Suara Pemikat Hati, Cipoh Kacat

Artikel
Suara Pemikat Hati, Cipoh Kacat
Satwa
4475
23 Juli 2014
Penulis
Yunita Perdiandti Jajomi
3
posting

Suara Pemikat Hati, Cipoh Kacat

Oleh: Yunita Perdiandti Jajomi  

 

Sebagai bangsa Indonesia kita patut bersyukur, telah berada dalam sebuah negara dengan bentangan kepulauan yang amat kaya akan fauna-faunanya. Jumlah burungnya saja mencapai sekitar 1500 jenis, dan lebih dari 400 jenisnya adalah burung endemik yang tersebar di berbagai wilayah.

Jenis burung tersebut bisa dibedakan berdasarkan bentuk paruhnya, habitatnya, jenis makanannya, tempat tinggalnya, maupun kebiasaannya. Banyaknya burung yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai keunikan-keunikannya membuat penulis merasa tergelitik untuk membahas lebih dalam lagi mengenai jenis-jenis burung yang ada.

Salah satu jenis burung yang menyita perhatian adalah si burung pemikat hati, Cipoh Kacat. Cipoh Kacat termasuk kedalam famili Aegithinidae  dengan nama latin  Aegithina tiphia, karena memiliki paruh yang menonjol dengan kekang yang tegak. Burung ini merupakan salah satu spesies yang memiliki karakteristik dimorfisme seksual, yaitu perbedaan sistematik luar antara individu yang berbeda jenis kelamin dalam spesies yang sama, sehingga tidak sulit utuk membedakan individu jantan dan betina. Perbedaan tersebut mencakup warna bulu dan ukuran tubuh.

Secara umum, burung ini berukuran kurang lebih 15 cm dan memiliki warna tubuh hijau dan kuning dengan dua garis putih mencolok pada sayapnya. Bedanya, Cipoh Kacat betina memiliki sayap hijau dan ekor hijau zaitun, sedangkan Cipoh Kacat jantan memiliki garis hitam tambahan pada punggung dan sayapnya serta ekor yang berwarna kehitaman, serta distribusi warna hitam yang sangat bervariasi pada bagian atas. Perpaduan yang menarik ini ditambah pula dengan lingkaran mata yang berwarna kuning dengan iris putih keabu-abuan, juga paruh dan kaki hitam kebiruan.

Sekilas burung pemikat hati ini memiliki persamaan dengan cipoh jantung (Aegithina viridissima), karena kedua burung ini berasal dari famili yang sama yaitu Aegithinidae. Perbedaan itu bisa dilihat dari warna tubuhnya. Pada Cipoh Kacat jantan, dada dan kekang berwarna kuning sedangkan Cipoh Jantung jantan memiliki dada yang berwarna lebih hijau dan tubuh bagian atas berwarna lebih gelap. Pada betinanya, Cipoh Jantung berwarna lebih hijau gelap dengan kekang dan penutup telinga hijau serta garis sayap lebih  kekuningan sementara Cipoh Kacat betina berwarna putih.

Burung yang dalam bahasa Inggris disebut Common Iora ini merupakan salah satu burung yang keberadaannya masih cukup umum. Tidak hanya dapat ditemukan di tajuk-tajuk hutan namun tak jarang burung ini memperlihatkan dirinya di daerah perkotaan dan di Ruang Terbuka Hijau. Umumnya si pemikat hati ini berkeliaran sendirian atau berpasangan, berlompatan di cabang-cabang pohon kecil tempat burung ini bersembunyi dengan baik. Selama musim kawin yang berlangsung sekitar Maret hingga April, Cipoh Kacat jantan akan sering terlihat melakukan atraksi akrobatik untuk menarik perhatian sang betina dengan mengembangkan bulu-bulunya dan berputar diudara sehingga tampak seperti sebuah bola tenis.

Tarian yang dilakukan oleh si jantan terhadap betina ini layaknya seorang Cassanova yang begitu lihai menunjukkan pesonanya untuk mendapatkan perhatian dari gadis incarannya. Suaranya yang khas berupa siulan “ciiiii” yang panjang dengan tiba-tiba menurun seperti bunyi “poh” pada ujungnya menjadi daya tarik tersendiri dari Cipoh Kacat. Selain itu, variasi dari nada siulannya membuat siapa saja semakin kerasan mendengarnya.

Adapun keunikan lainnya yang dimiliki Cipoh Kacat yaitu mampu menirukan suara panggilan dari burung sejenis Srigunting dan burung-burung dari genus Pycnonotus meskipun kemampuannya ini masih terbatas. Dengan kemampuan kicauannya yang unik ini, cipoh kacat kerap kali diikutsertakan dalam ajang lomba burung berkicau, sehingga banyak orang-orang tertarik untuk memelihara atau mengembakbiakkannya.

Beberapa orang bahkan melatih dan memberikan pakan khusus agar menghasilkan suara yang bervariasi dan semakin meningkatkan daya jual bagi burung ini sendiri. Cipoh Kacat juga tidak jarang sengaja dipelihara oleh mereka yang membutuhkan ketenangan dalam perenungan untuk mencari ide baru seperti menulis lagu dan komposer karena diyakini suara dari Cipoh Kacat ini merupakan sumber inspirasi yang tepat. Selain itu, saat berkicau dia juga menggerakan sayap dan ekornya sehingga membuat burung ini semakin terlihat menggemaskan.

Ternyata, selain perannya di alam bebas, burung mungil ini memiliki arti tersendiri bagi para pehobi. Meskipun si pemikat hati  ini relatif  mudah ditemukan, namun  apabila terus-menerus ditangkap dan dipelihara di dalam sangkar, maka populasi dari burung ini akan habis dan bukan tidak mungkin burung ini akan terancam punah. Untuk itu alangkah baiknya burung pemikat hati ini dibiarkan hidup dialamnya, dihabitat yang disukainya agar kelestarian dari burung ini dapat tetap terjaga.      

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *