The Hopes of Coffee

Artikel
The Hopes of Coffee
Satwa
1624
31 Oktober 2014
Penulis
Nuruliawati Yuwono
1
posting

Siapa tak kenal Kopi Lampung? Kopi yang berasal dari tanah Lampung atau akrab disapa kopi robusta (varietas) ini merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor negara Indonesia. Coffea robusta atau kopi robusta merupakan kopi yang memiliki kadar kafein yang 1,1% (per bobot kopi) lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya yaitu Coffea arabica (kopi arabika). Kopi tersebut memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Sebagian besar perkebunan kopi Lampung tersebar di dataran Lampung, termasuk daerah Pekon Pemerihan dan Sumberejo, Lampung Barat.

Bunga kopi robusta yang belum mekar. Sumber: [Dokumentasi pribadi]

Pemerihan dan Sumberejo merupakan pekon (desa) yang terletak di tepi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Lokasinya yang berbukit dan masih dihijaukan oleh tanaman liar khas hutan sekunder membuat kawasan tersebut potensial bagi tanaman yang menyukai intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi, tetapi tetap membutuhkan naungan, seperti kopi. Hal tersebut terbukti jika Anda berkunjung ke pekon tersebut. Sepanjang jalan menuju pekon, Anda akan disuguhkan hamparan lahan perkebunan kopi, lada dan coklat milik warga.

Mayoritas warga desa di sepanjang Pesisir Lampung Barat merupakan petani (farmer), baik kopi, lada, coklat, cempaka ataupun padi. Setiap tahunnya, warga dapat memanen tiga jenis hasil kebun secara langsung yaitu kopi, lada dan coklat. Kegiatan berkebun yang telah menjadi bagian dari hidup mereka, alhasil membuat warga memiliki halaman yang cukup luas dan bersemen di depan rumah mereka, guna menjemur hasil panennya sebelum dijual ke pengepul. Perekonomian warga sangat bergantung kepada ketiga jenis hasil kebun tersebut. Namun, perubahan iklim mengubah segalanya. Kemarau sudah tidak dapat diprediksi oleh warga pada tahun-tahun terakhir. Cuaca yang tidak menentu tersebut membuat warga mulai melirik hasil kebun lainnya yaitu jagung.

Kondisi kekinian pekon-pekon sepanjang Pesisir Lampung Barat sudah mulai ‘menguning’. Hamparan hijau lahan perkebunan kopi, sudah mulai tergantikan dengan lahan jagung baru milik warga. Warga mulai beralih hasil kebun lainnya akibat harga kopi yang kurang bersaing di pasaran. Hal tersebut juga turut dilansir media online Lampung Post, Saibumi.com, dan Situs Resmi Pemerintah Kota Bandar Lampung, bahwa harga kopi mengalami penurunan sebanyak Rp.2000,-/kg dengan harga awal Rp.22.000,-/kg menjadi Rp.20.000,-/kg, bahkan hingga mencapai angka Rp. 17.500,-/kg. Perubahan tanaman kebun warga terjadi di titik survey biodiversitas burung dan kelelawar kami yang berlokasi di Sumberejo. Tanaman kopi milik warga yang terdapat di dalam titik, sudah dibabat menjadi hamparan lahan luas yang siap untuk ditanami jagung (Gambar 1.). 

Gambar 1. Kondisi salah satu titik pengamatan di pekon Sumberejo yang sudah siap ditanami jagung. Sumber: [Dokumentasi pribadi]

Kondisi titik tersebut saat kami melakukan survey di bulan Agustus lalu, berbeda dengan bulan sebelumnya. Seperti kondisi titik pengamatan 0 m di transek 1 Sumberejo. Saat melakukan analisis vegetasi bulan Juli, kondisi titik ini masih di’ramaikan’ oleh tanaman kopi. Namun, saat kembali untuk melakukan survey di bulan Agustus, tanaman kopi yang terdapat di dalam titik sudah mulai jarang. Rasa penasaran kami terhadap fenomena tersebut ditanggapi baik oleh asisten lapangan kami, Janji Yanto. Lelaki yang akrab disapa Mas Janji tersebut menjelaskan bahwa kebanyakan warga mulai merasa keuntungan mereka berkurang saat menanam kopi, terlebih harga di pasaran yang menurun. Padahal menanam kopi dapat mendatangkan keuntungan sendiri bagi warga. Hal tersebut dapat mengundang berbagai macam biodiversitas, termasuk polinator.

Kopi menunjang kehidupan biodiversitas, termasuk burung, serangga dan kelelawar. Hal tersebut terlihat saat melakukan survey burung dan kelelawar. Mata jeli asisten lapangan kami, Mas Janji, menemukan adanya sarang Perenjak Jawa (Prinia familiaris) yang terdapat di atas kanopi pohon kopi. Tiga telur berukuran kecil dan berwarna biru ditemukan terdapat di dalam sarang dengan bentuk yang unik (Gambar 2). Perenjak merupakan burung yang memiliki preferensi bersarang di atas pohon yang rendah dan memiliki kanopi yang cukup lebat. Hal tersebut menunjukkan bahwa kopi dapat menjadi habitat bagi biodiversitas termasuk burung Perenjak Jawa.

 

Gambar 2. Prinia familiaris (Perenjak Jawa) dan telurnya yang ditemukan di atas kanopi pohon kopi. Sumber: [Dokumentasi pribadi].

Biji kopi yang matang dapat mengundang burung-burung pemakan buah (frugivora) untuk turut menjadi penyebar biji (seed disperser) kopi itu sendiri, seperti Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) atau Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) (Gambar 3.).

Gambar 3. Cucak kutilang sedang memakan biji di kebun kopi. Sumber: [Dokumentasi pribadi].

Selain burung, bunga kopi yang sedang mekar juga mengundang serangga untuk bertandang menghisap nektar seperti lebah dan kupu-kupu yang menjadi polinator dari tanaman kopi (Gambar 4 & 5). 

Gambar 4. Kupu-kupu yang ditemukan di kebun kopi. Kiri: Euploea sp. dan biji kopi; Kanan: belum teridentifikasi. Sumber: [Dokumentasi pribadi]. 

Adanya penggantian individu tanaman kopi dengan tanaman lain, seperti jagung, dapat mengancam keberadaan biodiversitas satwa di lokasi tersebut. Polinator seperti kupu-kupu dan lebah dapat mengalami krisis akibat jumlah nektar yang berkurang. Menyediakan habitat bagi polinator berdampak positif pada kelangsungan hidup dari tanaman itu sendiri serta hasil kebun yang baik. Tanpa jasa polinator, tidak akan ada secangkir kopi di pagi hari Anda.

Short-term Profit or Sustainable Profit? You decide~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *