Survey Biodiversitas Jakarta di Kala Pandemi (Taman Tebet)

Artikel
Survey Biodiversitas Jakarta di Kala Pandemi (Taman Tebet)
79
9 Desember 2020
Biologi
Penulis
Esti Komariah
1
posting

Setelah sekian lama di rumah saja, selalu mencari cara untuk mengisi waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah. Sesekali rindu dengan kegiatan di luar rumah, seperti pengamatan burung di ruang terbuka hijau dan mengamati kehati lainnya. Kabar bahagia akhirnya datang, ketika teman-teman Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bersama Komunitas Ayo ke Taman dan teman-teman dari Biological Bird Club “Ardea” mengajak untuk ikut serta dalam Jakarta Biodiversity Survey in Pandemi.

Rindu dengan pengamatan seperti biasa cukup terbayarkan, meskipun dengan suasana yg sedikit berbeda. Protokol kesehatan kami terapkan selama melakukan survey, seperti menjaga jarak, memakai masker, termasuk membatasi jumlah tim yang ikut dalam survey.

Sabtu, 28 November 2020 ini Saya berkesempatan ikut serta dalam survey di Taman Tebet yang ramai pagi itu. Banyak pengunjung melakukan berbagai aktivitas di dalam kawasan taman yang sedang dalam proses renovasi. Meskipun beberapa bagian taman tidak bisa dilalui, tidak menyurutkan semangat masyarakat walau hanya sekadar melakukan olahraga ringan bersama teman dan keluarga.

 

Gambar 1. Suasana Pagi hari di Taman Tebet, Jakarta Selatan. Sabtu (28/11/2020)

Gambar 1. Suasana Pagi hari di Taman Tebet, Jakarta Selatan. Sabtu (28/11/2020)

 

Cuaca yang sedikit mendung, tidak mengurangi semangat kami yang bertujuan mengamati biodiversitas Taman Tebet. Pengamatan kami mulai pukul 07.00 s.d. 10.00. Kami memulai pengamatan dengan menyusuri bagian depan taman hingga bagian sudut-sudut taman. Setiap satwa yang kami temukan akan dicatat dan difoto sebagai dokumentasi.

Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan dua belas jenis burung dan enam jenis Kupu-kupu. Selama pengamatan kami tidak menemukan satu pun Capung, dan menurut dugaan kami disebabkan oleh sungai-sungai yang berada di dalam taman tidak terlalu bersih. Hal ini dikarenakan Capung merupakan hewan yang menjadi salah satu bioindikator terutama untuk keberadaan air bersih.

Banyak jenis dari Kupu-kupu yang kami temui lebih sering terbang dan jarang hinggap, kecuali dari jenis yang tergolong keluarga Hesperiidae. Jenis kupu-kupu ini mudah ditemukan di antara tumbuhan herba dan semak di area taman.

 

Gambar 2. Kupu-kupu yang termasuk dalam famili Hesperiidae

Gambar 2. Kupu-kupu yang termasuk dalam famili Hesperiidae

 

Selain itu, selama pengamatan suara kicau burung samar terdengar, dan terlihat terbang di antara pepohonan. Beberapa jenis burung seperti Burung gereja erasia tampak mencari makan dan bermain di atas rerumputan. Banyak juga ditemukan sedang  bertengger di dahan yang rimbun dan juga kering, seperti Cucak Kutilang dan Perkutut Jawa.

 

Cucak Kutilang

Gambar 4. (Gambar Kiri ke Kanan)Perkutut Jawa dan Cucak Kutilang

Gambar 3. (Gambar Atas ke Bawah)Cucak Kutilang dan Perkutut Jawa

 

Pengamatan kali ini cukup mengobati kerinduan akan pengamatan yang sering dilakukan sebelum masa pandemi, meskipun tidak banyak jenis yang dapat kami temui. Menurut dugaan kami disebabkan banyaknya aktivitas baik oleh pengunjung maupun petugas taman. Beberapa petugas terlihat tengah melakukan pekerjaannya, serta banyak bagian dari taman yang sedang dalam perbaiakn. Selain itu cuaca yang mendung menjadi alasan lain, mengapa sedikit satwa yang dapat teramati terutama burunng.

Akan tetapi diperlukan pengamatan lebih banyak lagi untuk mengeksplor biodiversitas di Taman Tebet ini. Semoga satwa yang tinggal di dalam taman tetap lestari, dan dilain kesempatan bisa lebih banyak lagi yang dapat dijumpai. Semoga keadaan segera membaik, sehingga kegiatan mengamati biodiversitas semacam ini dapat lebih leluasa dilakukan seperti biasa.

 

Salam Lestari
Salam Konservasi

 

Gambar 3. Dokumentasi Kegiatan Gambar 3. Dokumentasi Kegiatan

Gambar 4. Dokumentasi Kegiatan

Gambar 4. Dokumentasi Kegiatan

2
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penulis
Esti Komariah
Biologi
1
posting
Topik Terkait
Tidak ada artikel yang ditemukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *