Perahu Ketek yang Masih Bertahan di Sungai Musi

Activity, Ecotourism
Perahu Ketek yang Masih Bertahan di Sungai Musi
18 December 2023
918

Kehadiran jembatan tidak selalu berkah, bagi masyarakat yang hidup mengandalkan transportasi air di Sungai Musi jembatan justru perlahan membuat beberapa serang ketek beralih profesi.

Sore itu belasan perahu ketek bersandar di terminal Sungai Musi, tepatnya di pelataran pasar 16 Ilir Palembang. “Sebelum adanya Jembatan Ampera masyarakat menggunakan perahu ketek untuk menyeberangi Sungai Musi.” Ucap Yusuf [65], warga 5 Ulu, Palembang.

Masyarakat sudah menggunakan perahu sejak zaman Kesultanan Palembang hingga 1960-an untuk menyeberangi Sungai Musi, semenjak dibangunnya Jembatan Ampera pada tahun 1965 masyarakat bisa menyeberangi Sungai Musi dengan berjalan kaki ataupun mengendarai kendaraan beroda.

Yusuf duduk di perahu keteknya sembari menunggu penumpang yang ingin menyeberangi Sungai Musi, dari ongkos 50 rupiah pada tahun 1977 hingga sekarang saya masih aktif menjadi serang ketek ini, dijelaskannya.

Beberapa serang ketek yang masih bertahan adalah masyarakat yang tinggal di pinggiran Sungai Musi. “Menjadi serang ketek ini adalah profesi yang sangat saya syukuri, sebab saya sendiri hanya tamatan SD. Tetapi saya bisa menyekolahkan 5 anak saya dan sudah bekeluarga semua. Berkat perahu ketek ini,” ucap Yusuf.

Sejak tahun 2000-an, penggunaan sepeda motor meningkat pesat di Palembang. Membuat pengguna perahu ketek berkurang. “Pengguna perahu ketek semakin berkurang setelah dibangunnya 2 jembatan, Musi VI pada tahun 2021 dan jembatan Musi IV pada tahun 2019.” Ucap Eliyanto [53], serang ketek.

Dahulu sebelum adanya perahu bermesin atau perahu ketek, masyarakat yang ingin menyeberang Sungai Musi menggunakan perahu tambangan atau perahu jukung yang digerakan menggunakan dayung. “Sisa hidup ini, saya manfaatkan membawa perahu ketek. Saya bersyukur masih sehat untuk bisa jadi serang ketek, sebab teman sebaya saya sudah tidak bisa lagi membawa perahu ketek.” Ucap Yusuf.

Rencananya, pembangunan Jembatan Musi III bertujuan untuk mengurangi beban arus kendaraan yang melintasi Jembatan Ampera Palembang. Jembatan Musi III akan dibangun melintasi kawasan Pulau Kemaro yang menghubungkan Sungai Gerong Pertamina Plaju di Ulu dan sungai Batang Kalidoni. Dikutip dari situs resmi Kementerian PUPR.

 

Semakin tahun pengguna transportasi air semakin berkurang, perahu ketek tidak lagi dianggap sebagai angkutan air. “Sekarang masyarakat menggunakan perahu ketek ini utuk ke Pulau Kemaro, juga menggunakan perahu ketek ini untuk wisata Sungai Musi berbeda dengan dahulu masyarakat menggunakan ini untuk mengangkut barang dagangan, buah dan sayuran dari daerah, ataupun menjadi angkutan menyeberang Sungai Musi.” Ucap Andi [33]

“Semenjak adanya jembatan kami mulai susah untuk mencari uang, pengguna perahu ketek semakin berkurang.” Andi melanjutkan.

Sementara itu. dalam rencana pembangunan Jembatan Musi III, saat ini sudah pada tahap draf kerjasama dengan Pemerintah Cina. Pemerintah Cina akan mengucurkan dana sebesar Rp 5 triliun, dikutip dari situs resmi Kementerian PUPR.

Masyarakat Palembang, diyakini sebelum adanya Kedatuan Sriwijaya sudah menggunakan perahu tradisional seperti sampan, biduk, dan jukung. Yang dahulu geraknya menggunakan dayung, belum menggunakan mesin seperti sekarang.

#perahu #kearifanlokal #sungaimusi, perahu, sungaimusi
About Author
Mahesa Putra
Individu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2024-05-07
Difference:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *