Generasi Muda Penggerak Ekonomi Sirkular untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Aktivitas, Perubahan Iklim, Tata Kelola Sampah
Generasi Muda Penggerak Ekonomi Sirkular untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
21 February 2025
17
0

Tepat satu tahun yang lalu yakni 28 Februari 2024, United Nations Environment Programme (UNEP), lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) untuk bidang lingkungan, mengeluarkan rilis yang bertajuk Global Waste Management Outlook 2024 (GWMO). Dalam rilisnya, UNEP melaporkan bahwa di tahun 2020 aktivitas manusia di seluruh negara menghasilkan sampah hingga 2,12 miliar ton dan diproyeksikan akan mengalami kenaikan hingga 80% menjadi 3,78 miliar ton pada tahun 2050. 

Dijabarkan pula bahwa di tahun 2020 saja, secara global biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan sampah mencapai USD 252 billion atau setara dengan 4.300 triliun Rupiah. Angka fantastis ini adalah konsekuensi dari ledakan populasi dan kebutuhan hidup manusia di bumi. 

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia melalui Sitem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat 25.8 juta ton sampah di Indonesia pada tahun 2024 dan hanya 16 juta ton atau 62% yang mampu dikelola, sedangkan lebih dari 9,8 juta ton atau 38% sisanya masih belum tertangani dan menjadi beban lingkungan. 

Sebaran sampah di Indonesia sangat bervariasi, dengan konsentrasi tinggi berada di daerah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Sedangkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil lain terkena dampak serius berupa tumpukan sampah di pesisir pantai karena arus laut. Oleh karena itu, penanganan pengelolaan sampah yang sistemik dan sinergik dari hulu hingga hilir dengan melibatkan komunitas (masyarakat), pendidik, peneliti, bisnis dan pemerintah, menjadi suatu keharusan.

UNEP juga melaporkan bahwa kondisi pengelolahan sampah yang dilakukan oleh banyak negara, belum mampu menerapkan strategi keberlanjutan. Intervensi dan inovasi dari berbagai pendekatan keilmuan dan pihak-pihak yang terkait, sangat diperlukan untuk mengurangi dampak lebih buruk, seperti kebutuhan penambahan lahan untuk timbunan sampah, peningkatan polusi dan emisi gas rumah kaca, pencemaran lingkungan, hingga adanya ancaman gangguan kesehatan yang semakin besar. 

Oleh karena itu, mitigasi terhadap potensi – potensi yang muncul dari pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan, harus dilakukan secepat mungkin. Lebih jauh lagi, pengelolaan sampah yang bijak, inovatif dan berkelanjutan ternyata tidak hanya akan mampu mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan tetapi juga menghasilkan potensi dan manfaat besar, baik dari sisi ekologis maupun ekonomi.

Salah satu pendekatan untuk keberlanjutan penanganan sampah adalah prinsip ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular adalah suatu model ekonomi yang sistemik melalui penarikkan kembali sisa produksi atau konsumsi ke dalam sistim produksi semula atau turunanannya, sehingga terjadi pengurangan penggunaan sumber daya, peningkatan umur daya guna material dan peningkatan daur/guna ulang sampah. Dengan kata lain, prinsip sirkular ekonomi pada pengelolaan sampah akan sangat tepat dalam menyelamatan bumi kita. 

Pada sisi ekonomi, prinsip sirkular ekonomi dapat membuka peluang lapangan kerja baru di bidang pekerjaan hijau (green jobs). Potensi ini bagaikan gayung bersambut jika kita kaitkan dengan bonus demografi yang dihadapi Indonesia. Akhirnya, penerapan prinsip sirkular ekonomi akan menciptakan keselarasan antara penurunan sampah yang belum terkelola dengan baik, penurunan nilai emisi gas rumah kaca dan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat.

Implementasi ekonomi sirkular dalam penanganan sampah di Indonesia, perlu disiapkan secara matang oleh seluruh pihak yang terkait seperti pemerintah, industri, akademisi-peneliti dan komunitas. Pemerintah akan memainkan peran kunci dalam menciptakan regulasi yang strategis yang mendukung prinsip sirkular ekonomi. Insentif fiskal maupun non fiskal, seperti insentif dan pembinaan bagi semua pelaku daur ulang diharapkan dapat menjadi daya dorong keberlanjutan ekosistem industri daur ulang. 

Selain berkontribusi dalam pengembangan disain bahan baku, proses manufaktur dan produk yang selaras, yang kemudian dapat diterapkan oleh kalangan industri atau bisnis, para akademisi dan para peneliti dapat juga mengedukasi masyarakat untuk penerapan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Keterlibatan generasi muda melalui komunitas atau lembaga kemasyarakatan dapat berkontribusi besar dalam mensukseskan ekosistem ekonomi sirkular. 

Generasi muda dengan gerakan dan kampanye kreatif dan inovatifnya, dapat mewarnai dan menginsipirasi komponen – komponen masyarakat lainnya. Gerakan kecil berskala lokal namun mengusung visi besar yang dibarengi dengan kesadaran lingkungan yang tinggi, akan mampu menciptakan gerakan - gerakan bersama lain yang lebih besar dalam masyarakat. Lebih jauh lagi, keterlibatan kalangan muda dalam isu - isu keberlanjutan pengelolaan sampah, merupakan asset bangsa yang akan sangat terlihat signifikansi terhadap ekosistem sirkular ekonomi dalam pengelolaan sampah di Indonesia.

Sampah adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat disangkal dari kehidupan manusia. Permasalahannya bukan terletak pada sampah, akan tetapi bagaimana pengelolaanya. Pengelolaan yang baik dan pensikapan yang bijak adalah kunci penyelesaian permasalahan sampah untuk Indonesia yang lebih bersih dan beradab.

 

sumber foto: https://images.bisnis.com/photos/2024/10/01/208414/antarafoto-produksi-barang-kerajinan-daur-ulang-sampah-300924-riv-2.jpg

Hari Peduli Sampah Nasional, Keanekaragaman hayati, Lingkungan, biodiversity
Tentang Penulis
Prof. Dr. Ir. Mochamad Chalid, S. Si., M. SC. Eng
Director of the Center for Sustainability & Waste Management (CSWM) Universitas Indonesia

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *