Kekayaan Hayati Masyarakat Hutan Adat Wonosadi: Tumbuhan Pangan

Artikel
Kekayaan Hayati Masyarakat Hutan Adat Wonosadi: Tumbuhan Pangan
Flora, Kehutanan, Pertanian
322
30 November 2021
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Penulis
Bintangjra
1
posting

Hutan Adat Wonosadi merupakan suatu kawasan hutan seluas 25 hektar yang berada di Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Hutan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan merupakan hutan alam yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat adat Wonosadi sejak abad ke lima belas. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulunya hutan yang membentang miring ke selatan 40° – 50° di lereng anak bukit Gunung Gambar ini dikenal dengan nama Wonosandi yang dalam Bahasa Jawa memiliki arti hutan yang penuh rahasia. Berlangsungnya waktu masyarakat lebih familiar menyebutnya dengan nama Wonosadi.

Bagi masyarakat sekitar, Hutan Adat Wonosadi bukanlah hutan biasa. Masyarakat percaya bahwa hutan tersebut dapat membawa kemakmuran dan wajib dijaga kelestariannya. Saat ini masyarakat mengelola kawasan Hutan Adat Wonosadi menjadi dua bagian, yaitu kawasan konservasi dan kawasan keanekaragaman hayati (KEHATI). Kondisi di kawasan konservasi dijaga agar segala sesuatunya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Sedangkan pada kawasan KEHATI boleh dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Salah satu potensi yang ada yaitu tumbuhan pangan. Hutan Adat Wonosadi menyimpan berbagai tumbuhan pangan baik yang mudah ditemukan di tempat lain maupun yang cukup jarang ditemukan di tempat lain. Beberapa jenis buah seperti sawo bludru (Chrysophyllum caimito), mundu (Garcinia dulcis), kepel (Stelechocarpus burahol), kuweni (Mangifera odorata), dan duwet/jamblang (Syzygium cumini) yang jarang ada di pasaran dapat dijumpai di sini. Juga terdapat beragam sumber makanan alternatif seperti porang (Amorphophallus oncophyllus), iles-iles (Amorphophallus variabilis), gayam (Inocarpus fagifer), sukun (Artocarpus altilis), talas (Colocasia esculenta), benguk (Mucuna pruriens), gembili (Dioscorea esculenta), gadung (Dioscorea hispida) dan masih banyak lagi ada di hutan ini.

Gambar 1. Kepel (Stelechocarpus burahol)

Gambar 2. Iles-Iles (Amorphophallus variabilis)

 

Meninjau dari sejarah 61 tahun silam, karena kekayaan hayatinya terutama flora, Hutan Adat Wonosadi pernah menjadi sasaran eksploitasi. Hal tersebut terjadi pada tahun 1960 – 1965 saat terjadi paceklik pangan akibat serangan hama tikus di Kabupaten Gunungkidul. Karena kekurangan pangan, rakyat akhirnya mencari pangan di hutan namun dilakukan secara besar-besaran dan tidak terkontrol. Bukan hanya tumbuhan pangan saja yang dieksploitasi namun juga tumbuhan-tumbuhan lain yang bernilai ekonomi. Akibatnya hutan menjadi gundul dan rusak sehingga diperlukan upaya puluhan tahun untuk memperbaikinya. Namun kini berkat upaya dari berbagai pihak, Hutan Adat Wonosadi telah kembali kepada kondisi awal sebelum dekade 60-an.

Berdasarkan kondisi tersebut, Tim KEHATI Wonosadi yang didukung Yayasan KEHATI melalui Biodiversity Warriors Sponsorship Progam 2021 termin II tertarik melakukan pendataan mengenai tumbuhan pangan yang ada di Kawasan Hutan Adat Wonosadi. Harapan dari kegiatan ini yaitu semakin banyak orang yang mengenal jenis tumbuhan pangan dan memahami peran hutan bagi lingkungan sehingga nantinya baik itu warga lokal, pengelola, dan pengunjung Hutan Adat Wonosadi berpartisipasi menjaga kelestarian hutan dan memanfaatkannya secara bijak.

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *