Napak Tilas Ekspedisi Maritim Lawalata IPB University

Artikel
Napak Tilas Ekspedisi Maritim Lawalata IPB University
Aktivitas, Ekowisata, Flora, Kehutanan, Kelautan, Lain-lain, Satwa
80
8 September 2020
IPB University
Penulis
Ziadatunnisa Ilmi Latifa
2
posting

Sejak tahun 2017 Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Lawalata IPB mulai menggagas kajian pesisir yang menjadi topik utama permasalahan untuk dijadikan latar belakang berekspedisi. Gagasan terkait ekspedisi maritim pertama kali lahir dari sebuah pemikiran anggota yang kala itu menjadi pengurus Lawalata IPB periode 2017/2018, beliau adalah Fikrunnia Adi Prasojo (L-371). Gagasan ini disambut baik dan terbukti sukses dibawah komando Adi dan tim dalam ekspedisi maritim perdana Lawalata IPB.

Pada Agustus 2017 Lampung Timur menjadi saksi berlangsungnya ekspedisi arahan kapten Adi yang saat itu juga menjabat selaku ketua pelaksana Ekspedisi Pesisir Lampung Timur. Ekspedisi tersebut berlokasi di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur dengan total anggota sebanyak 12 orang. Tema yang diambil dalam ekspedisi maritim perdana Lawalata IPB yaitu ekosistem mangrove dan keterkaitannya dengan masyarakat pesisir khususnya potensi wisata bahari dan pengelolaan berkelanjutan. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi banyak pihak seperti pemerintah daerah, masyarakat, maupun penggiat lingkungan.

Ekspedisi Pesisir Lampung Timur merupakan bukti pertama sejarah kontribusi Lawalata IPB terhadap riset perairan umum Indonesia. Dimana pada ekspedisi ini data primer yang diambil meliputi data mangrove beserta biota yang hidup disekitarnya (udang, ikan, burung, dll.), data oseanografi (pasang surut), juga data sosial ekonomi masyarakat. Dengan adanya ekspedisi maritim perdana Lawalata, timbul semangat-semangat baru yang mendasari keberlanjutan ekspedisi maritim selanjutnya, yakni Ekspedisi Teluk Balikpapan 2018 dan Ekspedisi Putri Bahari 2019.

Ekspedisi Teluk Balikpapan pada Agustus 2018 silam mengambil isu yang hangat pada masanya. Tumpahan minyak yang terjadi di perairan Teluk Balikpapan mengakibatkan kerusakan lingkungan terutama pada ekosistem padang lamun. Ekspedisi maritim kedua dibawah komando Rendra Kurniawan (L-365) dan berkolaborasi dengan banyak pihak, seperti FWI (Forest Watch Indonesia), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Indonesia), hingga KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan). Poin penting dari riset pada ekspedisi ini adalah ancaman terhadap populasi dugong (Dugon dugon) di Teluk Balikpapan yang disebabkan oleh pembukaan areal mangrove dan formasi hutan pantai. Lokasi pengamatan dugong berada di Kariangau, Pulau Balang, Pulau Kwangan, Jenebora, Pantai Longo, dan Berenga di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain menghitung kepadatan lamun sebagai pakan utama dugong, tim ekspedisi juga menganalisis hubungan antara maasyarakat sekitar dengan eksistensi dugong.

Selanjutnya pada tahun 2019, Lawalata IPB kembali menggagas ekspedisi dengan kajian bahari. Sebuah ekspedisi yang mengangkat tema bencana alam dan lingkungan, Ekspedisi Putri Bahari. Kesempatan langka bagi lima perempuan pemberani Lawalata IPB yang dikepalai oleh Indriani Widya Wati (L-397) untuk berekspedisi di inti hati Pulau Sulawesi, Palu Sulawesi Tengah. Dengan dibantu oleh banyak pihak, ekspedisi ini dapat berjalan sukses. Kajian mangrove menjadi fokus utama dalam ekspedisi ini, namun kegiatan tim lebih dari sekedar menganalisis kawasan mangrove semata. Kegiatan mengajar di sekolah dasar terdampak tsunami, kegiatan menanam bibit mangrove disepanjang pantai bersama pecinta lingkungan dan para pihak yang bersangkutan se-Sulawesi Tengah menjadi sebuah kegiatan yang tidak kalah pentingnya bagi tim ekspedisi saat itu.

3
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *