Si Raksasa Attacus atlas

Artikel
Si Raksasa Attacus atlas
Satwa
3289
22 Maret 2017
Penulis
Milade Annisa Muflihaini
17
posting

(Photo Loc.: Kali Kuning, Kaliurang, Sleman, DIY)

 

  Attacus atlas merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (Chapman, 1969). Klasifikasi A. atlas menurut Peigler (1989) adalah sebagai berikut:

Kelas : Insekta

Ordo : Lepidoptera

Super famili : Bombycoidea

Famili : Saturniidae

Genus : Attacus

Spesies : Attacus atlas

 

Ulat sutera A. atlas merupakan salah satu serangga yang berukuran besar dan banyak ditemukan di hutan tropis dan subtropis. Attacus atlas bersifat polivoltin, yaitu memiliki beberapa generasi  alam satu tahun. Imago A. atlas dapat ditemui selama 12 bulan dalam satu tahun (Peigler, 1989). Attacus atlas termasuk serangga polifagus yang dapat memakan 90 golongan tumbuhan dari 48 famili seperti daun sirsak (Annona muricata Linn), dadap (Erythrina sp), alpokat (Persea americanaMil), teh (Camelia sinensis Linn), cengkeh (Zingiber purpureum), jambu biji (Psidium guajava) dan tanaman dikotil lainnya (Kalshoven, 1981).

 

Siklus Hidup dan Morfologi Telur

Attacus atlas mengalami metamorfosis sempurna yang dimulai dari fase telur – larva – pupa – imago. Menurut Chapman (1969) telur memiliki kerabang yang halus dan biasanya diselimuti cairan berwarna kemerahan hingga coklat yang berfungsi untuk melekatkan telur pada daun atau ranting. Ukuran telur A. atlas, yaitu panjang 2,7 mm, lebar 2,3 mm dan tinggi 2,1 mm. Ulat sutera liar ini memiliki bentuk telur yang bulat agak pipih. Telur dapat disimpan pada ruangan dengan suhu tidak kurang dari 15oC. Larva dari ulat sutera liar ini terdiri dari enam tahapan stadium (instar). Telur ulat sutera liar menetas setelah tujuh hari masa inkubasi (Peigler, 1989). Menurut Adria dan Idris (1996) kisaran stadium telur adalah 7 – 13 hari. Pada umumnya telur menetas pada pagi hari sekitar pukul 05.00 hingga sekitar 09.30 pagi. Telur dapat diletakkan secara individu ataupun berkelompok (Awan, 2007).

 

Larva

Pada setiap instar, ciri-ciri, ukuran dan perilaku larva berbeda sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan larva. Larva akan makan dan tumbuh dengan baik jika manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik, pemberian pakan yang selalu segar dan sesuai dengan kebutuhan. Pergantian kulit (molting) terjadi beberapa kali pada saat-saat tertentu, karena larva bertambah besar sedangkan kulit larva yang lama mengeras dan tidak mungkin lagi untuk tumbuh kembang larva selanjutnya sehingga perlu berganti kulit (Peigler, 1989). Pergantian kulit (molting) adalah tanda pergantian masa instar. Instar pertama dimulai saat larva menetas dari telur hingga pergantian kulit yang pertama. Lama siklus atau stadium larva keseluruhan sekitar 48 – 63 hari (Adria dan Idris, 1996). Instar pertama berlangsung selama 4-5 hari, instar kedua sampai instar keempat juga memiliki masa yang hampir sama dengan instar pertama yaitu masing-masing selama 4-5 hari, instar kelima berlangsung selama 6-8 hari dan instar keenam berlangsung selama 8-10 hari. Tubuh larva berwarna kehijauan ditutupi tepung putih, bagian punggung terdapat tonjolan putih dan segmen badan agak panjang (Awan, 2007). Instar pertama memiliki ciri-ciri, kepala berwarna hitam dengan bagian dorsal scolus berwarna kuning pucat tanpa serbuk putih dan bagian ventral larva hitam kehijauan. Instar kedua memiliki ciri-ciri, scolus ditutupi oleh serbuk putih, kepala berwarna kecoklatan, dan bagian ventral larva masih berwarna hijau gelap.

Tahapan Instar: Gambar Larva Instar 1-6 (Baskoro, 2008).

Instar ketiga memiliki ciri-ciri hampir sama dengan instar kedua, hanya saja ukuran tubuh lebih besar dan panjang, bubuk putih dan bercak merah di bagian lateral segmen mendominasi warna larva dan kepala berwarna merah kecoklatan. Instar keempat memiliki ciri-ciri, pada awal instar warna bagian dorsal dan ventral larva hijau kebiruan, kepala berwarna kehijauan bercak merah di bagian lateral segmen ketiga, segmen keempat dan segmen kedelapan hingga segmen kesepuluh warnanya memudar menjadi kekuningan dan diakhir instar bagian dorsal tertutupi oleh bubuk putih. Instar kelima memiliki ciri yang hampir sama dengan instar keempat, hal yang membedakan hanya pada ukuran tubuh yang semakin membesar, gemuk dan kokoh. Instar keenam merupakan tahapan terakhir stadium larva. Larva pada instar keenam memiliki ciri-ciri, pada awal instar tubuh berwarna hijau cerah dengan bintik-bintik berwarna hitam di bagian dorsal thoraks dan disekitar anal, gerakan lebih lamban, tubuh gemuk dan kokoh dan aktivitas makan tinggi karena pada tahapan ini larva mengumpulkan cadangan makanan sebanyak-banyaknya sebelum membentuk kokon dan menjadi pupa. Menjelang berakhirnya instar keenam tubuh dominan berwarna putih di bagian dorsal dan hijau kekuningan di bagian ventral dan lateral (Peigler, 1989). Larva menjadi kurang aktif makan dan cenderung bergerak ke sudut-sudut untuk bersiap mengokon (Awan, 2007). Instar keenam diakhiri saat larva mulai merajut kokon untuk selanjutnya memasuki periode pupa. Larva instar keenam membutuhkan waktu paling lama dibandingkan dengan instar lain yang berlangsung 8-10 hari. Hal ini disebabkan pada instar keenam akan memasuki stadium pupa yang secara morfologis dan fisiologis berbeda dengan stadium lainnya. Perubahan stadium larva menjadi pupa dalam metamorposis serangga membutuhkan waktu cukup lama karena terjadinya pertumbuhan dan perubahan dari organ tertentu, terjadinya proses pengumpulan dan cadangan makanan sebagai sumber energi guna mendukung perubahan dari pupa menjadi imago dan berlangsungnya proses sekresi protein sutera. Hampir seluruh rongga tubuh larva instar terakhir dipenuhi oleh kelenjar sutera. Ulat sutera menggunakan sebagian besar pakan yang dikonsumsinya selama stadium larva untuk mensintesis protein sutera cair (Chapman, 1969).

 

Pupa

Larva instar enam yang akan berubah menjadi pupa mulai mengeluarkan cairan sutera yang dilekatkan pada wadah pemeliharaan atau pada daun, yang akan digunakan untuk melekatkan kokon, bagian ini biasanya disebut sebagai floss. Setelah merajut floss, larva akan meneruskan pembuatan kokon pada daun tersebut, bagian inilah yang biasanya digunakan untuk dipintal menjadi benang dan biasa disebut sebagai kulit kokon tanpa floss. Pembentukan kokon ini dilakukan larva hingga terbentuk kokon utuh. Pada bagian ujung dan tepi daun akan dilipat, kemudian dihubungkan dengan serat-serat sutera sehingga akan terbentuk suatu rongga tempat pupa. Bagian kokon yang menghadap ke atas terdapat lubang sebagai tempat keluar imago. Posisi larva sebelum berubah menjadi pupa biasanya dengan kepala di bagian atas, posisi ini akan menguntungkan ketika imago keluar dari kokon. Pupa telah sempurna apabila isi kokon bergeser jika digoyangkan dan terdapat rongga antar isi kokon dengan kokon, sedangkan apabila kokon tidak dapat bergeser berarti isi di dalam kokon masih berbentuk larva (Awan, 2007). Larva instar keenam akan membentuk kokon sesuai dengan ukuran tubuhnya, keberadaan kokon sangat diperlukan untuk menjaga pupa dari gangguan luar. Selain itu kokon berfungsi untuk menjaga agar kondisi luar pupa tetap sesuai dan menjaga dari pengaruh lingkungan buruk yang akan mengganggu perkembangan pupa. Kokon yang terbentuk sempurna berbentuk elips silindris, ujungnya membulat dan pada ujung anteriornya terdapat celah. Kokon berwarna coklat muda, coklat tua hingga coklat keemasan. Kokon yang baru terbentuk masih agak lemah dan agak basah, oleh pengaruh sinar matahari, gerakan angin, lama kelamaan akan lebih kuat dan lebih kering. Tekstur permukaan kokon kesat dan terkadang mengkerut (Peigler, 1989).

Gambar Kokon Attacus atlas(Sumber: Sakinah, 2009_Stadium pupa merupakan stadium yang paling penting dalam perkembangan metamorfosis dari larva menjadi imago. Dalam stadium ini terjadi organogenesis yaitu pembentukan organ-organ imago antara lain pembentukan sayap, kaki, kepala dan struktur reproduksi. Oleh karena itu stadium pupa tidak boleh terganggu agar proses organogenesis berlangsung sempurna. Apabila dalam proses ini terganggu maka akan menyebabkan kegagalan pembentukan organ dan kemungkinan besar akan menyebabkan kematian. Pada stadium ini sudah dapat diketahui jenis kelamin imago, yaitu dengan melihat bentuk dan ukuran calon antena imago. Calon-calon organ yang lain juga sudah dapat terlihat antara lain calon kepala, sayap dan abdomen. Pada saat ini calon organ tersebut masih dalam proses pembentukan organ. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan pupa. Pupa akan berkembang menjadi imago, sedangkan imago betina akan segera bertelur untuk meneruskan generasinya (Awan, 2007).

Gambar Pupa Attacus atlas (Sumber: Sakinah, 2009)

 

Imago

Imago A. Atlas merupakan salah satu ngengat terbesar di dunia, bentangan sayapnya dapat mencapai 20-25 cm (Wikipedia, 2008). Imago A. atlas dapat ditemui sepanjang tahun, tidak hanya pada musim-musim tertentu saja. Attacus atlasmemiliki sifat dimorfisme dimana jantan lebih kecil daripada betina (Peigler, 1989). Ngengat jantan memiliki sayap dengan ujung yang lebih meruncing, sedangkan menurut Borror et al., (1992) ngengat betina memiliki abdomen besar yang berisi telur-telur dan ukuran tubuhnya lebih besar daripada ngengat jantan.   Ngengat betina memiliki panjang antena 17-21 mm dan lebar 3 mm, sedangkan ngengat jantan memiliki panjang antena 23-30 mm dan lebar 10-13 mm (Peigler, 1989). Imago keluar melalui lubang di ujung anterior kokon yang telah terbentuk saat pembuatan kokon. Imago yang baru keluar dari kokon biasanya masih basah oleh suatu cairan yang berwarna putih keruh dan sayap belum terbentuk sempurna.

 

Imago Betina Imago Jantan

Imago yang baru keluar akan segera mencari ranting atau dahan, kemudian menggantung dengan abdomen berada di bawah. Setelah beberapa saat sayapnya akan mulai mengembang. Sayap yang baru mengembang kondisinya masih lemah dan belum dapat digunakan untuk terbang. Sayap akan mengembang sempurna dalam beberapa jam kemudian akan segera mengeras dan cukup kuat digunakan terbang (Peigler, 1989). Siklus hidup A. atlas selengkapnya dapat dilihat pada

 

Gambar Siklus Hidup Attacus atlas (Sumber : Baskoro, 2008 dan Sakinah, 2009)

 

Alat Pengokonan

Alat pengokonan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas kokon dan panjang filamen yang dihasilkan. Materi dan struktur alat pengokonan yang baik akan menghasilkan kokon dan filamen yang baik, sebaliknya materi dan struktur alat pengokonan yang tidak baik akan menghasilkan kokon dan filamen yang tidak baik pula seperti kokon rangkap, kokon kotor dan serat yang mudah putus ketika proses pemintalan (Katsumata, 1964). Alat pengokonan yang baik harus memenuhi kriteria seperti efisien, murah, memudahkan ulat sutera dalam mengokon, mudah dipakai, struktur kuat, floss yang menempel dapat dibuang dengan mudah dan tahan kelembaban tinggi. Alat pengokonan yang digunakan di setiap negara produsen sutera adalah berbeda, rotaryyang terbuat dari karton sangat populer di Jepang, seriframe yang terbuat dari plastik terkenal di Korea sementara di Cina dikenal alat pengokonan dari bambu seperti yang digunakan di India yang disebut chandrike. Materi dan struktur alat pengokonan berpengaruh terhadap kualitas kokon dan benang serta kebutuhan tenagayang diperlukan untuk mengokonkan dan panen kokon (Kaomini, 2002). Berdasarkan bentuk dan struktur, alat pengokonan dapat dibagi menjadi alat pengokonan yang berputar, spiral bambu, bentuk bergelombang dan lain-lain. Bentuk berputar adalah bentuk bersekat yang terbuat dari karton, satu larva mengisi satu tempat dan memanfaatkan sifat alami dari larva matang. Alat pengokonan dapat diisipadat dan dapat meningkatkan kualitas kokon. Bentuk alat pengokonan yang bergelombang dapat terbuat dari bambu, jerami, resin sintetis dan sebagainya. Alat pengokonan ini dapat dibuat sendiri dan dapat dilipat bila tidak digunakan (Budisantoso, 1997). Di Indonesia, alat pengokonan masih menjadi masalah, terutama di Jawa, karena yang banyak dipergunakan sekarang ini adalah seriframe dari Korea yang harganya cukup mahal. Beberapa petani mencoba membuat alat pengokonan sendiri baik dari bahan bambu, kayu maupun modifikasi alat dari plastik dengan mendaur ulang plastik sehingga harganya lebih murah (Budisantoso, 1997). Pengamatan yang dilakukan di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa alat pengokonan dari bambu menghasilkan kokon dengan kualitas yang sama baiknya dengan rotary dari Jepang. Alat pengokonan berupa rotary yang terbuat dari karton menghasilkan persentase kokon yang paling baik (Budisantoso, 1997). Beberapa macam alat pengokonan dapat dilihat pada gambar berikut:  

 

Gambar Alat Pengokonan Ulat Sutera Bombyx mori (1) Seriframe, (2) Rotary, (3) Bilah Kayu, (4) Stik Kayu, (5) Gulungan Tisu, (6) Chandrike(Sumber : Kaomini, 2002)

 

 

Kualitas Kokon Penilaian kualitas kokon dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Penilaian secara kualitatif dilakukan menurut hasil pengamatan secara langsung seperti persentasi kokon cacat, warna kokon dan penampilan kokon. Penilaian kuantitatif dapat dilakukan melalui hasil pengamatan terhadap uji visual yaitu penurunan bobot tubuh saat mengokon, bobot kokon, bobot kulit kokon dan persentase kulit kokon. Karakteristik kokon meliputi warna, struktur dan bentuk kokon. Selain tergantung ras dan jenis ulat suteranya, kualitas kokon dipengaruhi pula oleh keadaan lingkungan, baik saat pemeliharaan maupun saat mengokonkan serta kualitas pakan (JOVC, 1975). Bobot Kokon Segar Kokon merupakan materi yang dibuat oleh ulat sutera pada fase pembentukan pupa (metamorfosa) yang terdiri dari kulit kokon dan pupa. Bobot kokon segar adalah bobot kokon yang tidak lagi mengandung floss. Bobot kokon segar merupakan faktor yang penting dalam hal reeling kokon. Bobot kokon bervariasi sesuai kondisi pemeliharaan dan varietas ulat sutera. Kokon dengan pupa betina biasanya lebih berat daripada kokon dengan pupa jantan (Atmosoedarjo et al., 2000). Rataan bobot kokon segar yang berasal dari larva dengan pemberian pakan daun sirsak adalah 9,46 g (Mulyani, 2008). 

 

Bobot Kulit Kokon

Kulit kokon merupakan materi lapisan serat sutera yang terdiri dari serisin dan fibroin yang berfungsi sebagai pembungkus pupa. Bobot kulit kokon yaitu bobot kokon tanpa pupa. Jika bobot kulit kokon besar, berarti banyak mengandung benang sehingga baik untuk bahan pemintalan karena benangnya lebih panjang dan lebih berat (Atmosoedarjo et al., 2000). Bobot kulit kokon utuh A. atlas dari perkebunan teh di daerah Purwakarta yaitu 0,68 g/kokon (Baskoro, 2007). Rataan bobot kulit kokon yang berasal dari ulat sutera dengan pemberian pakan daun sirsak adalah 1,74 g (Mulyani, 2008).

 

Persentase Kulit Kokon

Persentase kulit kokon merupakan perbandingan bobot kulit kokon dan bobot kokon. Nilai ini berkaitan dengan persentase filamen kokon. Semakin besar persentase kulit kokon maka semakin banyak filamen dan benang sutera yang dihasilkan (Atmosoedarjo et al., 2000).    

 

 

 

Dikutip dari Journal IPB (Institut Pertanian Bogor) repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/…/5/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:8vBM_h33uyEJ:repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/60062/5/BAB%2520II%2520Tinjauan%2520Pustaka.pdf+&cd=2&hl=id&ct=clnk           

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *