearifan lokal.

 

Keseimbangan antara Tradisi dan Modernitas

Teater Kuliner Dapur Mama Koalisi Pangan BAIK

Program edukasi selama IYM 2023 dan Pesta Raya Flobamoratas melibatkan masyarakat secara aktif, memperkaya pengetahuan mereka tentang serealia. Keseimbangan antara tradisi dan modernitas tercermin dalam lokakarya pertanian dan demonstrasi memasak, memberikan dampak positif terhadap kesadaran masyarakat akan manfaat serealia dari segi nutrisi, kesehatan, keberlanjutan, dan ekonomi. Dampak yang sama pun diberikan oleh Pesta Raya Flobamoratas, dengan melibatkan partisipasi seluruh masyarakat NTT, untuk ikut menyuarakan cerita mengenai perubahan iklim dan bagaimana masyarakat beradaptasi serta memberi motivasi untuk tetap optimis dan progresif.

Selain itu, bercermin dari bagaimana peran perempuan dalam bidang pertanian dan langkah-langkah pemberdayaan perempuan telah membawa perubahan positif dalam peran mereka di sektor pertanian serealia, perlu ada inisiatif yang mencakup pelatihan keterampilan peningkatan akses ke sumber daya, dan dukungan terhadap usaha-usaha berwirausaha. Visi untuk masa depan pertanian serealia di NTT adalah integrasi sempurna antara kearifan lokal dan keterlibatan perempuan.

Sebagaimana IYM 2023 dan Fobamoratas merayakan serealia, mari kita tidak lupa mengapresiasi peran perempuan dan kearifan lokal dalam melestarikan dan mengembangkan warisan pertanian. Mereka bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga agen perubahan yang vital untuk mencapai keberlanjutan pertanian.

 

Sumber:

Jain, M. (2023, Maret 10). [Explainer] Why is 2023 the International Year of Millets? What do we achieve by celebrating such years? Retrieved from Mongabay: https://india.mongabay.com/2023/03/explainer-why-is-2023-the-international-year-of-millets-what-do-we-achieve-by-celebrating-such-years/

Rosary, E. d. (2023, August 14). Jejak Sorgum di NTT dan Penanaman kembali oleh Petani. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2023/08/14/jejak-sorgum-di-ntt-dan-penanaman-kembali-oleh-petani/

Rosidah, Z. (2020, June 10). Kisah Jedo dan Peran Perempuan di Balik Pangan Orang Lamaholot. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2020/06/10/kisah-jedo-dan-peran-perempuan-di-balik-ketersediaan-pangan-orang-lamaholot/

Walanatu, I. (2023, November 13). Melalui Seni dan Aksi untuk Bumi: Pesta Raya Flobamoratas 2023 Telah Sukses Digelar di Kota Kupang, Begini Tujuannya. Retrieved from Suluh Desa: https://www.suluhdesa.com/regional/54810844868/melalui-seni-dan-aksi-untuk-bumi-pesta-raya-flobamoratas-2023-telah-sukses-digelar-di-kota-kupang-begini-tujuannya

Tentang Penulis
Meryana Linome
Arsitektur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2024-01-17
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *