Mengenal Selaginella doederleinii Hieron, Tumbuhan Obat yang Melimpah di Kawasan Turgo

Artikel
Mengenal Selaginella doederleinii Hieron, Tumbuhan Obat yang Melimpah di Kawasan Turgo
Flora, Kehutanan, Lain-lain
385
3 Oktober 2022
UIN SUNAN KALIJAGA
Penulis
Salma Nabilah Safirahaq
1
posting

Hi Warriors! Sahabat pasti tahu bahwa Indonesia merupakan negara yang
kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Keberagaman jenis tumbuhan di
Indonesia ini menjadikan Indonesia sebagai peringkat kedua negara dengan
kekayaan alam terbesar di dunia. Salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki kekayaan jenis tumbuhan yang melimpah adalah Kawasan Turgo. Secara
administratif, Kawasan ini terletak di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun,
Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Kawasan Turgo merupakan salah satu kawasan yang berpotensi menjadi
area wisata botani (biotourism) karena memiliki keanekaragaman tumbuhan pangan
dan obat yang melimpah. Berdasarkan penelitian berjudul “Diversity of Edible
Flora and Biotourism Potential Development of Botany Adventure in Turgo, Mount
Merapi National Park Yogyakarta
” dilaporkan bahwa terdapat puluhan spesies
tumbuhan pangan yang ditemukan di sepanjang dua garis tracking penelitian.
Tumbuhan yang ditemukan tersebut selain sebagai tumbuhan pangan, tetapi juga
berpotensi sebagai tumbuhan obat dan makanan hewan. Banyaknya jenis tumbuhan
pangan maupun obat yang ditemukan di Kawasan Turgo menunjukkan bahwa
keanekaragaman flora di sana masih terjaga.

Aktivitas masyarakat di Dusun Turgo tidak lepas dari hasil alam yang
tersedia di pekarangan rumah, kebun, hutan, dan juga Bukit Turgo. Mereka masih
memanfaatkan sumber daya hutan seperti air, rumput untuk pakan ternak, serta kayu
bakar untuk memasak. Sejak dahulu, masyarakat Dusun Turgo telah memanfaatkan
tumbuhan sebagai bahan pengobatan berbagai macam penyakit. Namun, pada
zaman sekarang tak banyak masyarakat yang masih memanfaatkan tumbuhan obat
tersebut. Saat ini, hanya orang-orang tertentu saja khususnya orang tua yang masih
melestarikan dan menggunakan obat tradisional. Oleh karena itu, tim dari
Biofarmaka Warrior tertarik untuk melakukan penelitian di Kawasan Turgo untuk
mendata manfaat tumbuhan obat yang berpotensi sebagai etnomedisin dan
mengajak masyarakat sekitar untuk memanfaatkan tumbuhan obat kembali.

Selama melakukan pengambilan data di Kawasan Turgo, tim Biofarmaka
Warrior menjumpai berbagai jenis tumbuhan obat. Beberapa tumbuhan obat yang
ditemui tim Biofarmaka Warrior diantaranya adalah Sidaguri (Sida rhombifollia),
Pegagan (Centella asiatica), Tempuh wiyang (Emilia sonchifolia), Pecut Kuda
(Stachytarpheta jamaicensis), Sambung Otot (Epiphyllum sp.), dan Binahong
(Anredera cordifolia). Diantara banyaknya spesies tumbuhan obat yang dijumpai,
terdapat satu spesies yang jumlahnya melimpah dan persebarannya hampir merata
di setiap jalur penelitian. Tumbuhan tersebut adalah Selaginella doederleinii Hieron
atau dalam bahasa Jawa sering disebut tumbuhan Cakar Ayam.

Gambar 1. Proses Pengambilan Data
Gambar 1. Proses Pengambilan Data
Gambar 2. Proses Pengambilan Data
Gambar 2. Proses Pengambilan Data

Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron) termasuk dalam Genus Selaginella, Famili Selaginellace, Ordo Selaginellales, Kelas Lycopodiinae, dan Divisio Pteridophyta. Tumbuhan ini termasuk dalam habitus terna, merayap, dan sedikit tegak. Daunnya kecil-kecil berbentuk jorong, ujung meruncing, pangkal rata, warna daun bagian atas hijau tua dan bagian bawah hijau muda. Daun tersusun di kiri kanan batang induk sampai ke percabangannya yang menyerupai cakar ayam dengan sisik-sisiknya. Batangnya bulat dan bercabang-cabang menggarpu tanpa pertumbuhan sekunder dan warna putih kecoklatan. Memiliki sporangium yang tereduksi di ketiak daun dan berwarna putih. Tumbuhan cakar ayam ini memiliki akar serabut berwarna coklat kehitaman (Hutapea, 1999).

Gambar 3. Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron)
Gambar 3. Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron)

Cakar ayam dikenal juga dengan nama rumput solo atau cemara kipas gunung. Tumbuhan paku ini memiliki kandungan kimia yang bermanfaat bagi manusia. Sudah cukup banyak penelitian mengenai efek farmakologi Selaginella doederleinii Hieron. Beberapa studi farmakologi yang sudah dikaji menunjukkan bahwa Cakar Ayam memiliki manfaat sebagai antipiretik (penurun panas), antioksidan, antitumor, antikanker, antibakteri, antivirus, hemostatik (menghentikan pendarahan), antioedem (anti bengkak), pembersih darah, dan stomakikum (Ngibad, 2018; Kusumastuti, 2012) . Manfaat lain dari Tumbuhan cakar ayam adalah bisa mengatasi batuk, infeksi saluran pernapasan, radang paru, hepatitis, diare, keputihan, dan tulang patah (Dalimarta, 1999).
Tumbuhan Cakar Ayam mengandung alkaloid, sponin, dan phytosterol. Ekstrak etanolik dari Cakar Ayam mengandung lima komponen lignans yaitu lirioresinol A, lirioresinol B, wikstromol, nortrachelodide, dan matairesinol. Selain itu, Selaginella doederleinii Hieron juga mengandung dua komponen fenilpropanon, yaitu 3-hidroksi dan 4-biflavonoid (Lin et al., 1994). Terdapat enam kandungan Tumbuhan Cakar Ayam yang memiliki target senyawa aktif sebagai antioksidan, yaitu luteolin, rutin, caffeic acid, ginkgetin, mentoflavone, dan vitexin. Keenam senyawa target ini memiliki profil toksisitas senyawa aktif yang berbeda (Mahmudah, 2019).

Untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari tumbuhan Cakar Ayam, kita dapat mengolahnya terlebih dahulu menjadi jamu. Pertama-tama, siapkan 15-30 gram (1 genggam) tumbuhan Cakar Ayam yang telah dikeringkan (untuk pengobatan kanker sebanyak 50-100 gram (1 ½ genggam)). Setelah itu, rebus Cakar Ayam kering ke dalam lima gelas air dengan api kecil selama 3-4 jam. Setelah mendidih, tunggu jamu hingga dingin. Setelah dingin, minum jamu tersebut beberapa kali dalam sehari sampai habis.

Selain diolah menjadi jamu, tumbuhan Cakar Ayam juga dapat dimanfaatkan langsung setelah di petik dari alam. Cakar Ayam yang masih segar tersebut dapat digunakan untuk pengobatan rematik, koreng, tulang patah, dan luka berdarah. Caranya yaitu dengan menggiling herba segar (Selaginella doederleinii Hieron), kemudian tempelkan hasil gilingan tersebut ke bagian tubuh yang sakit (Anonim, 2012).

Begitu banyak manfaat yang terkandung dalam Selaginella doederleinii Hieron atau Cakar Ayam untuk kesehatan manusia. Melimpahnya jumlah tumbuhan herba ini di Bukit Turgo alangkah baiknya dibarengi dengan pemanfaatannya yang masif. Masyarakat di Dusun Turgo sebaiknya juga mulai kembali memanfaatkan berbagai tumbuhan obat terutama tumbuhan Cakar Ayam yang tersebar di Kawasan Turgo.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyah, D. C. (2014). Kajian Etnobotani Tanaman Obat (Herbal) dan Pemanfaatannya dalam Usaha Menunjang Kesehatan Keluarga di Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Yogyakarta, Indonesia.

Hamidah, S., Purwanto, & Sutanto. (2020). Pengembangan Tanaman Parijoto Untuk Mendukung Ekowisata Dusun Tirgo Desa Purwobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman. (pp. 298-305). Yogyakarta: Fakutas Pertanian UPN “Veteran” .

Hildasari, N., & Hayati, A. (2021). Potensi Keanekaragaman Flora Sebagai Tumbuhan Obat di Wana Wiyata Widya Karya, Sanggar Indonesia Hijau, Kabupaten Pasuruan. Sciscitatio, II(2), 74-81.

Kusumastuti, D. (2012). Pembuatan Jamu Serbuk dari Daun Tanaman Cakar Ayam (Selaginella deoderleinii Hieron) di Perusahaan Jamu Dayang Sumbi, Desa Sambilawang, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Mojokerto. Surakarta, Indonesia.

Mahmudah, A. (2019). Potensi Antioksidan Ekstrak Paku Cakar Ayam (Selaginella doederleinii H.) Berbasis In Silico sebagai Bahan Pengembangan Sumber Belajar SMA. Kediri, Indonesia.

Mukti, L. P., Sudarsono, & Sulistyono. (2016). Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat dan Pemanfaatannya di Hutan Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Jurnal Biologi, V(5), 9-19.

Ngibad, K. (2018). Kandungan Senyawa Kimia dan Bioaktivitas dari Selaginella doederleinii Hieron. 1-6.

Pertanian, B. P. (2012). Ayo Mengenal Tanaman Obat. Jakarta: IAARD Press.
Tamam, M. B., Ramadani, H. A.,

Santoso, H., & Al Yamini, T. H. (2020). Diversity of Edible Flora and Biotourism Potential Developmwnt of Botany Adventure in Turgo, Mount Merapi National Park Yogyakarta. Jurnal Biota, VI(2), 71-77.

5
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *