Tentara kecil si ”semut merah”

  • Tentang Kami
 
  • Anggota
 
  • BW in Campus
 
  • Kontak Kami
 
  • BW Go to School / Campus
 
  • BW in Training
 
  • BW Camp
 
  • BW in Field
 
  • Artikel
 
  • Siaran Pers
 
  • Opini
 
  • Buku
 
  • Infografik
 
  • Foto
 
  • Video
 
ID
 
EN
Foto
Tentara kecil si ”semut merah”
Lain-lain
1147
30 Juni 2014
Fotografer
fadilla anwar
1
foto

Tentara kecil si ”semut merah”  

“Malu aku malu, pada semut merah yang berbaris di dinding menatap ku curiga seakan penuh tanya sedang apa disini?”  

Mungkin itulah sepenggal bait lagu yang menceritakan perilaku serangga kecil yang kadang kala kita sepele kan perannya di lingkungan atau bahkan kita sering merasa tergangu dengan keberadaanya. Mari kita simak tulisan dibawah ini tentang “semut merah”, bagaimana cara semut berkomunikasi sehingga dapat berbaris? Bagaimana cara semut mencari makan bersama-sama?  

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Pillum     : Arthropoda

Kelas      : Insecta

Ordo      : Hymenoptera

Subordo  : Apokrita

Superfamil: Vespoidea

Famili       : Formicidae

Genus      : Formica

Spesies  : Formica yessensis  

 

Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).  

Ekologi Semut Semut merupakan hewan kecil yang unik, Semut dapat dengan mudah mendeteksi apakah seekor semut lain berasal dari koloni yang sama atau tidak. Semut pekerja menyentuh tubuh semut satunya untuk mengenali, jika semut lain itu memasuki sarangnya. Ia dapat langsung membedakan semut yang sekoloni de-ngannya atau tidak, berkat bau koloni khusus pada tubuh. Jika semut yang memasuki sarang adalah semut asing, gerombolan semut akan menyerang tamu tak diundang ini secara kejam. Penghuni sarang meng-gigiti tubuh semut asing ini dengan rahang mereka yang kuat dan mem-buatnya tak berdaya dengan asam format, sitronelal, dan zat beracun lain yang mereka sekresikan.   Jika tamunya berasal dari spesies yang sama tetapi dari koloni lain, mereka juga dapat memahaminya. Dalam hal ini, semut tamu diterima di dalam sarang. Akan tetapi, semut tamu ini diberi makanan lebih sedikit sampai ia memperoleh bau koloni tersebut. Semut berkomunikasi dengan semut lainnya dengan isyarat kimiawi dengan mensekresikan feromon dan alomon. Alomon adalah zat yang digunakan untuk komunikasi antargenus. Sementara feromon adalah isyarat kimiawi yang terutama digunakan dalam genus yang sama dan saat disekresikan oleh seekor semut dapat dicium oleh yang lain.   Bagaimana cara semut mencari makan bersama-sama? Pertama, semut pencari pergi ke sumber makanan yang baru ditemu-kan. Lalu mereka memanggil semut lain dengan cairan yang disebut feromon, yang disekresikan dalam kelenjar-kelenjar mereka. Saat kerumunan di sekitar makanan membesar, sekresi feromon membatasi pekerja. Jika makanan sangat kecil atau jauh, pencari menyesuaikan jumlah semut yang mencoba mencapai makanan dengan mengeluarkan isyarat. Jika makanan besar, semut mencoba lebih giat untuk mening-galkan lebih banyak jejak, sehingga lebih banyak semut dari sarang yang membantu para pemburu. Apa pun yang terjadi, tak pernah ada masalah dalam konsumsi makanan dan pemindahannya ke sarang, karena di sini ada “kerja tim” yang sempurna.   Sebagai hewan pemangsa, semut merah juga bisa menjadi pengendali hama alami pertanian. Semut pekerja sangat agresif terhadap serangga lainnya dan pada hewan segala ukuran. Bila ada yang menyentuh pohon yang mereka tinggali, mereka akan menyerang bersama-sama dengan gigitan menyakitkan.   Karena sifat itu, sejumlah pertanian organik di Thailand telah memanfaatkan jasa mereka. Di Jember, Jawa Timur, setelah pengamatan berbulan-bulan, seorang penyuluh pertanian menemukan bahwa semut merah bisa dimanfaatkan sebagai pengusir tikus. Tikus ternyata tak suka daerah yang banyak semut merahnya. Tikus juga terlalu "pintar" hingga tak mau menyantap makanan yang sudah diberi racun tikus.    Akhirnya, dicoba dengan menyebarkan ikan asin kegemaran tikus. Tapi, ikan asin itu tak selalu habis dimakan, dan kadang dibawa tikus ke sarngnya. Semut merah mencium adanya sisa ikan asin. Begitu semut merah datang, tikus pun pergi. Semut juga meningkatkan kadar karbon dalam tanah dengan menambahkan zat hara dari kotoran dan sisa-sisa makanan mereka, serta menjaga suhu dan kelembaban lingkungan pada kadar sesuai. Tanaman yang tumbuh dengan dan dekat sarang semut tumbuh lebih subur dibandingkan dengan tanaman lain.  

Semut dan Manusia Umat muslim diperintahkan untuk tidak membunuh semut, berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah Muhammad bersabda bahwa, "Ada seekor semut pernah menggigit salah seorang nabi. Nabi tersebut lalu memerintahkan umatnya untuk mendatangi sarang semut kemudian membakarnya. Tetapi kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih                                                                                                

Hak Cipta:
0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *