Laba-laba Jaring Bola Emas (Nephila pilipes) : Si Besar Nan Cantik Yang Kaya Akan Berbagai Manfaat.

Artikel
Laba-laba Jaring Bola Emas (Nephila pilipes) : Si Besar Nan Cantik Yang Kaya Akan Berbagai Manfaat.
Satwa
248
13 Juli 2021
Universitas Andalas
Penulis
Al Amin Sidiq
1
posting

Sejauh mana sih kalian mengenal hewan yang bernama laba-laba jenis Nephila pilipes dan apakah kalian mengetahui manfaat dari laba laba ?

Sebelum kita mengenal dan membahas laba-laba Nephila pilipes, mari kita bahas terlebih dahulu apa sih laba-laba itu?

Laba-laba merupakan hewan yang paling sering kita temui di berbagai tempat dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Menurut Ridwan et al. (1995), laba-laba terdapat di seluruh dunia dan menempati seluruh lingkungan ekologi kecuali di udara dan laut terbuka. Hingga saat ini di dunia sekitar 43.678 spesies laba-laba telah diidentifikasi dan digolongkan ke dalam 111 suku dan 3600 genus. Pada daerah pertanaman padi di Asia Selatan dan Asia Tenggara sebanyak 342 spesies dalam 131 genus dan 26 famili telah di identifikasi. Akan tetapi mengingat bahwa hewan ini begitu beragam, banyak diantaranya yang bertubuh amat kecil, seringkali tersembunyi di alam, dan bahkan banyak spesimen di museum yang belum terdeskripsi dengan baik, diyakini bahwa kemungkinan ragam jenis laba-laba seluruhnya dapat di dunia dapat mencapai 200.000 spesies (Roni, 2016). Kebanyakan laba-laba berukuran kecil (panjang tubuh 2-10 mm), beberapa di antaranya berukuran cukup besar seperti tarantula (panjang tubuh 80-90 mm). Laba-laba jantan selalu lebih kecil dari pada laba-laba betina dan mempunyai siklus hidup yang lebih pendek. Semua laba-laba bersifat karnivora, banyak di antaranya membuat jaring dan ada pula yang memburu mangsanya di tanah. Serangga merupakan mangsa utamanya, di samping Arthropoda lain. Secara umum dikenal ada dua kelompok laba-laba, yaitu laba-laba non jaring dan pembuat jaring (Foelix, 1996). Laba-laba non jaring umumnya hidup di tanah dan pepohonan serta mendapatkan mangsanya dengan cara berburu, sedangkan laba-laba pembuat jaring membuat perangkap dari serat di antara ranting-ranting pohon untuk menjebak mangsa. Sedangkan menurut Roni (2016), Berdasarkan pemiilihan habitat dan perilaku mencari makan, laba-laba dikelompokkan ke dalam tiga kelompok fungsional utama: (1) laba-laba pemburu di tanah (ground wanderes), (2) pemburu di tanaman (plant wanderes), dan (3) pembuat jaring (web builders).

Laba-laba Nephila pilipes merupakan salah satu jenis laba laba terbesar dan dikenal di Indonesia dengan nama laba-laba penenun, laba-laba penenun bola emas, laba laba jaring bola emas dan Kemlandingan (bahasa Jawa). Laba-laba Nephila pilipes termasuk ke dalam famili Nephilidae yang merupakan family laba-laba pembuat jaring berbentuk bola seperti Famili Araneidae tetapi dalam ukuran yang lebih besar. Panjang tubuh sekitar 1-1.5 inci dan memiliki 8 mata yang berukuran kecil dan tersusun dalam 2 baris (Roni , 2016). Menurut Nur Fiqhia (2018) dari IAIN Jember yang menyebutkan bahwa jenis Laba-laba penenun (Nephila pilipes) memiliki hubungan sister atau hubungan lebih dekat dengan udang laut (Penaeus sp.) karena bagian tubuhnya hanya terdiri dari dua bagian yaitu chepalothorax dan abdomen. Hanya saja udang laut (Penaeus sp.) adalah spesies yang lebih dulu ada atau lebih sederhana dari pada Laba-laba penenun (Nephila pilipes). Karakter morfologi yang dimiliki oleh udang laut (Penaeus sp.) yaitu warna tubuh putih kemerahan, simetri tubuh bilateral, memiliki 6 pasang kaki jalan (pereopods) dan memiliki 5 pasang kaki renang (pleopods), dan memiliki sepasang antena. Karakter morfologi inilah yang menjadi karakter khusus yang hanya dimiliki oleh udang laut.

Menurut Nur Fiqhia (2018), Klarifikasi laba-laba Nephila pilipes adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Arachnida

Ordo : Araneae

Famili : Araneidae

Genus : Nephila

Spesies : Nephila pilipes

Dan karakter Morfologi Nephila pilipes yaitu :

–  Memiliki 2 bagian tubuh: chepalothorax dan abdomen

–  Memiliki 4 pasang kaki

–  Warna tubuh hitam dengan bintik kuning

–  Simetri tubuh bilateral

–  Memiliki mata lebih dari 2

–  Memiliki sepasang palpus bukan antena

–  Memiliki spiner (pembuat jaring).

Laba-laba Nephila sp. betina memiliki panjang tubuh 3-5 cm, dari ujung kaki depan sampai kaki belakang kurang lebih 20 cm, sedangkan panjang jantan hanya sekitar 3-5 mm. Tempat hidupnya di hutan, pohon-pohon, dan mangrove. Daerah sebarannya di kawasan tropis Afrika, India, Cina, Asia Tenggara, Australia utara, dan kepulauan Pasifik utara. Makanan utamanya adalah serangga yang terperangkap dalam jaring (Tan, 2001).

Racun Nephila sp. tidak berbahaya bagi manusia dan jarang menggigit meskipun disentuh dan dirusak jaringnya. Apabila menggigit hanya meninggalkan luka goresan di kulit. Laba-laba ini lambat apabila berjalan di atas tanah. Cara kerja racun laba-laba adalah melemahkan (efek primer) kemudian mematikan (efek sekunder) (Foelix, 1996). Racun laba-laba bersifat neurotoksin dan nekrotoksin. Neurotoksin menggangu penjalaran impuls saraf pada saluran ion (ion channels) dan sinaps, sedangkan nekrotoksin bekerja pada reaksi yang sistematik misalnya pada ginjal dan darah (Ori dan Ikeda, 1998). Racun laba-laba yang bersifat neurotoksin lebih banyak dibandingkan nekrotoksin. Yosioka et al. (1997) menduga bahwa racun laba-laba mengandung penghambat neuron; penghambat tersebut berisi glutamat sebagai transmitor dan menimbulkan efek paralisis pada serangga, yakni kondisi tidak dapat bergerak (lumpuh) akibat terganggunya sistem saraf serangga.

Laba-laba jenis Nephila pilipes mempunyai berbagai manfaat dalam kehidupan. Peran laba-laba disuatu ekosistem sangat beragam, antara lain: sebagai predator dari Collembola, semut, kelompok laba-laba sendiri, dan Arthropoda lainnya. Memiliki peran utama untuk membatasi populasi hama serangga serta dalam aneka proses biologis untuk meningkatkan kesuburan tanah (Janetos dalam Anonim, 2004 : 84) dan racun yang dihasilkan laba-laba Nephila pilipes dapat digunakan sebagai Inteksida alami untuk membunuh larva nyamuk yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Menurut Penelitian dari Yayan dan Tina (2006) dari Universitas Pendidikan Indonesia yang menyebutkan bahwa toksisitas racun laba-laba Nephila sp. terhadap nyamuk Aëdes aegypti menunjukkan makin tinggi perlakuan yang diberikan pada instar, maka makin besar pula kematian larva nyamuk yang diakibatkannya. Hal yang sama disebutkan juga oleh Gunandini (2002) bahwa hubungan yang erat antara konsentrasi racun laba-laba Nephila sp. dengan mortalitas ini diduga berkaitan dengan beban racun yang terdapat dalam larva serangga. Larva-larva mendapat konsentrasi racun yang tinggi yang berarti bekerjanya lebih cepat dalam menekan aktifitas sistem saraf serangga, selain itu lebih cepat juga dalam memparalisis bahkan mematikan serangga apabila dibandingkan dengan larva-larva yang mendapat perlakuan dengan konsentrasi yang lebih rendah.

Daftar Pustaka

Nur. 2018. Identifikasi Spesimen dari Beberapa Kelas Filum Arthropoda. Tadris Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Jember.

Roni, K. 2016. Biodiversitas Laba-Laba Di Sulawesi Utara. CV. Patra Media Grafindo. Bandung

Sutar. 2012. Keanekaragaman Laba-laba (Arachnida) Pada Ketinggian Tempat Yang Berbeda Di Taman Nasional Gunung Merbabu Kabupaten Boyolali. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tan, R. 2001.Golden Orb Web Spider Nephila maculata. www.naturia.per.sg/buloh/inverts/nephila.htm

Yayan. S dan Tina S. 2006. Toksisitas Racun Laba-laba Nephila sp. pada Larva Aëdes aegypti L. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *