Jenis Burung di Lereng Merapi Bertambah Pascaerupsi

Artikel
Jenis Burung di Lereng Merapi Bertambah Pascaerupsi
Satwa
1510
5 Juli 2014
Penulis
Subhan Hadi
74
posting

Jenis burung yang hidup dan berkembang di kawasan lereng Gunung Merapi pascaerupsi 2010 bertambah dan saat ini masing-masing terus berkembang.

Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Asep Nia Kurnia, Kamis, mengatakan dari hasil pendataan beberapa waktu lalu jenis burung yang hidup di kawasan hutan TNGM di Sleman, Boyolali, Klaten dan Magelang sebanyak 164 jenis.

“Sebelum erupsi Gunung Merapi 2010, jenis burung terdata sebanyak 154 jenis. Kemudian menurun drastis menjadi 97 akibat dampak erupsi. Ini artinya, ekosistem di TNGM sudah mulai pulih,” katanya.

Menurut dia, bertambahnya jenis burung di kawasan lereng Merapi in ternyata juga meningkatkan daya tarik wisatawan yang berkunjung ke TNGM, khususnya mereka pengamat burung dan penghobi foto burung liar.

“Sekarang sedang ngetren penghobi foto burung liar di hutan. Selain mereka berburu foto burung, juga ada pengamat burung yang melakukan penelitian,” katanya.

Ia mengatakan, banyaknya wisatawan yang datang ke TNGM tersebut, diakui dapat berdampak positif dan negatifnya.

“Positifnya data mereka, khususnya pengamat burung bisa membantu dalam perkembangan kehidupan burung. Namun, juga ada kekhawatiran mereka semakin banyak datang, dan mereka ingin sekali mengamati burung ketika sedang berkembang biak. Seperti, sedang bertelur, atau mengeram,” katanya.

Asep mengatakan, jika burung tersebut merasa terganggu, maka proses berkembang biak besar kemungkinan gagal.

“Ini dapat terjadi pada jenis elang, yang memiliki karakter tidak suka diganggu,” katanya.

Ia mengatakan, di hutan Merapi terdapat beberapa jenis elang yakni, elang bido, elang Jawa, hitam, brontok dan alap-alap.

“Jika diganggu, mereka tidak jadi bertelur, mengeram dan sebagainya,” katanya.

Meski demikian, kata dia, TNGM juga tidak akan memberi aturan yang ketat terhadap wisatawan yang berkunjung. Mereka tetap dipersilahkan untuk menikmatinya di tempat-tempat yang strategis, seperti di Bukit Plawangan atau Turgo.

“Hanya, kalau ingin mengamati atau foto harus izin terlebih dahulu biar kami bisa memantau,” katanya. 

Sumber: http://www.antaranews.com/

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *