Pendekatan Ekologi Lanskap Dalam Mengelola Hutan

Aktivitas, Kehutanan, Perubahan Iklim, Satwa
Pendekatan Ekologi Lanskap Dalam Mengelola Hutan
21 Maret 2024
203

"Hanya hutan yang sehat dapat menghasilkan manusia yang sehat.“ 

Hidup di negara Indonesia dengan ekosistem hutan sudah seharusnya pembangunan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan memanfaatkan jasa ekosistem hutan secara bertanggung jawab bagi keberlanjutan hidup .

Anugerah terbesar yang diberikan Sang Maha Pencipta untuk kelangsungan hidup manusia adalah hutan yang menghasilkan berbagai jasa ekosistem. Tema yang diusung pada Hari Hutan Sedunia adalah “ Forests and innovation: New solutions for a better world . Tema ini memberikan dimensi yang luas terhadap pengelolaan hutan sebagai sumber kehidupan manusia, baik dalam penyediaan pangan, energi, air serta jasa ekosistem lainnya. Di sisi lain, SOFO 2020 menegaskan bahwa deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi pada tingkat yang mengkhawatirkan, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap hilangnya keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Pertumbuhan penduduk yang pesat telah menyebabkan terjadinya ekspansi pertanian secara progresif. Di satu sisi, ketahanan pangan manusia (baik sistem dan kapasitasnya) untuk beradaptasi bergantung pada keanekaragaman hayati tersebut. Selain kebutuhan pangan dan energi yang mengubah hutan menjadi ladang dan pertambangan, penyediaan infrastruktur baik perumahan, jalan dan fasilitas lainnya telah merubah ekologi lanskap hutan di Indonesia.

Berdasarkan Living Planet Index 2020, manusia telah  memanfaatkan sumber daya alam seperti grafik dibawah ini;

Source: Living Planet Index, 2022

Apa yang dimaksud dengan ekologi lanskap

Hidup di bumi dengan ekosistem hutan sebesar 60 persen, mestinya menjadi acuan dalam melakukan pembangunan yang tidak hanya sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi juga selaras dengan pertumbuhan nilai-nilai sosial dan lingkungan. Ekologi lanskap adalah sebuah area yang heterogen yang terbentuk dari berbagai tipe ekosistem yang saling berinteraksi, sedangkan Ilmu Ekologi lanskap adalah ilmu yang mempelajari struktur, fungsi dan perubahan lanskap di sebuah area yang heterogen, yang berisi ekosistem yg saling berinteraksi.

Fungsi lanskap dalam hal distribusi energi, materi, dan spesies ditentukan oleh perbedaan struktur lanskap. Pemanfaatan jasa ekosistem hutan tidak terbatas pada jasa penyedia dalam bentuk fisik seperti kayu, pangan, tanaman obat, energi, sumber daya alam bernilai lainnya. Tapi, hal ini harus dilihat sebagai jasa ekosistem yang holistik termasuk didalamnya sebagai fungsi regulasi seperti pengaturan iklim mikro, fungsi pendukung seperti penyedia hara, habitat serta fungsi budaya sebagai tempat tinggal, tempat wisata dll.

Konversi Hutan

World Resources Institute (WRI, 2023) melaporkan Indonesia merupakan salah satu negara yang paling banyak kehilangan hutan primer tropis (humid tropical primary forest) dalam dua dekade terakhir (2002-2022). Indonesia kehilangan sebesar 10,2 juta ha dimana hutan primer berfungsi sebagai hutan yang memiliki cadangan karbon dan keanekaragaman hayati. Sementara itu, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), luas tutupan hutan Indonesia sudah berkurang 956.258 hektare (ha) selama periode 2017-2021. Angka tersebut setara dengan 0,5% dari total luas daratan Indonesia.

Penurunan luas hutan terjadi di Kalimantan, Papua, dan Sumatra. Penurunan luas tutupan hutan paling banyak terjadi di Kalimantan, yakni berkurang 654.663 ha atau 1,2% dari luas daratan pulaunya. Diikuti hutan di Papua yang berkurang 610.405 ha (1,45%), dan di Sumatra berkurang 310.374 ha (0,65%). Sementara itu luas hutan di Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Jawa, dan Maluku bertambah, namun penambahannya jauh lebih rendah dibanding luas hutan yang hilang. Berdasarkan data BPS Secara kumulatif selama periode 2017-2021 luas hutan di Kalimantan, Papua, dan Sumatra berkurang 1.575.442 ha, sedangkan penambahan luas hutan di Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Jawa, dan Maluku hanya 619.185 ha.

Pola pembangunan yang mengarah pada perubahan tata guna lahan hutan yang semakin progresif tanpa memperhitungkan ekologi lanskap telah menyebabkan berbagai masalah sosial, konflik antara manusia dan makhluk lain, serta bencana ekologi di berbagai tempat di Indonesia. Contohnya konversi lahan untuk jalan tol yang merubah lanskap populasi, dimana masyarakat yang secara turun temurun tinggal di suatu desa harus terpisah dari kerabatnya. Hal ini menyebabkan perubahan pola hubungan antara keluarga karena terbelahnya lokasi tempat tinggal. Demikian pula ekspansi lahan pertanian yang telah menyebabkan terfregmentasinya bentang  alam yang menyebabkan terjadinya perubahan ekologi lanskap.

Pada kontek biodiversitas, habitat yang dulunya menjadi tempat interaksi antar makluk hidup seperti flora dan fauna, kini menyebabkan konflik antara manusia dan hewan. Sering kita menyaksikan pemberitaan dan informasi gajah yang masuk ke jalan tol seperti di Tol Dumai- Pakan Baru, karena lokasi tersebut menjadi rute keseharian gajah-gajah tersebut untuk mencari makan.

Di beberapa daerah kawanan monyet telah masuk kepemukiman warga akibat tidak tersedianya makanan akibat terjadi konversi lahan untuk perkebunan maupun pembangunan infrastruktur lainnya. Kondisi ini akan mengancam keberlangsungan hidup satwa liar serta berbagai dampak lain yang bukan saja bencana alam, tapi juga bencana ekologis.

Pada dasarnya alam semesta ini diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia untuk menunjang kehidupannya. Namun demikian, pemanfaatannya harus sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dengan akal budi yang diberikan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui inovasi yang dikembangkan, manusia harus dapat menggunakan sumber daya alam hutan seefisien mungkin dengan memberikan nilai tambah yang optimal. Hutan sebagai sumber kehidupan manusia harus terus dikelola agar berkelanjutan bagi generasi yang akan datang. Indonesia telah merubah paradigma pengelolaan hutan dari bisnis berbasis kayu hingga pendekatan bisnis multi-kehutanan. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan nilai ekonomi hutan produksi yang lebih tinggi, dan meningkatkan  pemerataan dan akses masyarakat terhadap sumber daya hutan.

Sebagai negara yang memiliki ekosistem hutan tropis yang cukup besar dan rumah bagi keanekaragaman hayati   terbesar   di   dunia, diperlukan paradigma dan mindset para penentu kebijakan dalam menyusun program pembangunan, yang tidak hanya berbasis tata ruang (spasial), tapi diperlukan yang lebih holistik dengan mempertimbangkan ekologi lanskap. Menggunakan ekologi lanskap dalam pembangunan menuntut pendekatan multi dan antar disiplin dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Ekologi lanskap menggabungkan pendekatan spasial dan ekologi yang memerlukan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi secara sinergi maupun trade off.

Tema Hari Hutan Intenational tahun ini mengajak kita untuk melangkah lebih maju dan berpikir tidak biasa (business not as usual). Harus ada langkah-langkah yang lebih progresif untuk dapat mencegah diforestasi yang telah dijanjikan Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim dalam skenario kondisi normal (business as usual). Selama periode 2021-2030 Indonesia diproyeksikan mengalami deforestasi seluas 820.000 hektare/tahun. Namun, dalam Enhanced NDC terbaru, pemerintah menargetkan deforestasi periode 2021-2030 akan turun sekitar 56% menjadi 359.000 hektare/tahun dengan usaha sendiri. Pada dokumen NDC Indonesia telah mencamtumkan “ Ditingkatkan ambisi adaptasi iklim sebagaimana diuraikan dalam program, strategi dan tindakan untuk mencapai tujuan ekonomi, sosial dan penghidupan, dan ketahanan ekosistem dan lanskap” .

Untuk mencapai target ambisi ini, diperlukan Lesson learned dari negara-negara yang telah menerapkan lanskap ekologi sebagai driver dalam perencanaan pembangunan. Target ini hanya dapat dicapai apabila para stakeholder baik pemerintah, sektor swasta, masyarakat, legislatif dan yudikatif yang mengelola dan memanfaatkan hutan memiliki kemauan bersama untuk menghilangkan ego sektoral.

Agar planet yang kita tempati dapat tetap sehat dan menyediakan jasa ekosistem berkelanjutan, kita tidak cukup hanya melakukan konservasi. Namun, untuk mencegah terjadinya degradasi lingkungan, manusia juga harus melakukan upaya-upaya mengurangi produksi dan kosumsi sumber daya alam ( Pro Environmental Behaviour Change), dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Ekologi Lansekap, Hari Hutan Sedunia, Sustainibility
Tentang Penulis
Sri Setiawati Tumuyu
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan UI

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke [email protected]
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *