Hari Mangrove Sedunia 2023: Melestarikan yang tersisa dan memulihkan yang rusak

Aktivitas, Kehutanan, Kelautan, Perubahan Iklim
Hari Mangrove Sedunia 2023: Melestarikan yang tersisa dan memulihkan yang rusak
26 Juli 2023
1053

Perayaan Hari Mangrove Sedunia atau World Mangrove Day (WWD) pertama sekali dilakukan pada 26 Juli 2016 atau masih kurang dari 1 dekade. Peringatan tersebut menindaklanjuti resolusi 38C/66 UNESCO yang dihasilkan oleh Konferensi Umum UNESCO ke-38 di Paris pada tanggal 6 November 2015.

 

UNESCO atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization merupakan badan khusus PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan. Pada Konferensi Umum UNESCO 2015 tersebut, Ekuador, sebuah negara tropis di Amerika Selatan mengusulkan tanggal 26 Juli sebagai Hari Internasional Konservasi Ekosistem Mangrove, dan usulan tersebut disetujui sidang UNESCO nama resmi peringatan adalah International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem.

 

Untuk peringatan WWD 2023, Direktur Jenderal UNESCO dalam laman resmi UNESCO antara lain menyampaikan tujuan peringatan ini:

 

“... for everyone in our societies to become aware of the value, the beauty, and the vulnerability of mangrove ecosystems and to commit themselves to their protection

 

Atau

 

“...agar setiap orang di masyarakat kita menyadari nilai, keindahan, dan kerentanan ekosistem mangrove dan berkomitmen untuk melindunginya”

 

Pesan ini menunjukan bahwa peringatan WWD 2023 merupakan wadah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mangrove bagi kehidupan dan kemudian membangun komitmen berbangsa dan bernegara yang melindungi ekosistem penting ini.

 

Mangrove: ekosistem penting dan unik namun rentan

Mangrove merupakan salah satu tipe hutan yang tumbuh di air payau, campuran air asin dan tawar di pesisir tropis sampai sub-tropis (Gambar 1). Vegetasi mangrove umumnya adalah tumbuhan berkayu yang tumbuh di antara rata-rata pasang surut air laut sampai dengan pasang tertinggi. Oleh karena itu, mangrove merupakan ekosistem penghubung antara ekosistem lautan dan ekosistem daratan. Dengan kondisi demikian, mangrove kaya berbagai flora dan fauna.

 

Substrat mangrove karena kondisinya lebih sering tanpa dan kekurangan oksigen, terutama saat terendam pasang. Airnya pun mengandung garam. Ketika tumbuhan berkayu lain tidak bisa hidup, tapi tumbuhan mangrove mampu beradaptasi pada lingkungan salin/payau dan kekurangan atau adakalanya tanpa oksigen di substratnya dengan membentuk berbagai sistem perakaran nafas yang kompleks.

 

Gambar 1. Sebaran mangrove global tahun 2010 menurut garis bujur dan lintang (Bunting dkk., 2018). Pesisir tropis dan Asia Tenggara merupakan penyebaran utama mangrove.

 

Oleh karena posisinya, habitat mangrove sangat rentan terhadap gangguan alam dan antropogenik. Gangguan alam seperti angin topan dan tsunami, sedangkan gangguan antropogenik berupa sampah (plastik dan lainnya) dan polusi dari berbagai aktivitas manusia serta alih fungsi lahan mangrove menjadi penggunaan lain.

 

Mangrove: ekosistem kaya dan lumbung masyarakat pesisir

 Hasil penelitian Huxham dkk. (2004) dan Onrizal dkk. (2020) menunjukan 2/3 biota perairan pesisir sangat tergantung pada mangrove yang baik. Selain itu, hasil analisis Walters dkk. (2008) terhadap banyak hasil publikasi mangrove di berbagai belahan dunia menunjukan 80% jenis biota laut komersial di Florida sangat tergantung mangrove, 67% jenis perikanan tangkap di Australia bagian timur dan hampir 100% udang di perairan ASEAN tergantung pada mangrove. Hasil penelitian Shinnaka dkk. (2007) di pesisir Thailand menunjukan bahwa populasi dan keragaman jenis ikan pada hutan mangrove masih baik secara berturut-turut lebih besar 159-234% dan 116-129% dibandingkan hutan mangrove yang rusak. Sebagai dampaknya yang dirasakan di pesisir timur Sumatera adalah apabila mangrove rusak, maka hasil tangkap dan pendapatan nelayan jauh berkurang (Onrizal dkk., 2020).

 

Dengan demikian, hutan mangrove merupakan lumbung bagi masyarakat pesisir, kesejahteraan mereka sangat tergantung pada kondisi mangrove di sekitarnya. Kerusakan apalagi kehilangan mangrove berarti merusak dan menghilangkan lumbung kehidupan masyarakat pesisir. Pada tingkat lanjut, hal ini akan melemahkan ketahanan negara sebab masyarakat pesisir merupakan masyarakat terdepan dari negara kepulauan seperti Indonesia.

 

Mangrove: ekosistem pelindung alami dan mitigasi perubahan iklim

 Selanjutnya, bencana tsunami dahsyat di akhir tahun 2004 (The Indian Ocean Tsunami) merupakan salah satu bencana alam dengan korban jiwa dan harta yang sangat besar. Namun di balik itu, terdapat pelajaran penting bahwa mangrove yang baik dapat melindungi dan mengurangi dampak tsunami terhadap masyarakat pesisir dan asetnya (Danielsen dkk., 2005; Kathiresan, & Rajendran, 2005; Chang dkk., 2006; Morois & Mitsch, 2015). Hasil penelitian lain juga menjukkan mangrove berperan penting dalam melindungi masyarakat dan wilayah pesisir dari angin badai (Barbier, 2016; Blankespoor dkk., 2016; Akber dkk., 2018).

 

Dalam beberapa dekade terakhir, mitigasi perubahan iklim menjadi isu global. Akhir tahun ini merupakan UN Climate Change Conference (UNFCC) ke-28 (COP28) yang menjadi pertemuan antara negara di bawah PBB untuk mitigasi perubahan iklim. Emisi karbon merupakan salah satu gas rumah kaca (GRK) utama penyebab perubahan iklim. Hasil riset terbaru menunjukan ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon sebesar 3-10 kali dari kebanyakan ekosistem di bumi. Selanjutnya, kerusakan dan alihfungsi mangrove menyebabkan berkurangnya simpanan karbon ekosistem (Murdiyarso dkk., 2023). Dengan demikian, pelestarian ekosistem mangrove merupakan salah satu kunci dalam mitigasi perubahan iklim.

 

Penutup

Mirisnya, laporan UNESCO terbaru menginformasikan bahwa kehilangan hutan mangrove 3-5 kali lebih cepat dibandingkan hilangnya hutan secara global dan dalam waktu 40 tahun terakhir kehilangan mangrove dunia mencapai separuhnya dan sekarang kecepatan laju kerusakan dan kehilangannya semakin tinggi.

 

Kerusakan dan kehilangan mangrove tersebut tidak saja berdampak secara lokal (pemiskinan masyarakat pesisir, peningkatan kerentanan dan lainnya), namun juga secara global (perubahan iklim). Laporan Bank Dunia tahun 2022, menunjukan bahwa manfaat bersih yang diterima dari pelestarian mangrove lebih tinggi dari manfaat pemulihan mangrove. Oleh karena itu, pelestarian dan perlindungan mangrove yang masih tersisa (Gambar 2) harus menjadi prioritas pertama dan kemudian diikuti dengan pemulihan mangrove yang rusak (Gambar 3) dengan perbaikan tata kelola rehabilitasi mangrove.

 

Gambar 2. Mangrove alam yang terjaga menyediakan jasa lingkungan mulai dari tingkat lokal dengan penyediaan hasil tangkap nelayan sampai dengan tingkat global untuk mitigasi perubahan iklim (Foto oleh Onrizal, 2021).

 

Gambar 3. Mangrove hasil rehabilitasi yang berhasil memerlukan komitmen yang tinggi dari para pihak. Kurangnya komitmen dan penguasaan tata kelola rehabilitasi mangrove menyebabkan banyak program yang gagal (Foto oleh Onrizal, 2021).

Tentang Penulis
Onrizal
Pengurus Pusat Masyarakat Mangrove Indonesia dan Pusat Perkumpulan Akademisi dan Sainitis Indonesia (ASASI)

Associate Professor Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke [email protected]
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *