Kertas dari Kotoran Gajah

Artikel
Kertas dari Kotoran Gajah
68
4 September 2020
Kehutanan
Penulis
Dobi Sinaga
5
posting

Kayu masih jadi bahan baku utama produksi kertas global. Hal ini tentu saja berdampak bagi lingkungan dan keanekaragaman hayati. Untuk mengurangi dampak tersebut, pembuatan kertas menggunakan serat non kayu menjadi solusi, salah satunya dari kotoran gajah seperti yang ditawarkan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli.  Kotoran gajah merupakan limbah yang banyak ditemukan di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli. Mengolah kotoran empat ekor gajah yang ada di sana menjadi produk yang bermanfaat seperti kertas, menjadi peluang yang bagus dan bermanfaat.

Proses pembuataan kertas dari kotoran gajah terbilang mudah walaupun banyak tahapan dimulai dari proses pengumpulan material berupa kotoran gajah yang masih baru,kertas bekas,karton dll. Tahapan awal yaitu pembersihan kotoran gajah yang sudah dikumpulkan menggunakan air lalu dilakukan penjemuran dibawah sinar matahari hingga benar benar kering,hasil penjemuran direbus di air mendidih kemudian dijemur lagi hingga kering. Kemudiain digiling kotoran gajah sampai halus menggunakan mesin penggiling. Kemudian limbah kertas yang sudah disiapkan direbus di air mendidih. Setelah itu, diaduk limbah kertas dan dicampur denga kotoran gajah hasil penggilingan hingga tercampur merata. Proses akhir yaitu hasil pencampuran dan pengadukan siap dimasukkan ke bak penanmpungan untuk dilakuakan pencetakan kertas kotoran gajah.

Pembuataan kertas daur ulang dari kotoran gajah dapat mengurangi limbah menggantikan kayu sebagai bahan baku utama produksi kertas dan menciptkan produksi barang daur ulang yang ramah lingkungan. Kertas kotoran gajah memiliki setetika yang tinggi. Kertas kotoran gajah yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai kertas pembuatan sertifikat dan yang laiinya karena memiliki keunikan tersendiri. Pembuatan kertas dari kotoran gajah sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai bagian upaya konservasi dan penyelamatan terhadap ekosistem lingkungan.

 

Sumber :

LitbangKLHK.

BP2LHK Aek Nauli.

1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penulis
Dobi Sinaga
Kehutanan
5
posting
Topik Terkait
Tidak ada artikel yang ditemukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *