Mengenal Palung Mariana (Mariana Trench)

Artikel
Mengenal Palung Mariana (Mariana Trench)
Kelautan
47
4 Februari 2021
Universitas Brawijaya
Penulis
Melynda Dwi Puspita
3
posting

Perkembangan ilmu pengetahuan semenjak abad ke 19 memunculkan beragam pertanyaan termasuk terkait lautan dalam. Seberapa dalamkah bumi di bawah air? Apakah ada makhluk hidup yang mampu bertahan hidup dengan kondisi gelap, dingin dan bertekanan tinggi di laut dalam? Serta berbagai pertanyaan lain mengenai laut dalam. Sehingga banyak antusiasme para akademisi dan petualang untuk mengeksplorasi bagian terdalam bumi.

 

Banyak orang yang mengetahui apabila titik tertinggi dunia adalah puncak Gunung Everest. Dengan ketinggian mencapai 8.850 m diatas permukaan air laut. Gunung ini berada di wilayah China dan Nepal. Namun apakah Anda mengetahui lokasi terdalam di bumi? Yaitu Palung Mariana, sebuah jurang bawah laut di kawasan Samudera Pasifik. Diperkirakan kedalamannya mencapai 11.000 km. Palung Mariana terletak di sebelah tenggara China dan Jepang.

 

Eksplorasi lokasi terdalam bumi diawali tahun 1875 oleh kapal Angkatan Laut Inggris HMS Challenger (Her Majesty’s Ship). Diketahui bahwa kedalaman yang dicatat sekitar 8.184 m. Selanjutnya ekspedisi berlanjut melalui HMS Challenger II pada tahun 1952 dengan estimasi tercatat di kedalaman 10.862 m. Selain itu, ekspedisi tahun 1957 menyatakan bahwa  echosounder menemukan kedalaman hingga 11.034 m. Wilayah terdalam ini sering disebut sebagai Challenger Deep.

 

Pembentukan palung memerlukan berbagai proses rumit dan kurun waktu lama. Palung terbentuk karena aktivitas tektonik dan erosi, seperti pergerakan lempeng. Sebagai wilayah terdalam di bumi yang terisi air asin. Tidak ada manusia ataupun penyelam berpengalaman sekalipun yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungannya. Hanya ada dua orang yang mampu mencapai titik terdalam bumi, yaitu Don Walsh dan Jacques Piccard. Itupun menggunakan sebuah alat selam yang telah terukur mampu bertahan dan selama dua puluh menit saja di tahun 1960.

 

Diperkirakan temperatur di laut terdalam mencapai 36°F (2°C). Setiap penambahan 10 meter maka akan ada peningkatan tekanan sebesar 1 atmosfer. 1 galon air (4 liter) memiliki massa kira-kira 3,6 kilogram. Di titik terdalam lautan, air mampu menekan tubuh manusia lebih berat dari beban ribuan gajah. Semakin dalam perairan maka semakin gelap karena tidak ada cahaya matahari yang mampu menembus. Pada kedalaman kira-kira 1.006 m sudah tidak ada cahaya yang masuk, sehingga akan gelap total. Apabila dipikir menggunakan logika, tidak mungkin ada kehidupan di lautan dalam.

 

Hanya flora dan fauna yang memiliki kemampuan bertahan pada lingkungan ekstrem di Palung Mariana. Ada hewan yang menghasilkan cahaya seperti lampu disebut bioluminescent. Cahaya ini digunakan untuk menarik perhatian mangsa. Salah satunya ialah Anglerfish memiliki semacam antena bercahaya yang tumbuh di atas kepalanya. Saat mangsa mendekat, mulut lebar dan gigi tajamnya siap menerkam. Ditemukan pula beragam jenis kepiting dan bakteri pada ngarai ini.

 

Berdasarkan penelitian Li et al. (2019), teridentifikasi 52 kelas dan 21 kelasnya menggambarkan 99% keseluruhan populasi pada sedimen Palung Mariana. Pengambilan sampel dilakukan pada 30, 90, and 151 cm di atas dasar Palung Mariana. Populasi melimpah sekitar 50% ialah Gammaproteobacteria dan Bacilli, 25% komunitas adalah Bacteroidia dan Clostridia. Serta sekitar 25% lainnya meliputi Betaproteobacteria, Alphaproteobacteria, Erysipelotrichi dan Actinobacteria.

 

Masih sedikit publikasi dan penelitian terkait ekosistem Palung Mariana. Mengingat biaya ekspedisi yang diperlukan sangatlah besar. Serta banyak ancaman yang mengintai bagi keselamatan peneliti. Sehingga masih banyak misteri yang belum terpecahkan dan belum mampu menjawab segala pertanyaan terkait Palung Mariana.

 

Referensi:

  • Dziak, R. P., J. H. Haxel, H. Matsumoto, T. K. Lau, S. Heimlich, S. Nieukirk, D. K. Mellinger, J. Osse, C. Meinig, N. Delich, and S. Stalin. 2017. Ambient sound at Challenger Deep, Mariana Trench. Oceanography. 30 (2). https://doi.org/10.5670/oceanog.2017.240.
  • Li, Y., C. Wenru, W. Yan dan M. Qingjun. 2019. Microbial diversity in the sediments of the southern Mariana Trench. Journal of Oceanology and Limnology. https://doi.org/10.1007/s00343-019-8131-z.
1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *