SUNGKAI (Peronema canescens)

Article
SUNGKAI (Peronema canescens)
91
5 September 2020
Kehutanan
Author
Dobi Sinaga
5
posting

Nama Ilmiah

Di Indonesia biasa dikenal dengan nama sungkai atau jati sabrang. Sungkai adalah salah satu pohon yang kayunya kerap dimanfaatkan oleh masyarakat. Pohon dengan nama latin Peronema canescens ini juga disebut sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus dan sekai yang termasuk dalam famili Verbenaceae.

Sungkai (Peronema canescens

Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Verbeaceae
Genus : Peronema
Spesies : Peronema canescens

Sebaran

Secara alami Sungkai terdapat di Pulau Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau dan Jawa Barat. Sungkai yang terdapat di Jawa Barat berasal dari Lampung, kemudian tumbuh secara alami. Di Pulau Kalimantan, semakin ke utara menuju khatulistiwa populasi sungkai yang tumbuh secara alami semakin sulit ditemukan. Di Jambi Sungkai banyak tumbuh di Tebo Tengah, Pasir Mayang, Pulau temiang, Pemayongan, Bangko, Rantaumaukapuas, Sarolangun, Pulau Pandan dan Pauh. Sungkai dapat tumbuh baik pada hutan-hutan sekunder yang terbuka, di tepi sungai yang lembab tapi tidak tergenang air dan di tepi jalan yang terbuka. Sungkai dapat tumbuh baik pada ketinggian 0 – 600 meter dari atas permukaan laut dan menyukai jenis tanah Podzolik Merah Kuning. Suhu bulanan berkisar antara 210C – 320C dengan curah hujan rata-rata tahunan antara 2100 – 2700 mm.

Tinggi dan Diameter

Tinggi pohon mencapai 20–30 m panjang batang bebas cabang mencapai 15 m, dengan diameter 60 cm atau lebih, batang lurus dan sedikit berlekuk dangkal, tidak berbanir, dan ranting penuh bulu halus.

Bentuk Kulit Batang

Kulit luar berwarna kelabu atau sawo muda, beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil dan tipis. Kayu teras berwarna krem atau kuning muda. Tekstur kayu kasar dan tidak merata.Arah serat lurus, kadang-kadang bergelombang dengan permukaan kayu agak kesat.

Ciri Daun

Permukaan daun berbulu halus, berwarna abu-abu kotor atau abu-abu terang. Dalam satu cabang terdapat lebih dari empat helai daun. Tajuk pohon berbentuk avoid, skala tajuk halus sampai sedang. Daun pertama pinateli, ujung daun ovate, bentuk daun petiolate. Bentuk kotiledon sama dengan perkecambahan epigeal

Bunga dan Buah

Pohon Sungkai mempunyai musim berbunga dan berbuah yang berbeda-beda menurut penyebaran tempat tumbuhnya. Di Jawa berbunga pada bulan Juni dan Juli, di Sumatera Selatan Tanaman sungkai berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Maret – Juni, tiap kilogram biji berisi 262.000 butir dan di Kalimantan antara Januarai dan Februari. Bunga Sungkai berbentuk malai di ujung atau ketiak daun atas, ukurannya besar dan bercabang-cabang dengan panjang sekitar 20- 60 cm. Pada umumnya Buah akan muncul setelah dua bulan musim bunga. Buah Sungkai berupa buah batu beruang empat, kering, bulat, kecil dan berbiji banyak. Namun biji Sungkai sulit dikecambahkan, dan berdasarkan data literature, prosentase kecambah bijinya hanya 30 %, karena itu untuk Pembibitan digunakan Vegetatif/stek

Bentuk Tajuk

            Tajuk Tanaman berbentuk bulat telur dan pada umunya kurang rimbun. Daun majemuk bersirip ganjil letaknya berpasangan atau berselang-selang lancip, melancip pada ujungnya.

Kegunaan

Sungkai merupakan salah satu jenis kayu yang memiliki nilai cukup tinggi sebab dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti untuk bahan bangunan, lantai, papan dinding, patung, furniture, ukiran, patung, kerajinan tangan dan finir mewah. Di samping daunnya dapat berguna sebagai obat penyakit gigi serta mampu menurunkan demam panas.

Teknik Budidaya

Pengunduhan buah sungkai dilakukan dengan memotong tangkai buahnya saja, sehingga tidak merusak dahan pohon atau dapat juga dilakukan dengan memanjat batang pohon induk untuk kemudian dilakukan pengunduhan buah dengan gunting stek dan tempat yang telah disediakan sebelumnya. Buah yang diperoleh dimasukkan dalam karung dan diangkut ke tempat ekstraksi. Ekstraksi benih dilakukan dengan menjemur buah pada sinar matahari langsung selama 2-3 hari. Setelah penjemuran benih akan keluar dari buahnya yang ditandai dengan merekahnya kulit buah. Tahap awal kegiatan yang dilakukan adalah memisahkan benih dengan bagian buah lainnya yaitu menggunakan ayakan tepung. Penyaringan tahap kedua adalah dilakukan menggunakan saringan 500-600 mikron .

Penyebaran benih sungkai dilakukan pada bak-bak tabur, setelah berkecambah baru disapih. Bak tabur dapat digunakan memakai nampan plastik dengan diberi lubang di permukaan alas untuk lubang drainase. Media tabur menggunakan pasir halus atau dicampur dengan abu sisa pembakaran. Sebelum digunakan pasir terlebih dahulu disterilkan dengan disangrai atau disemprot dengan fungisida. Media dibuat setebal 3 cm, karena ukuran benih sungkai sangat kecil, maka benih ditutup dengan pasir setebal 0,5 cm agar benih tidak mudah tertiup angin. Penyiraman dilakukan dengan misting/kabut, sehingga benih tidak terlempar keluar dan bisa juga menggunakan sprayer.

Pemeliharaan bibit di persemaian berupa penyiraman dilakukan dengan menggunakan sprayer sampai dengan umur bibit 2 bulan. Intensitas penyiraman dilakukan 2 kali setiap hari yaitu pada pagi dan sore hari. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk NPK dengan dosis 5 g/l air pada umur bibit 4 sampai 6 minggu. Pemeliharaan lainnya adalah pengendalian hama dan penyakit bila ada. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan persemaian dan menjaga kondisi sanitasi di persemaian. Fungisida dan insectisida perlu disediakan untuk mengantasipasi apabila terjadi serangan hama dan penyakit. Kriteria bibit siap tanam adalah berdasarkan tingkat kesehatan bibit, kekokohan batang, kekompakan media dengan akar, dan kondisi daun dan perakaran

           

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Author
Dobi Sinaga
Kehutanan
5
posting
Related Topics
No items found

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *