Hubungan Keanekaragaman Bambu dan Fauna

Opini
Hubungan Keanekaragaman Bambu dan Fauna
Aktivitas, Flora, Kehutanan, Pertanian
93
26 November 2022
Penulis
Elizabeth A. Widjaja
Pensiunan Puslit Biologi – LIPI (BRIN)

Tidak asing lagi bagi kita kalau bambu dikenal sebagai tanaman rakyat karena memang hidupnya lebih banyak di sekitar perkampungan. Namun, ada beberapa jenis yang hidupnya di tepi hutan primer, tepi sungai maupun hutan sekunder. Berbagai usaha oleh pihak lain menyebabkan kebun bambu atau hutan bambu itu digusur atau dimusnahkan. Padahal, manfaat bambu sangatlah penting. Kurangnya informasi bahwa bambu dapat menyimpan karbon yang menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia menjadikan masyarakat hanya mengikuti kehendak orang lain. Pun informasi akan pentingnya bambu dalam konservasi tanah dan air belumlah diketahui dengan mendalam.

 

Berandai-andai, jika diberikan pilihan, masyarakat mungkin akan menyerahkan kebun bambunya yang telah menjadi mata pencaharian sehari-hari untuk ditukar dengan kebun sawit. Mereka tak tahu bahwa kebun bambu mempunyai banyak fungsi. Selain sebagai bahan baku peralatan hari-hari, bambu merupakan tempat hidup dan bahan pakan fauna, bahan sandang, papan, pangan, tempat menyimpan CO2, menyimpan air, mencegah tanah longsor dan seribu macam kegunaan lainnya baik secara ekologi, ekonomi maupun sosial.

 

Keanekaragaman bambu di Indonesia yang mencapai 176 jenis sangatlah unik dibandingkan dengan negara lain. Di antara jenis tersebut, 105 jenis merupakan jenis yang endemik yang tidak ada di negara lain. Di Indonesia, bambu dimanfaatkan oleh fauna liar baik sebagai bahan pakan, tempat bermain, tempat bersarang maupun tempat mencari makan. Hubungan fauna dengan keanekaragaman flora sangatlah umum. Namun, jarang informasi tertulis yang menceritakan hubungan antara fauna dengan keragaman bambu,  kecuali fakta fauna panda yang hobi memakan bambu. Populernya bambu sebagai pakan panda menjadi mencuat karena panda merupakan fauna yang dilindungi. Bambu yang dimakan panda berbunga kemudian mati, sehingga pernah mengalami kekurangan pakan. Setelah itu timbul gagasan untuk melestarikan bambu yang dimakan panda.

 

MENJAGA HUTAN BAMBU DEMI KEHIDUPAN FAUNA

Hutan bambu sering dianggap lokasi yang menakutkan. Padahal, hutan bambu merupakan pembawa berkah. Adanya hutan bambu dapat melindungi erosi tanah, degradasi tanah, dan konservasi air. Di tahun 2018 dilaporkan terdapat 14,01 juta ha lahan kritis. Umumnya, lahan kritis ini terjadi karena adanya erosi tanah daripada erosi angin. Penanaman bambu di daerah rawan longsor, lahan kritis,  dan di sekitar sungai akan mengurangi terjadinya erosi tanah. Selain itu, bambu dapat menahan sedimentasi dan menyimpan air yang akan dapat dikeluarkan pada waktu musim panas.

 

Penduduk Indonesia pada umumnya mengatakan bahwa rumpun bambu identik dengan kehidupan ular. Bahkan ada beberapa perumahan di daerah elit yang melarang penanaman bambu di taman dekat rumahnya. Memang secara kebetulan ular merupakan fauna yang paling gemar hidup di rumpun bambu. Jenis-jenis ular yang hidup di rumpun bambu di Jawa antara lain: ular kobra (Naja sputatrix), ular pucuk (Ahaetulla prasina), ular tampar (Dendrelaphis pictus), ular sanca kembang (Malayopython reticulatus), ular bajing (Gonyosoma oxycephalum), king kobra (Ophiophagus Hannah), ular cincin mas (Boiga dendrophila), ular-kucing bintik-putih (Boiga drapiezii) dan ular koros (Ptyas korros). Di antara ular tersebut hanya ular kobra (Naja sputatrix), sanca kembang (Malayopython reticulatus), dan king kobra (Ophiophagus hannah) yang suka bertelur di rumpun bambu. Sisanya hanya mencari makan atau tempat bermain dari pohon satu ke bambu dan kemudian meloncat ke pohon lainnya.

 

Selain ular ada juga burung yang sering bermain di rumpun bambu, antara lain burung kutilang (Pycnonotus aurigaster), burung tekukur (Spilopelia chinensis), burung terukcuk (Pycnonotus goiavier), raja-udang biru (Alcedo coerulescens), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), bondol peking (Lonchura punctulata), prenjak jawa (Prinia familiaris) dan cinenen jawa (Orthotomus sepium). Di rumpun bambu umumnya burung itu hanya bermain, tetapi ada juga yang bertelur setelah membuat sarang. Burung di Jawa yang sering bertelur di rumpun bambu adalah burung kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan bondol peking (Lonchura punctulata).

 

Berdasarkan informasi BKSDAE Jawa barat (2017) burung Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan burung blekok (Ardeola speciosa) juga sering bersarang dan bertempat tinggal di rumpun bambu  seperti yang terjadi di Ranca bayawak, Bandung. Selain itu, burung yang bersarang di rumpun bambu, antara lain burung emprit (Lonchura leucogastroides), burung pleci (Zosterops spp.), burung trucuk (Pycnonotus goiavier), burung ciblekan (Prinia familiaris), burung murai bambu (yang terdiri atas burung sikatan gunung/sikatan cacing (Cyornis banyumas), sikatan bakau (Cyornis rufigastra), sikatan laut (Eumyias thalassinus) dan selendang biru (Cyanoptila cyanomelana)).

 

Berdasarkan hasil penelitian Indriyani & Hadisusanto (2014) dalam tesisnya mengatakan bahwa 17% sikatan cacing ditemukan senang bersarang di rumpun bambu di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kulonprogo, DIY dan Desa Donorejo, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah.  Menurut berbagai informasi, anakan burung yang hidup di rumpun bambu mempunyai kicauan suara lebih melengking walau belum ada studi yang menyatakan tentang hal ini.

 

Ketika bambu berbunga, burung bukanlah penyerbuk bambu, namun bambu yang berbuah ketika biji masih muda dapat menjadi makanan burung kutilang. Oleh sebab itu selama ini belum ada informasi bahwa biji bambu disebarluaskan oleh burung, walaupun burung memakannya.

 

Jenis hewan lain pemakan bambu adalah gajah (Elephas maximus). Memakan bambu muda menyebabkan mulut gajah berdarah-darah. Darah yang dihasilkan dibutuhkan gajah untuk mendapatkan rasa asin dan untuk proses metabolisme. Selain bambu, gajah juga memakan kayu untuk kebutuhan kalsium dan seratnya. Ternyata, gajah pemakan bambu muda tidak hanya terdapat  di Sumatra, namun juga di Thailand. Tidak adanya bambu tidak menyebabkan gajah mati, namun bambu hanya berfungsi sebagai pelengkap dalam metabolisme gajah untuk mendapatkan garam. Secara tidak langsung, gajah juga menyebarluaskan penanaman bambu.

 

Kiri: Gajah yang sedang makan daun bambu. Kanan: Panda sedang makan daun bambu

 

Di Indonesia, selain ular, burung dan gajah, orangutan yang hidup di TN Gunung Leuser juga memakan pucuk bambu muda. Selama ini belum tercatat mengapa orangutan senang rebung bambu atau pucuk bambu muda. Selain orangutan, ternak seperti sapi, kambing, kerbau juga memakan daun bambu. Pemberian pakan daun bambu pada ternak biasanya diberikan ketika musim kering tiba, dimana rumput sulit untuk didapatkan sebagai pakan ternak.

 

Di China, panda adalah pemakan daun bambu dan juga rebungnya. Panda di China memiliki sistem percernaan yang hampir seluruhnya bergantung pada bambu (Dewi 2022). Sehari, panda merah memerlukan kurang lebih 20,000 kg bambu. Selain bambu, panda merah juga memakan rumput, akar, kulit kayu dan daun pohon lainnya.  Terdapat panda merah yang memakan daun bambu dan rebung di Nepal,  lemur bambu  di Madagaskar, gorila gunung Afrika dan simpanse (telah didokumentasikan mengonsumsi nira bambu yang telah berfermentasi dan mengandung alkohol).

Selain itu, terdapat tikus yang memakan bambu ketika berbunga dan menghasilkan biji. Hal ini tidak terjadi di Indonesia karena tikus pengerat biji bambu hanya tinggal di daerah yang ditumbuhi Meloccana baccifera (bambu berbiji besar dengan biji berisi endosperm). Biji bambu ini juga menjadi makanan pokok di beberapa tempat di India ketika terjadi musim paceklik (Dewi 2022). Tikus pengerat ini ditemukan di pegunungan yang tertutup bambu di bagian selatan dan timur Asia. Tikus bambu menggunakan giginya untuk membuat liang yang luas untuk memakan akar bambu. Sebagai hewan herbivora, mereka menghabiskan sebagian waktu di siang hari di bawah tanah, dan mencari makan buah-buahan, biji-bijian dan bahkan memanjat bambu untuk mendapatkan nutrisi di malam hari.

Selain fauna yang telah disebutkan di atas, terdapat larva pelubang bambu yang disebut Olot atau  Anti dalam bahasa Manggarai (Omphisa fuscidentalis). Larva ini terdapat di LaosMyanmarThailand, China dan Indonesia. Di Indonesia, larva itu digoreng sebelum dimakan.  Di Jawa, ulat tersebut dimanfaatkan sebagai umpan untuk memancing ikan.

 

Kiri: ulat bambu yang dapat dimakan. Kanan: ulat bambu sudah digoreng siap dimakan

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian tentang korelasi atau hubungan bambu dengan fauna sangat jarang mendapatkan perhatian. Hal ini disebabkan penelitian keanekaragaman hayati bambu sendiri masih belum sempurna atau bahkan belum selesai. Demikian pula penelitian fauna juga belum semua selesai walaupun jenis burung, mamalia, reptil di Indonesia lebih lengkap dibandingkan di negara lain. Namun, seringkali habitat fauna tidak terekam dengan baik, dimana perilaku dan habitat fauna sendiri masih menjadi misteri alam yang tersembunyi.

Oleh sebab itu, dalam melindungi fauna diperlukan terungkapnya habitat dan perilaku fauna sehingga diperlukan penelitian yang lebih detail dan intensif.

 

PUSTAKA

 

Dewi, Bestari Kumala. 2022. Bambu Bukan Hanya Makanan Panda, 7 Hewan Ini juga Memakannya. https://www.kompas.com/sains/read/2022/10/20/193000023/bambu-bukan-hanya-makanan-panda-7-hewan-ini-juga-memakannya?page=all. Diunduh tgl 12 Nov. 2022.

Singtripop, Tippawan, Somsak Wanichacheewa, Seiji Tsuzuki, Sho Sakurai. 1999. Larval Growth and Diapause in a Tropical Moth, Omphisa fuscidentalis Hampson. Zoological Science 16(5):725-733.

Indriyani, Nurina,  Suwarno Hadisusanto. 2014. Karakteristik Sarang dan Habitat Burung Sikatan Cacing (Cyornis banyumas (Horsfield, 1821)) di Kawasan Karst Menoreh. Tesis. UGM.

Panduan Pemuatan Opini di Situs BW

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke biodiversitywarriors@kehati.or.id
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *