Serangkai Cerita Secangkir Kopi Tuni

Artikel
Serangkai Cerita Secangkir Kopi Tuni
Kehutanan, Pertanian
471
6 April 2022
Kehutanan
Penulis
baqum_sw
1
posting

Secangkir kopi biasanya selalu diseduh dengan rangkaian cerita. Begitu juga saat menyeduh Kopi Tuni, mesti ada cerita yang menemani saat menikmatinya. Terlebih kopi ini belum terlalu dikenal luas oleh masyarakat Maluku sendiri. Entah mungkin karena di Maluku komoditas Cengkeh dan Pala lebih menjanjikan karena sudah menjadi primadona sejak dulu dan pasar yang sudah terbentuk.

 

Kopi Tuni termasuk dalam varian single origin atau kopi khas pada suatu daerah tertentu. Kopi ini memiliki perbedaan yang menonjol dibandingkan dengan varian robusta, arabica dan liberica. Bahkan, sampel biji kopi di pelbagai desa di Maluku memiliki perbedaan pada bentuk fisik, rasa dan cara pengelolaan. Kopi Tuni mulai tumbuh pada ketinggian 1 mpdl, sebuah diversitas sendiri disaat varian kopi lainnya tumbuh pada ketinggian >400 mpdl. Biji Kopi Tuni secara fisik tergolong kecil, gambaran ukurannya seperti satu biji kacang yang sudah terbagi dua. Kopi ini tumbuh liar diantara tanaman jangka panjang atau tumbuh pada sistem pertanian berbasis agroforestry.

 

Paradigma masyarakat berdasarkan observasi penulis pada salah satu koperasi yang fokus pada komoditas Kopi Tuni disebut bahwa, masyarakat lokal pada umumnya hanya mengonsumsi kopi ketika sedang sakit. Kopi hanya dijadikan masyarakat sebagai obat-obatan herbal. Hanya sebagain kecil daerah yang petaninya sudah menanam, memanen dan menjualnya ke pasar. Harga biji kopi yang dijual petani senilai Rp. 30.000 /Kg green bean. Namun, pandangan masyarakat terkait Kopi Tuni sebagai obat-obatan tidak diragukan. Pasalnya Kopi Tuni sangat ramah terhadap pengidap asam lambung bahkan bisa meredakan asam lambung karena sifatnya yang basa. Kopi ini bahkan tidak memicu debaran jantung. Bahkan dalam fase pertumbuhan hingga berbuah, kopi ini tidak mendapat sentuhan pupuk apalagi pestisida. Ke-alamian itulah yang justru bisa berdampak baik pada tubuh manusia saat dikonsumsi.

Cita rasa kopi ini bergantung pada tumbuhan-tumbuhan disekitarnya. Kopi akan terasa seperti kenari apabila tumbuh disekitar tanaman kenari. Karakteristik inilah yang menjadikan Kopi Tuni terbilang sangat natural, karena tumbuh pada sistem pertanian tumpang sari bukan monokultur. Oleh karenanya kopi ini tidak disarankan dibuat dalam bentuk espresso karena disinyalir akan menghilangkan cita rasanya.

 

Cerita mengenai Kopi Tuni tidak hanya sampai disini, sebab secangkir Kopi Tuni punya cerita yang berbeda-beda pada setiap Negeri/Desa di Maluku. Sampai saat ini, diketahui hanya dua warung kopi yang menyajikan seduhan Kopi Tuni di Kota Ambon. Disisi lain, nama ilmiah dari Kopi Tuni ini belum ada. Bahkan, naskah akademik tentang Kopi Tuni tidak ditemukan, ataupun kalau ada masih sangat sedikit yang menulisnya. Sejauh ini penulis belum menemukan naskah akademik yang sah mengenai kopi khas Maluku tersebut. Dengan adanya ‘Serangkai Cerita Secangkir Kopi Tuni’ di website BW Kehati, penulis mengharapkan Kopi Tuni dapat dikenal secara merata dan bisa menjadi bahan diskusi akademik kedepan.

5
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *