Menelisik Sisi Lain Dari Tanaman Hibrida dan Transgenik Dalam The Sustainable Development Goals

Flora, Kehutanan, Ketahanan Pangan, Pangan Lokal, Pertanian, Pertanian Organik, Perubahan Iklim, Tumbuhan, Urban Farming
Menelisik Sisi Lain Dari Tanaman Hibrida dan Transgenik Dalam The Sustainable Development Goals
9 Juli 2024
126

Kajian nyentrik akan aktivitas pertanian sering digalakkan oleh kalangan mahasiswa pertanian dekat ini, terlebih lagi persoalan tentang ketahanan pangan dan kemandirian petani akan mendapatkan input pertanian secara terjangkau khususnya benih. Benih merupakan hal yang sangat krusial di dunia pertanian selain input pertanian lainnya, hal ini dikarenakan benih merupakan salah satu cikal bakal penentu kesuksesan dalam usaha tani berupa hasil panen, yang dimana berkorelasi dengan pendapatan petani; semakin banyak hasil panen yang diperoleh maka pendapatan petani juga akan tinggi. Dari hal tersebut tidak dapat dielak, bahwa benih merupakan sebuah janji pada kemudian hari, sayangnya benih unggul yang beredar di Indonesia kebanyakan diperjual belikan dengan harga tertentu dan membuat ketergantungan layaknya obat-obatan terlarang. Pasalnya benih unggul yang beredar di Indonesia merupakan benih hibrida yang dimana hasil persilangan dari banyak tetuah/orang tua tanaman yang hanya dikelola oleh perusahaan.

Gambar Alur Bahasan Postingan Kali Ini (Menelisik Sisi Lain Dari Tanaman Hibrida dan Transgenik Dalam The Sustainable Development Goals)

Benih hibrida saya ilustrasikan seperti terdapat bapak dan ibu yang memiliki sifat kelebihan dan kekurangan lalu disatukan dalam bentuk perkawinan menjadi satu untuk menghasilkan anak (F1/Hibrida) yang unggul atau memiliki kelebihan dikeduanya, walaupun sebenarnya tidak segamblang itu dan semudah itu. Titik kritis permasalahan benih hibrida adalah petani hanya dapat menggunakan benih hibrida satu kali saja, setelah itu benih atau calon tanaman (F2) akan menghasilkan penurunan sifat produksi, serta keragaman tanaman yang tinggi akibat segregasi. Contoh paling sering didengar dari dampak penerapan benih F2  pada tanaman jagung dan padi hibrida, dimana  bulir yang dihasilkan akan ompong atau tidak jadi, hal ini disebabkan terdapat penurunan sifat keragaman tanaman yang berimbas pada tingkat kesuburan pollen/serbuk sari akibat adanya tanaman turunan CMS (tanaman mandul jantan/steril).  Untuk mengatasi ketidaksterilan tersebut petani harus memiliki akses tanaman restorer atau mengembali kesuburan serbuk sari, namun untuk mendapatkan akses tersebut petani tidak mampu. Dari sinilah akan ada muncul sebuah frasa bahwa petani tidak mendapatkan kemerdekaannya, sehingga apabila kita melihat dari sistem keberlanjutan (Sustainable Goals) khususnya dimensi ekonomi kurang dapat berjalan.

Gambar kiri merupakan penelitian yang dilakukan oleh Wulan dkk., (2017) yang dimana mengamati akibat penggunaan benih yang berulang (selfing), dapat dilihat bahwa jagung C atau keturunan F3 (Selfing ke 2 kalinya) mengalami penurunan bulir jagung (bogang). Gambar kanan merupakan penelitian yang dilakukan oleh Hossain et al., (2019) yang Dimana mengamati perbedaan jagung fertile/serbuk sari subur dan jagung CMS sebagai bahan baku jagung hibrida di Texas

Dalam aspek sosial dan lingkungan kehadiran tanaman hibrida dan transgenik dapat menyebabkan masalah sosial dan lingkungan. Hal ini dikarenakan pada dampak sosial khususnya, terdapat pergeseran mindset dan teknik budaya tanam yang sedang berlangsung, dimana masyarakat lebih memilih menanam dan membeli hasil tanaman hibrida dari pada tanaman lokal, sehingga berimbas dan berpotensi pada gangguan lingkungan berupa tercampurnya genetik tanaman lokal yang telah lama melekat didaerah atau wilayah tersebut. Dampak ini sudah terasa pada negara Meksiko dimana para petani memiliki kultur budaya dan warisan tanaman jagung lokal mereka tersendiri. Hadirnya jagung transgenik mengakibatkan kekhawatiran akan punahnya budaya historis, serta tanaman lokal mereka. Masyarakat Meksiko telah lama terbiasa menggunakan jagung lokal untuk budaya memasak mereka, begitu pula dalam pelestarian jagung purba yang mereka punya.

Gambar sebelah kiri adalah wujud terjadinya percampuran gen jagung transgenik pada tanaman jagung lokal di Meksiko. hal ini yang perlu menjadi titik awas kita dalam pelestarian tanaman lokal di Indonesia, baik pangan, hortikultura, dan tanaman hias. Gambar sebelah kanan (jagung bercorak ungu pada jagung kuning) merupakan fenomena yang terjadi akibat adanya penyerbukan silang antar jagung. Di Indonesia sendiri penyerbukan silang antar hibrida tidak terlihat signifikan disebabkan karena tanaman jagung dominan kuning, sehingga dapat terlihat bila jagung tersebut diserbuki oleh tanaman jagung perusahaan lain melewati serangkaian uji lab yang tidak dimiliki petani

Pelestari dan petani yang concern/paham akan konsep biodiversity menolak adanya penyebaran jagung transgenik dikarenakan terdapat kekhawatiran bahwa dapat dimungkinkan tanaman jagung transgenik tersebut dapat menyerbuk silang pada tanaman lokal mereka, sehingga terjadi percampuran gen transgenik yang menyebabkan ketidakmurnian pada jagung yang telah adaptif diwilayah mereka; walaupun mungkin keuntungan dari jagung transgenik dapat mengatasi penggunaan pestisida, pupuk kimia, dan semacamnya untuk mengatasi pangan dinegara mereka. Dari kasus ini  dapat dimungkinkan bahwa tanaman hibrida yang dikenalkan atau didatangkan dari perusahaan luar negeri dapat mencampur aduk gen tanaman lokal di Indonesia. Dalam penelitian Westbrook & DiTommason (2023) menjabarkan bahwa tanaman hibrida dapat menjadikan masalah baru berupa perkawinan pada tanaman budidaya atau gulma lokal di suatu wilayah, terlebih lagi pada tanaman transgenik yang mencangkup gen toleran terhadap herbisida. Contoh kasus dijelaskan oleh Pandian et al., (2022) dimana pengembangan sorghum yang toleran herbisida dapat menyebabkan perkawinan silang dengan gulma johnsongrass (ENG)/rumput glagah (IND) (Sorghum halepense (L.) dan shattercane (Sorghum bicolor nothosubsp. drummondii), sehingga hasil keturunannya adalah gulma yang sulit dibasmi dengan herbisida.

Gambar kiri merupakan tabel berisikan informasi dari tanaman transgenik yang telah disebarkan di dunia. Gambar kanan merupakan contoh adanya transfer gen yang dilakukan oleh tanaman sorghum yang resisten terhadap herbisida kepada tanaman gulma.

Walaupun dari banyaknya fakta yang terjadi seperti kasus benih hanya digunakan sekali dan dapat berpotensi mengancam kerusakan lingkungan berupa keanekaragaman hayati di Indonesia tanaman hibrida masih tetap eksis dipasaran, keraguan akan petani untuk menggunakan tanaman lokal dari Kementerian Pertanian masih belum terlalu masif. Kendala akan pemasaran hasil panen menjadi faktor utama, disusul oleh masifnya demplot (demonstrasi lapangan) dari perusahaan besar pertanian di Indonesia yang dapat meyakinkan petani. Dari studi kasus ringan ini diharapkan banyak para calon petani muda, mahasiswa akademisi pertanian, dan pelaku bisnis  dapat lebih mendalami terkait dengan tanaman lokal (Inbreed) yang telah adaptif di Indonesia baik itu dari segi ekologi dan bisnis. Pada akhirnya penulis menambahkan bahwasanya hingga sekarang jagung hibrida resisten terhadap herbisida telah dipasarkan dari salah satu perusahaan yang besar, selain itu penulis tidak anti terhadap kemajuan akan inovasi pertanian yang sedang berlangsung dan juga masih mengembangkan beberapa varietas inbreed yang masih tetap dijaga oleh Kementerian Pertanian Indonesia.

#plant, #plantbiodiversity, Benih, Hibrida, Inbreed, Keanekaragaman hayati, Kementan, Pangan Lokal, Sustainable Farming, Sustainibility, Transgenik, biodiversitas, ekologi, tanaman
Tentang Penulis
Bima Oktasa Dwi Wardana
Produksi Pertanian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2024-07-21
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *