Kekayaan Hayati Masyarakat Hutan Adat Wonosadi: Tumbuhan Obat dan Potensinya di Masa Pandemi Covid-19

Artikel
Kekayaan Hayati Masyarakat Hutan Adat Wonosadi: Tumbuhan Obat dan Potensinya di Masa Pandemi Covid-19
Flora, Kehutanan, Pertanian
298
27 November 2021
Biologi
Penulis
Dianmuthi
1
posting

Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah terjadi mulai awal tahun 2020
sampai saat ini. Berbagai usaha telah dilakukan mulai dari pengobatan secara
konvensional maupun tradisional. Usaha tersebut mulai membuahkan hasil
dengan dibuktikannya penurunan kasus positif covid-19. Secara konvensional,
pemerintah mengupayakan pemberian vaksin kepada masyarakat agar kekebalan
tubuh lebih optimal dalam menghadapi infeksi. Ada pula upaya masyarakat yang
memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat guna meningkatkan kekebalan tubuh.

Tumbuhan berkhasiat obat mulai dilirik oleh masyarakat pada masa
pandemi ini. Belum lama ini beredar berita mengenai “Empon-empon Corona”
yang berkhasiat dapat meningkatkan kekebalan tubuh di masa pandemi. Salah
satu pasar yang menjual produk tersebut yaitu Pasar Bringharjo di Yogyakarta.
Para pedagang yang menjual produk tersebut kebanjiran pelanggan selama berita
tersebut beredar di masyarakat. Hal tersebut menyebabkan harga dan penjualan
pun naik secara drastis. Isi dalam 1 paket “Empon-empon Corona” terdiri dari
berbagai tumbuhan obat seperti jahe, kunyit, temulawak, secang, dan kayu manis.
Mayarakat Daerah Istimewa Yogyakarta mungkin sudah biasa menjumpai
tumbuhan obat tersebut di sekitar lingkungan hidup, baik ditemukan tumbuh
secara liar maupun ditanam di pekarangan rumah.

Penggunaan dan pengelolaan tumbuhan obat seringkali dilakukan oleh
masyarakat dari jaman dulu sampai saat ini. Ada pula kawasan yang memang
memiliki kekayaan tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar, contohnya Hutan Adat Wonosadi. Hutan yang lebih sering disebut
Wonosadi oleh masyarakat sekitar, merupakan suatu nama hutan yang berada di
lereng anak bukit Gunung Gambar. Hutan ini terhampar pada ketinggian sekitar
400 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, Wonosadi terletak di
Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masyarakat di kawasan Hutan Adat Wonosadi yang menjaga dan
mengelola kawasan mendapatkan berbagai manfaat dari adanya kawasan ini.
Hutan yang berperan dalam menjaga kualitas dan kuantitas air, memproduksi
oksigen, mencegah erosi dan habitat yang mendukung keberadaan fauna dan flora.
Lingkungan yang terjaga menjadi lokasi yang berpotensi untuk tumbuhnya
berbagai tumbuhan seperti tumbuhan obat. Beberapa komponen yang ada di
dalam paket “Empon-empon Corona” seperti jahe, temulawak, dan secang dapat
ditemukan di kawasan ini, baik secara liar maupun ditanam oleh warga sekitar.
Tidak hanya tumbuhan obat, tumbuhan pangan seperti jagung, pisang, dan buah-
buahan lainnya juga ditanam di kawasan Hutan Adat Wonosadi. Hal tersebut
dilakukan karena potensi kawasan hutan yang menyediakan tanah yang subur
sehingga mudah untuk ditanami berbagai tumbuhan yang diperlukan oleh
masyarakat sekitar.

Menurut penuturan masyarakat, apabila ada orang yang terkena sakit, di
dalam hutan Wonosadi sudah tersedia obatnya. Oleh karena hal tersebut
Wonosadi disebut pula sebagai Wonousodo yang dalam Bahasa Jawa wono berarti
hutan dan usodo/husodo berarti obat. Sehingga Wonousodo dapat diartikan
sebagai hutan yang ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan obat.

Julukan Wonousodo tersebut secara realita terbukti benar adanya dan dapat
dibuktikan hingga saat ini. Ketika kita berkunjung ke Wonosadi, kita akan
menemukan berbagai spesies tumbuhan obat yang secara alami tumbuh dan
menyebar di dalam hutan. Masyarakat Wonosadi memiliki kearifan lokal
tersendiri dalam mengambil manfaat obat dari tumbuhan yang ada. Sebagian
besar tumbuhan dapat berkhasiat obat apabila dikombinasikan dengan tepat antara
satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya dan dengan teknik pengolahan tepat
yang didapatkan masyarakat secara turun-temurun dari leluhur.

Berkaca dari keberadaan kawasan Hutan Adat Wonosadi, kearifan
masyarakat dalam mengelola dan menjaga hutan dan segala kekayaan yang ada di
sekitarnya menunjukan bahwa masyarakat sadar akan pentingnya hutan dan
manfaat yang diperoleh dari keberadaannya. Masyarakat juga memahami bahwa
alam telah menyediakan apa yang mereka perlukan. Berdasarkan kondisi tersebut,
Tim Kehati Wonosadi yang didukung oleh Yayasan KEHATI melalui
Biodiversity Warriors Sponsorship Program 2021 termin II tertarik melakukan
pendataan mengenai tumbuhan obat dan pangan di Hutan Adat Wonosadi.
Harapan dari kegiatan ini yaitu semakin banyak orang yang mengenal jenis dan
manfaat dari tumbuhan obat dan pangan serta meningkatnya kesadaran tentang
pentingnya hutan sehingga ikut menjaga kelestarian hutan.

1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *