Mengulik Potensi Biodiversitas Kopi Varietas Lokal Gunung Karang di Hutan Kopi Lawang Taji Kabupaten Pandeglang

Flora, Tumbuhan
Mengulik Potensi Biodiversitas Kopi Varietas Lokal Gunung Karang di Hutan Kopi Lawang Taji Kabupaten Pandeglang
21 Juni 2024
175

Kelompok Lingkungan Robusta Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang beranggotakan tiga orang tertarik untuk mengkaji potensi keberagaman kopi di wilayah Gunung Karang. Penelusuran dilakukan di Hutan Kopi Lawang Taji atau masyarakat lebih mengenalnya dengan Leumbur Kopi,  yang sebenarnya sudah dimulai dari tanggal 4 April 2024. Ketertarikan kelompok ini diterima dengan hangat oleh pengelola kelompok tani setempat salah satunya Bapak Maman.

Sebelum diadakan penelusuran, kami sudah mendapatkan materi mengenai jenis-jenis kopi  melalui mata kuliah ekologi hutan tropis. Pemahaman ini diajarkan lebih mendalam saat penelusuran berlangsung, yang meliputi jenis kopi berdasarkan habitat, morfologi, cita rasa dari berbagai jenis dan analisis biotik maupun abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan kopi.

Kami selain melakukan penelusuran, dikenalkan pula cara menanam kopi dan dijelaskan proses pembenihan kopi mulai dari kecambah biji hingga menjadi bibit siap tanam. Diketahui masa perkecambahan kopi berlangsung selama 2-3 minggu untuk selanjutnya dapat ditanam di media tanah. Proses ini berlangsung cukup lama mengingat dari segi morfologi buah kopi yang memiliki banyak lapisan kulit dan untuk air sampai pada bijinya harus melewati kulit biji kopi yang cukup keras. Hasil penelusuran diketahui bahwa jenis kopi yang dapat tumbuh di Hutan Kopi Lawang Taji ini diantaranya Robusta Menhir, Robusta Menir (Meneer), Arabika (Arobusta), Liberika, Purpurachen, dan Excelsa. "Robusta Menhir dan Robusta Menir (Meneer) itu beda " Ucap Pak Maman. Perbedaan ini dapat kami lihat secara langsung dari morfologi buahnya, dengan ukuran Robusta Menhir lebih besar dan warnanya cenderung merah cerah sedangkan Robusta Menir (Meneer) memiliki ukuran yang lebih kecil dan warnanya merah lebih gelap.

Terdapat keunikan yang ditemukan dari pertumbuhan kopi di Lawang Taji ini, yaitu terdapat kopi yang mampu tumbuh diantara bebatuan yang besar. Kopi ini berjenis Robusta Menir (Meneer), inilah yang menjadi alasan kopi jenis ini memiliki morfologi buah yang kecil dan cenderung gelap karena air yang masuk ke dalam pohon ini terhalangi oleh bebatuan yang besar. Penelusuran dilanjutkan sampai tahap melihat proses pengolahan kopi, diketahui Kopi Robusta Menir (Meneer) ini merupakan varietas lokal salah satunya karena berasal dari pohon kopi  yang berusia ratusan  tahun.

Pada proses pengolahan kopi terdapat cara yang cukup menarik yaiti proses pemisahan biji dan buahnya dibantu oleh hewan yaitu kelelawar dan akan menghasilkan cita rasa yang berbeda ketika pemisahan dilakukan oleh manusia. Rasa kopi dominan pahit namun terdapat rasa asam disertai aroma buah yang segar. Kopi hasil proses pemisahan yang dibantu oleh kelelawar ini, masyarakat lokal menyebutnya kopi leupeh lalay atau ludah kelelawar. Penelusuran yang kami lakukan ini memang berawal dari ketertarikan mengingat besarnya potensi kopi di Kabupaten Pandeglang ini, namun semoga setelahnya dapat dilanjtkan guna mempertahankan kopi lokal agar terus lestari!

biodiversitas, gunung karang, kopi
Tentang Penulis
azizah00

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *