MS Sembiring: Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan

Artikel
MS Sembiring: Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan
Lain-lain
1750
22 Juli 2014
Biodiversity Warriors
Penulis
Admin BW
932
posting

Sumber: http://www.beritasatu.com/

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk peduli terhadap lingkungan hidup. Melalui program “Biodiversity Warriors”, MS Sembiring mengajak anak muda seluruh Indonesia peduli kepada keanekaragaman hayati yang tersebar di negeri ini. Apalagi, Indonesia masuk tiga besar sebagai negara yang paling kaya keanekaragaman hayatinya bersama Brasil dan Kongo.

“Sayang, selama ini, kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada hal itu, sehingga nilai tangibility-nya belum dirasakan masyarakat. Kalau sekarang kekayaan itu tidak disosialisasikan, bagaimana ke depan?” ujar MS Sembiring dalam bincang-bincang di kantornya, kawasan Bangka, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Dia memaparkan, salah satu kebijakan yang tidak memihak keanekaragaman hayati Indonesia adalah kebijakan di bidang tambang dan sawit, yang justru mengokupasi lahan tanpa menghitung kerusakan keanekaragaman hayati yang timbul. Akibatnya, orang utan dan gajah jadi berkonflik dengan manusia.

“Ini karena pembangunan yang tak bersahabat dengan alam. Padahal kan, ada prinsip-prinsip menambang dan menanam sawit yang baik. Hal ini menjadi dasar kami untuk mengajak anak muda sejak dini memahami dan mencintai keanekaragaman hayati melalui program ‘Biodiversity Warriors’,” paparnya.

Program “Biodiversity Warriors” resmi diluncurkan pada 17 Juni 2014. Program tersebut berbentuk website interaktif yang dapat diakses dengan mudah melalui www.biodiversitywarriors.org.

Kegiatan yang dapat dilakukan mencakup pertukaran informasi tentang keanekaragaman hayati Indonesia. Informasi yang disampaikan memuat berbagai sisi informasi berguna, baik dari sisi keunikan, statusnya (langka atau dilindungi), hingga manfaat keanekaragaman hayati bagi kehidupan.

“Misalnya, ada anak muda di Papua menemukan burung cendrawasih yang langka. Nah, dia dapat mengunggah temuannya itu di website atau mengajak anak muda lain untuk melindungi habitat cendrawasih tersebut supaya tidak punah,” jelas Sembiring, yang menargetkan anak muda usia 17-30 tahun dalam program itu.

Saat diluncurkan, Kehati melibatkan 25 mahasiswa jurusan biologi dari lima perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia, IPB, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri, dan Universitas Nasional (Unas). Tahun pertama, berkisar 500-1.000 anak muda ditargetkan bisa bergabung.

“Harapannya, mereka bisa paham, jatuh cinta, memunculkan teknologi atau inovasi yang membuat nilai tambah pada keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan masyarakat. Ketika mereka dewasa bisa menjadi pembuat kebijakan yang berpihak kepada keanekaragaman hayati,” harap Sembiring.

Setelah program tersebut mandiri, dia berharap, Kehati dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan anak muda yang mencoba memberikan nilai tambah pada keanekaragaman hayati dengan industri.

Ekonomi Hijau
Sebelum bergabung dengan Yayasan Kehati, MS Sembiring berkarier di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan jabatan terakhir sebagai direktur perdagangan saham, penelitian, dan pengembangan usaha pada 2009. Di situlah menariknya sisi lain dari MS Sembiring.

Dia berusaha menjembatani antara bisnis perusahaan yang tercatat di BEI (emiten) dengan kepedulian kepada lingkungan hidup (ekonomi hijau) melalui Indeks SRI Kehati yang diluncurkan BEI dan Yayasan Kehati pada 2009. “Ini adalah sisi lain bentuk kepedulian saya kepada lingkungan hidup,” ujarnya.

SRI (Social Responsible Investment) Kehati merupakan indeks harga saham untuk memberikan tambahan pedoman investasi bagi pemodal yang secara khusus memuat kinerja harga saham emiten yang memiliki kinerja sangat baik dalam mendorong usaha-usaha berkelanjutan berdasarkan pada kepedulian lingkungan.

“Saat ini, dari 450-an emiten di BEI, ada 150 yang masuk Indeks SRI Kehati. Tapi, hanya 25 emiten yang terbaik di Indeks SRI Kehati,” ungkap Sembiring.

Menurut dia, Indeks SRI Kehati saat ini lebih baik sekitar 10 persen daripada indeks lainnya. Artinya, masyarakat menghargai 10 persen lebih baik perusahaan yang masuk ke dalam indeks tersebut dibandingkan yang lainnya.

“Dengan Indeks SRI Kehati, kami berharap masyarakat tidak hanya investasi dengan membeli saham-saham yang blue chips, tetapi juga berpikir tentang pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan,” tutup Sembiring.

 

Penulis: NAN/AB

Sumber:Investor Daily

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *